Boleh jadi ada sebagian kita yang menyangsikan, buat apa berdoa? Toh semua yang terjadi di alam semesta ini sudah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah I mulai awal penciptaan hingga kelak dimusnahkan. Segala hal yang berkenaan dengan kehidupan kita, mulai dari yang paling sepele hingga yang paling serius sudah tercatat dengan rapi dan tidak bisa ditawar kembali.

Maka, kesangsian semacam ini telah dijawab oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumidin. Bahwa, kata al-Ghazali, perlu diketahui, adalah termasuk dari qada’ (ketentuan dan ketetapan Allah I) adalah menolak bencana (balak) dengan doa. Doa adalah sebab dari tertolaknya balak dan tercurahnya rahmat. Sebagaimana perisai adalah sebab tertolaknya panah; air adalah sebab tumbuhnya tetumbuhan dari bumi, dan semacamnya. Artinya, keberkahan dan kebaikan yang kita dapat sebab doa adalah hal yang termasuk pada lingkaran takdir Allah.

Dengan doa kita memohon diberikan takdir yang baik. Doa adalah permohonan dan rintihan kita kepada Tuhan. Doa adalah pengakuan kita akan kelemahan dalam diri dan mengagungkan Allah yang Maha Memiliki dan Maha Mengasihi. Doa adalah amalan yang tidak pernah lepas dari para kekasih Allah sejak zaman dahulu. Berikut adalah doa-doa hamba pilihan yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumidin Juz 1 bab zikir dan doa (hal. 394-399). Akan berfaedah jika dibaca dengan istikamah. Semoga bermanfaat.

Doa Nabi Ibrahim

اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا خَلْقٌ جَدِيْدٌ فَافْتَحْهُ عَلَيَّ بِطَاعَتِكَ وَاخْتِمْهُ لِيْ بِمَغْفِرَتِكَ وَرِضْوَانِكَ وَارْزُقْنِيْ فِيْهِ حَسَنَةً تَقَبَّلَهَا مِنِّيْ وَزكِّهَا وَضَعِّفْهَا لِيْ وَمَا عَمِلْتَ فِيْهِ مِنْ سَيِّئَةٍ فَاغْفِرْهَا لِيْ إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ كَرِيْمٌ

Barang siapa membaca doa ini ketika masuk waktu pagi, maka ia telah menunaikan syukur pada harinya itu.

Doa Nabi Khidir

Diceritakan bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas ketika bertemu pada tiap-tiap musim, keduanya tidak akan berpisah kecuali dengan (membaca) kalimat ini:

بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مَا شَاءَ اللهُ كُلُّ نِعْمُةٍ مِنَ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ اَلخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوءَ إِلاَّ الله

Barang siapa membaca kalimat ini ketika masuk waktu pagi, maka dengan izin Allah ia akan aman dari tiga keburukan: kebakaran, tenggelam, dan pencurian.

Doa Abi Darda’

Alkisah, ada seseorang mengabari Abu Darda’ bahwa rumah beliau terbakar, Abu Darda’ menjawab, “Allah tidak akan berbuat demikian.” Kemudian dikatakan kembali (sampai tiga kali) kepada Abu Darda’ bahwa rumahnya telah terbakar, Abu Darda’ kembali berkata, “Allah tidak akan berbuat demikian.” Kemudian ada orang lain mendatangi Abu Darda’ seraya berkata, “Wahai Abu Darda’, ketika api itu mendekati rumahmu, maka padamlah ia.” Syahdan Abu Darda’ menjawab, “Aku sudah tahu akan hal itu.” Lalu beliau ditanyakan, “Kami tidak tahu, yang mana di antara kedua perkataanmu itu yang paling menakjubkan?” Maka Abu Darda’ berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda:

مَنْ يَقُوْلُ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فِيْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

 (Barang siapa membaca kalimatkalimat ini pada malam atau siang hari, niscaya tidak ada sesuatu apapun yang dapat mendatangkan bahaya kepadanya)

Dan aku telah mebaca kalimatkalimat itu (yaitu):

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَأَنْتَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسَيْ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّيْ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Doa Ma’ruf al-Karkhi

Muhammad bin Hasan berkata, “Ma’ruf al-Karkhi berkata kepadaku, ‘Tidakkah aku ajarkan sepuluh kalimat, lima untuk dunia dan lima untuk akhirat? Barang siapa berdoa dengan kalimat-kalimat itu kepada Allah niscaya ia memperoleh (rahmat) Allah.’ Lalu saya berkata, ‘Tulislah kalimatkalimat itu untukku.’ Lalu beliau menjawab, ‘Tidak, aku akan mengulangulangi (membacakan) kepadamu sebagaimana Bakr bin Khunais mengulang-ulangi (membacakan) kepadaku, yaitu:

حسبي الله لديني حسبي الله لدنياي حسبي الله الكريم لما أهمني حسبي الله الحليم القوي لمن بغى علي حسبي الله الشديد لمن كادني بسوء حسبي الله الرحيم عند الموت حسبي الله الرؤوف عند المسألة في القبر حسبي الله الكريم عند الحساب حسبي الله اللطيف عند الميزان حسبي الله القدير عند الصراط حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم”

M Romzi Khalik/sidogiri