Dalam menjalin hubungan ke arah yang lebih serius dengan pasangan, membangun sebuah rumahtangga adalah tujuan utama untuk menjalin hubungan yang halal dan di ridhai oleh Allah. Seiring bertambahnya usia pasti akan menuntut untuk berani berkomitmen menuju tangga yang sakral, terlebih dengan dukungan dari pihak masing-masing keluarga yang semakin mantap untuk berumahtangga. Namun, dalam kehidupan berumah tangga tak selalu mulus seperti yang diharapkan.

Menikah adalah pintu gerbang memasuki dunia yang baru. Dunia di mana kita tidak hanya bertanggung jawab pada keluarga kita saja, namun juga keluarga pasangan. Kita tidak lagi hanya memikirkan diri kita sendiri, namun juga pasangan kita beserta keluarganya. Kita akan dituntun bertindak lebih dewasa dalam menghadapi segala permasalahan. Suami istri harus saling memahami karakter satu dengan lainnya, yang tentu memiliki corak yang berbeda. Berusaha saling melengkapi dari setiap kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Dengan saling cinta, saling mengerti, saling percaya yakin bahwa sesuatu yang namanya pernikahan adalah hal yang dimulai dengan iman, dilindungi oleh cinta, dan dipererat dengan akhlak mulia.

Kalau boleh menganalogikan perbedaan antara pria dan wanita, seperti yang diutarakan oleh ilmuwan yang mendalami otak manusia, psikolog ternama, John Gray PhD, ia mengutarakan bahwa seorang laki-laki dan wanita itu berasal dari dua planet yang berbeda. Laki-laki itu berasal dari Mars dan wanita berasal dari Venus. Kalau kita pikir, beda kampung, beda domisili bahkan beda negara saja sudah memiliki karakter, bahasa dan kultur yang berbeda, apalagi sampai beda planet, sudah pasti akan memiliki perbedaaan yang signifikan.

Jika kita perhatikan perempuan lebih mudah marah daripada laikilaki. Mengapa demikian? Apa yang menyebabkan wanita lebih mudah marah daripada laki-laki? Wanita memiliki susunan hormonal yang berbeda daripada pria. Susunan hormon yang berbeda menyebakan wanita membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengendalikan keseimbangan hormonnya daripada pria. Namun tak hanya susunan hormon yang berbeda saja yang menyebabkan wanita lebih mudah marah daripada pria. Yang perlu kita ketahui sekarang, apa penyebab wanita suka marah?

Manusia hidup membutuhkan orang lain. Dalam berhubungan dengan orang lain tersebut, masalah sebagai sebuah konsekuensi hubungan datang silih berganti. Entah dengan kawan, orang tua atau pasangan, masalah akan terus menguji manusia.

Wanita Mudah Marah

Bagi kaum hawa, jika memiliki masalah tak jarang mereka melakukan ‘gerakan tutup mulut’ atau lebih dikenal dengan istilah marah atau ngambek. Ternyata, sikap diam seorang perempuan bisa berakibat buruk.

Bahkan dalam Islam, beberapa ulama mengharamkannya. Sikap diam dalam jangka waktu tertentu dianggap sebagai perbuatan jahiliyah. Berdasar dari sebuah hadis dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, “Abu Bakar y pernah berkunjung kepada seorang perempuan Ahmas bernama Zainab. Abu Bakar melihat perempuan tersebut tidak berbicara. Abu Bakar bertanya, ‘Mengapa ia tidak berbicara?’ Orang-orang menjawab, ‘Dia sengaja diam tidak mau bicara dengan alasan ibadah.’ Abu Bakar lalu berkata kepadanya, ‘Berbicaralah, sesungguhnya perbuatan ini tidak halal. Ia termasuk perbuatan Jahiliyah!”, maka perempuan itu pun berbicara. (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Riyadhuh Shalihin dijelaskan salah satu cara beribadah kaum Jahiliyah adalah dengan diam. Maka wajib hukumnya setiap Muslim untuk membedakan diri dari perbuatan dan perilaku Jahiliyah.

Jika ia berdiam diri tanpa alasan atau sengaja menahan diri untuk berbicara, hal itu bukan termasuk syiar dalam agama. Justru yang dianjurkan adalah berbicara yang baik dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Seorang Muslim hendaknya mengajarkan kebaikan dan menyampaikan hanya yang baik saja dari lisannya.

Syekh Salim bin Ied al-Hilali menambahkan jika seseorang bersumpah untuk tidak berbicara maka dianjurkan ia untuk berbicara kembali. Tidak wajib bagi orang tersebut membayar kaffarat karena sumpahnya termasuk sumpah yang tidak baik.

Ada pula hadis dari Ali bin Thalib, dia berkata, “Aku ingat Rasulullah r pernah bersabda, ‘Tidak ada hukum yatim setelah bermimpi (baligh) dan tidak boleh diam (tutup mulut) selama sehari sampai malam harinya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

Al-Khaththabi berpendapat sikap diam adalah bentuk ibadah kaum jahiliyah. Maka hendaknya kaum Muslimin menghiasi lisan dengan zikir dan pembicaraan yang baik. Namun beberapa ulama menilai hadis Abu Dawud tersebut shahih kecuali pada, “Dan tidak boleh diam (tutup mulut) selama sehari sampai malam harinya.”

Ungkapan ini dinilai dhaif meski diriwayatkan dari beberapa jalur. Beberapa perawinya ada yang tidak dikenal dan matruk (perawinya dikenal berdusta). Namun jalur hadis ini dikuatkan hadis pertama tentang Abu Bakar.

Ada yang berpendapat jika diam justru dianjurkan dalam hadis, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq Alaih)

Masih menurut Syekh Salim bin Ied al-Hilali, kedua hadis tersebut tidaklah bertentangan. Diam dalam hadis ‘Berkatalah yang baik atau diam’ dimaksudkan agar tidak berbicara hal-hal yang bathil. Maka diam seperti itu dianjurkan. Sementara larangan diam dalam hadis Abu Bakar diatas adalah diam dengan meninggalkan pembicaraan yang mubah.

Ada pula yang berhujjah jika diam dicontohkan oleh Siti Maryam ibunda Nabi Isa seperti dituangkan dalam Al-Quran. “..Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS. Maryam :26).

Pendapat ini juga tertolak sebab dua alasan. Pertama, syariat umat sebelum Islam datang bukanlah syariat yang diberlakukan untuk umat Islam. Kedua, dengan adanya hadis Abu Bakar tersebut, maka syariat Islam telah melarang diam dalam jangka waktu tertentu.

Umat Islam juga dianjurkan untuk tidak memutus hubungan dengan saudaranya. Ada larangan khusus mendiamkan saudara seiman lebih dari tiga hari. Ini adalah hak ukhuwah yang harus ditunaikan.

Rasulullah bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Yakni dia berpaling dari saudaranya dan saudaranya pun berpaling darinya ketika keduanya bertemu. Yang paling baik di antara mereka adalah yang lebih dahulu memberi salam.” (HR. Bukhari). Dengan beberapa alasan di atas seorang muslimah yang sangat sensitif dengan suatu hal dituntut untuk bersikap lebih dewasa dalam menghadapi segala persoalan hidup. Tidak langsung melakukan aksi tutup mulut dan memberi wajah kecut untuk lari dari sebuah persoalan.

Dengan berpikir positif dan berusaha memiliki sikap mengalah akan lebih menjadikan muslimah yang diidamkan, karena kebanyakan permasalahan itu karena unsur kesalahpahaman antara satu dengan yang lainnya. Jika kesalahpahaman itu terjadi di sebuah rumah tangga, maka rasa percaya dan mengerti adalah pondasi menyelesaikan persoalan.

Faiz Jawami’ Amzad/sidogiri