Oleh: Abu Rizal Bakri*

Pembahasan tentang perempuan tidak akan pernah menemukan kata selesai. Sebagai perhiasan, ia akan selalu menjadi sorotan perhatian. Di sisi lain, manusia memang diciptakan dengan fitrah yang menyukai perhiasan dan setiap hal yang ‘berbau’ keanggunan. Sehingga keduanya menjadi klop, tidak terpisahkan; berbicara tentang manusia, berbicara tentang wanita.

Secara spesifik, al-Quran menyebutkan satu nama surah tersendiri yang membahas banyak hal terkait perempuan: surah an-Nisâ’. Secara implisit, hal itu menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk yang spesial. Hemat saya, sebab ia memiliki pengaruh yang sangat besar dalam peranannya untuk membentuk generasi penerus. Artinya, nasib generasi selanjutnya berada di setiap tangan wanita, dengan pertimbangan seberapa baik ia membentuk karakter anak-anaknya.

Tersebab perempuan adalah makhluk spesial, Islam memposisikan wanita dengan sangat proporsional. Proporsional bukan berarti selaras dengan pria dalam berbagai aspek secara keseluruhan. Namun, ada rambu-rambu tertentu yang tidak boleh ia langgar, karena wilayah selanjutnya adalah bidang ‘garapan’ laki-laki. Begitu juga laki-laki, ia memiliki rambu-rambu tertentu yang tidak boleh dilanggar, karena wilayah selanjutnya adalah bidang garapan’ perempuan.

Menjadi imam shalat, misalnya. Ketika di antara jamaah itu terdapat lakilaki, maka hal itu tidak diperkenankan untuk dilakukan oleh orang perempuan. Karena hal itu merupakan bidang ‘garapan’ orang laki-laki, yang tidak boleh perempuan ‘menggarap’-nya.

Juga, memakai perhiasan emasperak atau pakaian sutra, misalnya. Dalam keadaan normal, laki-laki tidak diperkenankan melakukannya. Karena hal itu merupakan bidang ‘garapan’ orang perempuan, yang tidak boleh lakilaki ‘menggarap’-nya.

Dari kedua perbedaan bidang ‘garapan’ di atas dapat ditarik pemahaman, bahwa wanita memang seharusnya menutup diri dengan segala perhisan yang ada pada dirinya. Dan bahwa wanita memiliki tugas yang lebih intim dan spesifik daripada lelaki. Ia harus bersentuhan langsung dengan segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Mulai dari tugas dapur hingga tugas kasur. Dari situ—sebagaimana disebutkan di atas—, ia akan memberikan banyak pengaruh dalam membentuk karakter anak-anaknya. Karena ia adalah madrasah pertama bagi mereka.

Idaman

Selanjutnya, barangkali semua lelaki mengidam-idamkan sosok wanita yang memang berada dalam posisi bidang ‘garapan’-nya. Sebab tidak dapat dipungkiri, jika seorang wanita sudah keluar dari posisinya, maka ia tidak akan mungkin bisa menjadi wanita secara utuh. Ia tidak akan bisa menjalankan tugas-tugasnya secara sempurna. Lalu banyak yang terbengkalai. Dan terjadilah ketimpangan sosial dalam rumah tangga.

Salah seorang ilmuwan Eropa turut berkomentar mengenai hal ini. Menurutnya, orang perempuan yang bergelut dengan profesi umum tidak dapat disebut wanita seutuhnya, di samping juga tidak bisa disebut pria. Ia menambahkan, wanita yang demikian merupakan jenis spesies manusia ketiga, setelah laki-laki dan perempuan. Sebab, untuk disebut laki-laki, secara tabiat dan bentuk tubuh ia tidak memenuhi kriteria. Begitu juga untuk disebut perempuan, secara kelakuan dan profesi ia tidak memenuhi kriteria.

Oleh karena itu, selayaknya bagi wanita untuk lebih menutup diri, dan harus melaksanakan tugas-tugas yang sifatnya lebih intim dan spesifik daripada tugas laki-laki. Ia berkewajiban mengatur dan mengawasi bagian-bagian terdalam di dalam rumah tangga. Bukan hanya persoalan perut, tapi lebih dalam lagi hingga persoalan kerohanian dan religiositas tiap individu rumah tangga.

Selain itu, perempuan yang menutup diri tidak akan banyak tahu dengan gemerlap kehidupan dunia dan hal-hal yang berkaitan. Pastinya ia lebih memiliki sifat menerima apa adanya (qanâ’ah) daripada perempuan lain. Ia tidak akan menuntut hal yang muluk-muluk terhadap suami. Sehingga suami merasa lebih tenang dengan keadaan yang demikian. Hanya saja, bagaimana sekiranya dalam beberapa kesempatan, suami bisa memberikan sesuatu yang ‘muluk-muluk’ itu kepada istri tanpa diminta. Oh, betapa bahagianya!

Ketika ada pasangan suami-istri lain yang secara lahir tampak lebih bahagia dengan gemerlap kehidupan dunianya, seorang perempuan (istri) yang tidak memiliki sifat qanâah cenderung ‘latah’ melihatnya. Di hatinya, ia seakan tidak menerima dengan keadaan dirinya, karena nasibnya tidak sebaik pasangan tersebut. Padahal, kebahagiaan yang sesungguhnya itu berada di dalam hati, bukan pada gemerlapnya kehidupan dunia. Akibatnya, ia akan mudah menyalahkan keadaan dan suami yang tidak bisa membuatnya ‘bahagia’ seperti yang lainnya. Lebih dikhawatirkan lagi jika hal itu berujung pada keretakan rumah tangga.

Alhasil, jadilah wanita yang sesungguhnya yang menjadi idaman setiap pria. Tetaplah dan stay istiqâmah berada pada posisi yang seharusnya. Berkreatifitas dan berkarya, tidak harus keluar dari posisi yang seharusnya. Hal itu bisa diimplementasikan melalui mengajar anak kecil, menulis di media cetak atau sosial, membuat kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Ketika semua itu terlaksana, maka tercapailah tatanan kehidupan rumah tangga yang berjalan sesuai fitrah dan keinginan. Bagi yang masih belum memiliki pasangan, mulailah hal itu dari sekarang, sebagai bekal untuk masa mendatang! Fa InsyâAllah, rida, perlindungan dan pertolongan Allah akan selalu menyertai dalam setiap keadaan. Amin.

*Alumni MMU B-29, PPS C-05, asal Probolinggo

Spread the love