Kisah mereka yang tertidur di sebuah gua dan terbangun bertahun-tahun kemudian ternyata memiliki banyak variasi, yaitu kisah dari sebelum masehi hingga Islam hadir di muka bumi ini. Bermacam-macamnya kisah tersebut boleh jadi karena realitas yang dikisahkan adalah entitas yang berbeda atau boleh jadi terdapat manipulasi sejarah oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan suatu kelompok atau keyakinan tertentu. Maka, membincangkan Ashabul-Kahfi akan membawa kita pada ruang diskusi yang cukup kompleks.
Ashabul-Kahfi dalam Diskursus Yahudi
Tidak ada referensi Yahudi yang terdeteksi menceritakan kisah masa lalu yang secara leterlek meyebutkan golongan Ashabul-Kahfi sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran. Hal ini berbeda dengan kisah-kisah al-Quran yang lain yang dapat ditemukan mukabalahnya dalam Taurat dan referensi lain yang baru muncul setelah Taurat yang kemudian diinternalisasi oleh kalangan Yahudi dalam kitab keagamaan mereka.
Tidak adanya teks yang menyebutkan kisah Ashabul-Kahfi dalam kitab keagamaan Yahudi, bukan berarti dalam Taurat (orisinil) tidak disebutkan dan bukan berarti kaum Yahudi tidak mengetahui kisah tersebut. Doktor Ahmad Ali al-Majdub dalam bukunya Ahlul-Kahfi fit-Taurât wal-Injîl wal-Quran menyebutkan bahwa latar belakang tidak adanya penyebutan tersebut bertolak pada satu sebab yaitu bahwa para pemuda yang disebut oleh Yahudi Madinah sebagai “Innahum dzahabû fid-dahril-awwal” (Ashabul-Kahfi) adalah golongan Yahudi yang beriman kepada al-Masih Isa bin Maryam sebagai manusia dan utusan Tuhan (bukan Tuhan). Dan itulah yang dikabarkan oleh kitab Taurat (orisinil) melalui lisan nabi-nabi Bani Israil secara berkelanjutan hingga Nabi Yahya bin Zakaria.
Ketika pembesar Yahudi begitu juga kaum Yahudi secara umum mengharapkan nabi yang ditunggu adalah seperti Nabi Musa, Daud, Sulaiman, yakni nabi seorang prajurit atau pejuang, pemimpin politik, mereka akan menaklukkan musuh, menyerang dan memburu, membantai, menyekap perempuan dan merampas harta mereka, sebagaimana hal itu adalah tradisi kaum Bani Israil. Namun kemudian, kaum Yahudi dilanda kekecewaan yang amat besar ketika mereka mendapati nabi baru mereka (al-Masih Isa) mengajak pada perdamaian, cinta, dan toleransi. Syahdan, kaum Yahudi mengejek ajakan itu, dan mendeklarasikan permusuhan, menghardik siapapun yang beriman dan mengikuti Nabi Isa. Kaum Yahudi menghukum orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa dan menganggap mereka sebagai musuh yang telah keluar dari ajaran Musa (nabi terdahulu).
Sedangkan mukmin yang tidak bisa dijangkau seperti Ashabul-Kahfi, kaum Yahudi menghukumnya dengan bersikap mengabaikan dan larangan menyebutkan nama-nama mereka. Itulah yang dilakukan secara sengaja; menyepikan penyebutan Ashabul-Kahfi dalam kitab-kitab kaum Yahudi dan isyarat apapun yang mengarah pada mereka.
Salah satu petunjuk paling masyhur terkait Ashabul-Kahfi dalam diskursus Yahudi adalah sababun-nuzûl surah al-Kahfi. Bahwa Yahudi Madinah (Yatsrib) meminta Musyrik Quraisy untuk menghadapkan beberapa pertanyaan kepada Nabi dengan maksud untuk memverifikasi kenabian Muhammad r. Salah satu dari pertanyaan itu adalah seputar Ashabul-Kahfi atau “Al-Fityah alladzîna Dzahabû fid-Dahril-Awwal”. Realitas itu menjadi petunjuk kuat bahwa Yahudi Madinah mengetahui kisah tentang Ashabul-Kahfi meskipun dalam Taurat (non-orisinil) dan referensi Yahudi yang lain tidak ditemukan penyebutan tentang kisah tersebut— sebagai bentuk hukuman bagi mereka karena telah menanggalkan prinsip ke- “Yahudi”-annya.
Ala kulli hal, tidak adanya kisah tentang Ashabul-Kahfi dalam referensi Yahudi bukan berarti mereka tidak memperbincangkannya, terlebih diketahui bahwa karakter Yahudi adalah memalsukan dan mengubah sejarah demi eksistensi kepentingan golongan mereka, memperkuat klaim dan cerita yang mereka buat.
Ashabul-Kahfi dalam Diskursus Nasrani
Dalam referensi kaum Nasrani kisah Ashabul-Kahfi dikenal dengan nama “Anniyâm as-Sab’ah” atau “Niyâmu Ifsûs as-Sab’ah”. Dalam bahasa Inggris disebut “The Seven Sleepers” atau “Seven Sleepers of Ephesus”. Kisah ini dikenal sekitar akhir abad ke-V Masehi dan dengan cepat menyebar ke seluruh Asia Barat dan Eropa. Kisah ini ditulis pertama kali oleh Yakub dari Sarug [450-521], seorang Uskup Syria, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gregorius Agung dari Tours (sekitar 538-594), dalam bukunya “De Gloria Maryrum”. Penulis lain di antaranya adalah Gerejawan, Paulus sang Diaken (720- 799) dalam “History of the Lombards”; seorang Biarawan Dominikan abad ke-13, Jacobus de Voragine (230-1298), dalam “Golden Legend”; dan juga beberapa dalam lukisan.
Menurut legenda Syria, beberapa pemuda Kristen menyelamatkan diri dan berlindung dalam gua di daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan Kaisar Decius (Romawi). Para pengejarnya menemukan tempat persembunyian mereka lalu menutup rapat lubang gua. Setelah lama berselang, seorang dari mereka keluar dan diketahui bahwa waktu telah berlalu 112/371/372 tahun (Kisah ini dihembuskan Pendeta Kristen bernama Stephen dari Ephesus yang menjadi uskup).
Di kalangan Kristen, kisah tujuh pemuda tersebut disebutkan terjadi pada masa Raja Dikyanus. Dikyanus adalah Raja yang berkuasa di sekitar Efesus, yaitu daerah yang disinyalir tempat gua Ashabul-Kahfi berada. Raja Dikyanus diperkirakan berkuasa pada tahun 112 M. Dikenal sebagai raja kejam dan mengancam akan menghukum mati siapa saja yang tidak sejalan dengannya. Itulah sebabnya tujuh pemuda lari dari negeri itu. Kemudian hari raja Dikyanus lengser dan setelah Ashabul-Kahfi terbangun setelah tidur 309 tahun Hijriyah atau 300 tahun Masehi raja yang berkuasa adalah raja Theodosius II, berkuasa sekitar 421 M. Sedangkan menurut Santo Agustinus, mereka tertidur 112 tahun (Desius, 250 M s/d Theodosis II, 362 M).
Versi lain menyatakan, kisah tujuh pemuda tidur terjadi pada 106 M, ketika pasukan Romawi yang dipimpin Kaisar Trajan berhasil menduduki Yordania. Kaisar Trajan tak segan menghukum mati siapapun yang berani menolak tuhan berhala. Tersebutlah kemudian tujuh pemuda yang lebih memilih iman daripada taat menjadi hamba patung. Mereka kemudian memutuskan meninggalkan kota menuju gua. Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Lamakelamaan, kisah ketujuh pemuda tersebut hilang dan hanya menjadi sejarah sebagai pemuda-pemuda yang hilang.
Perlu menjadi catatan, banyak kemudian kalangan orientalis yang mengklaim bahwa al-Quran menukil kisah Ashabul-Kahfi dari data historis kaum Nasrani. Bahkan pula mereka mengatakan kisah Ashabul-kahfi tersebut sebagai mitologi Kristen dengan sebutan “An-Niyâm Ifsûs As-Sab’ah” yang diadopsi oleh Rasulullah ke dalam al-Quran. Padahal ada poin sangat prinsip dan signifikan yang terdapat dalam kisah al-Quran yang tidak ada dalam diskursus lain, baik diskursus Yahudi ataupun Nasrani—yang telah mengalami penggelapan data sejarah.
M Romzi Khalik/sidogiri
Baca juga: KIsah Ashabul Kahfi(1)




