Sebuah kisah tentang sahabat Nabi bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah yang terjadi pada bulan Ramadan pada tahun 7 H. Suatu ketika, Rasulullah mengutus pasukan yang di antaranya Usamah bin Zaid ke sebuah kelompok yang kebiasaannya membunuh dengan cara dibakar dari klan Juhainah. Dari itu, mereka disebut Huraqah, kelompok pembakar.

Kedua kelompok akhirnya bertemu dalam sebuah pertempuran. Dalam cerita Usamah, ia bersama dengan Mardas bin Amr dari sahabat Anshar dan bertemu dengan seorang lakilaki dari kalangan mereka. Usamah perang tanding dengannya dan Usamah mampu merobohkan. Saat itu, dia mengatakan, “La ilaha illa Allah” yang menandakan dia sebagai muslim. Usamah tidak mempercayainya, hingga ia menikamnya sampai meninggal.

Sepulang dari peristiwa tersebut, kejadian itu didengar oleh Rasulullah. Usamah akhirnya dipertintahkan menghadap dan Rasulullah bersabda:

يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

 “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan, “La ilaha illa Allah?”

Saat itu, Usamah beralasan dengan mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا

 “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia (mengucapkannya) hanya untuk melindungi diri.”

Dengan tetap Rasulullah menanyakan, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan, “La ilaha illa Allah?” Hal itu beliau ulang-ulang, hingga Usama berharap andaikan saja dia baru masuk Islam saat itu, karena merasa telah melakukan dosa besar.

Dalam riwayat lain, Rasulullah saat itu menyatakan, “Kenapa tidak kau belah saja hati orang itu sehingga kau tahu apakah hatinya mengucapkan kalimat syahadat atau tidak?”

***

Hal baik tidak selamanya melahirkan kebaikan pada pandangan orang lain. Terkadang, apa yang kita nilai baik melahirkan keburukan di mata dan hati orang lain. Sedekah adalah baik, tapi bisa dinilai buruk oleh orang yang tidak menyukai kita. Bisa jadi akan dibilang riya atau sebagainya. Demikian pula sebaliknya, kita pun bisa memberi penilaian yang sama dengan menganggap riya perbuatan baik orang lain. Jika demikian, mereka yang riya atau kita yang sebenarnya berburuk sangka?

Riya dan buruk sangka atau yang dikenal dengan suuzh-zhan adalah sifat terdalam dalam hati manusia. Keduanya termasuk muhlikât, perusak hati di samping sifat-sifat lain seperti takabbur, ujub dan sumah. Dalam tataran menagemen hati, beberapa sifat ini menjadi topik inti, karena sifat-sifat ini menjadi perusak ketenangan batin dan mengganggu kemurnian ibadah. Ibadah ibarat bungkus kosong yang tak berarti tergrogoti oleh sifat-sifat tersebut.

Pada dasarnya, di antara rumus mendapatkan pahala dalam perbuatan baik adalah harus tersimpan rapat. Usahakan perbuatan baik kita tidak diketahui orang, bahkan jangan sampai orang tahu kita bersedekah, kita berdzikir dan shalat. Lakukan saja perintah dan jauhi larangan agama dengan ikhlas, tanpa pamrih dan sanjungan orang lain. Dari itu, hindari publish kebaikan, terlebih di sosmed, sebab dapat membuka peluang riya atau pamer kebaikan yang dapat mengurangi pahala.

Gambaran umum dari rumus ini adalah praktik ketika sedekah; “Apa yang diberikan oleh tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kiri”. Amal baik harus tersimpat rapat, sementara pamer amal baik akan mengurangi nilai keikhlasan, sedangkan ikhlas dalam amal adalah kunci dari pahala yang dijanjikan.

Sekali lagi, itu adalah rumus amal baik untuk mendapat pahala bagi pemilik perbuatan, sehingga tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam menilai tindakan seseorang, apalagi dijadikan dasar justifikasi. Ikhlas dan riya adalah wilayah orang yang beramal, bukan oleh orang yang menyaksikan. Sama halnya dengan sifat-sifat buruk pada hati, semisal sombong dan bangga diri yang hanya diketahui oleh pemilik perbuatan dan Allah tentunya. Toh, pada akhirnya, semua akan terbongkar di akhirat.

Dengan demikian, hal yang terkait dengan amaliyah pada hati seseorang, bukan wilayah kita untuk membongkarnya. Apa yang nampak secara lahiriyah yang diasumsikan sebagai indikator keberadaan sifat buruk hati, tidak sepenuhnya identik dengan aslinya. Perbuatan baik yang di-publish bisa jadi indikator keberadaan riya, tetapi bisa jadi pula, ada tujuan lain dari publish kebaikan tersebut, semisal ingin agar ditiru oleh orang lain. Bukankah memberi tauladan bernilai pahala? Itulah peran hati yang selalu harus berbaik sangka atau husnu azh-zhan, kebalikan dari su azh-zhan.

Sebuah kisah dalam hadis di atas sebagai ilustrasi bahwa ranah hati tidak bisa dijadikan justifikasi untuk menvonis seseorang. Kalimat, “Kenapa tidak kau belah saja hati orang itu sehingga kau tahu apakah hatinya mengucapkan kalimat syahadat atau tidak?” semakin menegaskan adanya larangan untuk menilai pekerjaan hati seseorang. Bisa jadi ada sinyal yang mengarah ke sifat buruk itu, tetapi itu sebatas asumsi bukan pasti.

Dari itulah, peran hati menjadi penting untuk ditata dan di-manage dengan baik. Justru ketika kita masuk pada ranah wilayah tersebut, secara tanpa sadar akan menjebak kita pada penyakit buruk lain, yakni buruk sangka atau bahkan hasd atau iri. Bermain dengan penilaian terhadap amal kebaikan orang lain dengan penilaian riya dan lain sebagainya, akan menjerumuskan kita pada dosa berburuk sangka. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا )الاية)

 “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya dari prasangka itu adalah dosa,dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain …..” (Q.S. al-Hujurat: 12).

Kebiasaan menilai kebaikan seseorang dari sudut pandang yang buruk ini, sebenarnya akan merasa selalu galau, tidak nyaman. Ada tetangga tadarus al-Quran dengan pengeras suara dinilainya riya dan ingin pamer. Ada seseorang memberikan sedekah denagn mencantumkan nama di media dibilangnya tidak ikhlas. Ada seorang ustadz memberi pengajian dan di-upload di youtube dibilangnya pamer ilmu. Jika terus demikian, jelas tidak akan merasa tenang, karena sibuk untuk mencari pembuktian atas prasangka buruknya.

Bukan hanya merusak hubungan antar tetangga, kebiasaan menilai buruk ini juga dapat merusak tantanan rumah tangga. Setiap kali suami berbuat baik pada istri, misalnya, justru dicurigai dengan pertanyaan, “ada apa?”. Kemudian mengorek untuk mengetahui sekedar melegakan diri telah aman dari selingkuh, padahal sekedar ingin membahagiakan. Pada akhirnya, nilai kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga menjadi terganggu.

Jadi, kita tidak bisa mengubah kebiasaan orang lain yang suka pamer kebaikan di depan umum. Kita sudah dikelilingi berbagai multimedia dan akan kita jumpai berbagai model selfie saat melakukan kebaikan. Hal terpenting adalah saat beramal baik, kita jaga dengan ikhlas dan mengubah kepribadian dan hati kita sendiri dengan tidak memberi penilaian buruk pada pekerjaan baik seseorang. Kita tidak perlu mencap mereka riya, karena bisa mungkin mereka yang riya atau justru kita yang su azh-zhan?

Kalaupun tidak setuju dengan tindakan itu, kita bisa dengan melalui nasihat yang baik atau berprasangka baik agar terhindar dari dosa. Bukankah dengan berbaik sangka, meski itu salah lebih baik dari berburuk sangka, meski itu benar? Wallahu alam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri