Pada tahun kelima Hijriah, umat Islam mengalami kegoncangan jiwa. Sebuah fitnah besar menimpa keluarga Rasulullah. Siti ‘Aisyah binti Abi Bakr, istri kesayangan Nabi difitnah telah melakukan perselingkuhan dengan Shafwan bin Muaththal. Hoax ini disebarkan oleh pentolan munafikin, Abdullah bin Ubay bin Salul. Baginya, ini adalah materi yang tepat untuk mengkriminalisasi Rasulullah, setelah beberapa celah untuk menjatuhkan nama Nabi mengalami kegagalan.

Peristiwa itu terjadi setelah kaum muslimin menyelesaikan peperangan dengan Bani Musthaliq. ‘Aisyah, istri Nabi tertinggal di perjalanan, kemudian Shafwan menolongnya hingga tiba di Nahr adh-Dhahirah. Di sinilah titik sumber fitnah muncul tentang issu perselingkuhan yang digoreng oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sejak Rasulullah diangkat menjadi Rasul dan memulai dakwahnya, gangguan dan fitnahan terus digencarkan oleh musuh-musuh Islam. Akan tetapi, berita bohong ini benar-benar membuat Rasulullah gundah. Fitnah ini boleh dikatakan tikaman belakang yang berat dan dapat membunuh kehormatan dan kesucian Nabi. Terlebih, perpecahan di tengah umat Islam mulai terpantik, bahkan Shafwan sempat terjadi pekelahian dengan Hassan bin Tsabit.

Peristiwa ini, jelas mengoncangkan sendi-sendi dakwah Nabi, karena menyasak dua hal besar yang dibangun Nabi. Pertama, keadilan. Perzinahan merupakan salah satu tema besar yang diharamkan dalam Islam dan tergolong dosa besar. Ancamannya adalah rajam, ditumbuk batu hingga meninggal. Pertanyaan saat itu adalah mampukan Rasulullah berlaku adil?

Kedua, kepribadian Nabi sebaagi Uswah Hasanah. Keharmonisan keluarga sakinah pada keluarga Nabi adalah cermin bagi umatnya. Dengan peristiwa ini, pribadi Nabi sebagai teladan yang baik, menjadi runtuh seketika, karena dinilai gagal mengatur rumah tangga, terutama di mata kaum munafikin. Walakin, apa yang dilakukan Nabi saat itu? Inilah pelajaran penting bagi keluarga yang mendambakan ketenangan dalam rumah tangga, khususnya saat diterpa hoax.

Terkait peristiwa berita bohong (haditsul-ifqi) ini, Allah menurunkan firman-Nya dalam surah an-Nur ayat 1121. Sebagai pribadi sempurna, hal besar yang menimpa Nabi ini justru menjadi titik tolak dari pembelajaran pada umat beliau dalam menyikapi hoax yang menerpa rumah tangga. Setidaknya, pelajaran pentingnya adalah keyakinan bahwa sepeberapa pun ketenangan dalam keluarga, serta keharmonisan yang terbangun mapan, fitnah pasti muncul dalam keluarga.

Dalam hal ini, kita berkaca pada Rasulullah dan Siti ‘Aisyah. Tidak ada manusia yang sesempurna Nabi, dan betapa shalihahnya Siti ‘Asisyah, sebagai istri dari Rasulullah, bahkan keluarga ini menjadi cerminan nyata dari keharmonisan keluarga. Akan tetapi, tetap saja muncul juga fitnah pada keluarga beliau. Tidak tanggungtanggung, isu perselingkuhan di tengah perjuangan Islam.

Coba kita bayangkan. Andaikan kita sebagai orang yang terhormat, tiba-tiba keluarga kita difitnah sebagaimana fitnah yang menimpa Rasulullah. Kirakira apa yang akan kita lakukan? Tentu sebagai manusia biasa, akan mengalami kegoncangan jiwa. Tindakan hukum tentu akan diupayakan dengan berbagai cara, termasuk dengan cara-cara yang kadang tidak kalah keji.

Artinya, fitnah atau hoax dalam rumah tangga sudah dipastikan ada dan sulit dihindari. Terlebih di zaman now dengan keterbukaan media. Kesalahan kecil saja, digoreng sedemikian rupa oleh orang yang memang tidak suka, yang intinya membentuk image buruk. Tinggal bagaimana menyikapinya. Sikap Rasulullah saat menerima cobaan fitnah perselingkuhan sang istri menjadi rujukan penting.

Pertama, Rasulullah melakukan konfirmasi atau dalam bahasa populer tabayyun. Dalam beberapa sirah disebutkan, Rasulullah bertanya kepada beberapa orang terkait dengan kepribadian istrinya, ‘Aisyah, padahal tentunya sebagai suami, beliau lebih tahu tentang kepribadian sang istri. Akan tetapi, Rasulullah tetap melakukan itu. Di antara mereka adalah pelayan ‘Aisyah bernama Barirah.

Saat itu, Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?” Lalu ia mengabarkan kepada Rasulullah bahwa ia tidak mengetahui Aisyah kecuali sebagai orang yang baik-baik. Rasulullah kemudian berdiri di atas mimbar dan bersabda, “Wahai kaum Muslimin! Siapa yang kan membelaku dari seseorang lelaki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya, mereka telah menyebutkan seorang lelaki yang aku tidak mengenal lelaki itu kecuali orang yang baik.”

Kedua, untuk menanggulangi fitnah, Rasulullah sering keluar rumah bersama shahabat. Ibn Hisyam dalam Sirah Rasulullah menyebutkan, saat merebak fitnah itu, beliau sering keluar pagi pulang sore, keluar malam hingga pagi bersama shahabat. Kadang berhenti di suatu tempat dan tertidur bersama mereka. Ini adalah bagian dari upaya untuk melupakan fitnah yang menerpa.

Persoalan, apalagi berbentuk fitnah, jelas sulit dilupakan oleh penerimanya. Rasa marah berkecamuk. Memikirkannya terus dengan berdiam diri di rumah tentu akan semakin sulit melupakannya. Salah satu upaya menghilangkan besitan pikiran itu adalah dengan berkumpul bersama sahabat. Bisa dengan keluar rumah, agar pikiran lebih tenang.

Baca juga: Mencairkan Hati yang Keras

Ketiga, Rasulullah mengemukakan persoalan tersebut kepada orang-orang terdekat dan terpecaya. Rasulullah melakukan pembicaraan dengan sahabat inti, tidak kepada semua orang. Sebab, fitnah perselingkuhan ini menggemparkan Madinah, dan saat itu tidak semuanya suka pada Nabi. Mengemukakan persoalan kepada semua orang, justru akan banyak orang yang menyoraki.

Apa yang dilakukan Rasulullah ini semacam terapi diri. Sebab, luapan emosi terkadang bisa diredakan dengan cara berkonsultasi dengan orang dekat dan bijak. Mengungkapkan unek-unek saja kepada orang lain, akan melegakan hati, apalagi kepada orang terdekat yang kemudian memberikan nasehat. Hal ini bukan berarti menghilangkan sifat kesempurnaan Nabi sebagai rasul. Sekali lagi, ini adalah bagian dari pelajaran bagi umatnya.

Keempat, Rasulullah tidak membalas fitnahan kaum munafik. Sesampainya di Madinah, para shahabat menunggu apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada Abdullah bin Ubay. Me reka menduga, pasti akan mendapat hukuman keras. Akan tetapi, jawaban Nabi tidak pernah terbayangkan, “Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya selama dia masih tinggal bersama kita.”

Tentunya, banyak cara untuk menepis fitnahan, termasuk di dalamnya hal pasti dilakukan adalah dengan sabar dan tawakkal. Akan tetapi, apa yang dilakukan Nabi di atas adalah bagian dari sikap lahiriyah yang bisa dilakukan, yang tentunya sikap hati dan pikiran kunci utamanya adalah sabar dan tawakkal.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri