Kebaikan bukanlah kejadian apa yang kau hadapi, tetapi sikap apa yang kau pilih. Letak pada cara mereka dalam menyikapi sesuatu. Dalam kondisi apapun mereka berupaya untuk selalu berlari menuju Allah, dan berlari meninggalkan kepentingan duniawi. Itu pula yang ditunjukkan oleh para sufi dalam menyikapi datang dan perginya kekayaan harta benda sebagai bekal kehidupan jasmaniah manusia. Apapun kondisi ekonomi yang sedang mereka alami, semuanya menjadi pengantar untuk beribadah.
“Bila harta sedang tidak ada, maka seseorang mestinya memilih sikap qana’ah dan menjauhi sifat rakus. Bila harta sedang melimpah, maka dia seharusnya memilih sikap mendahulukan kebutuhan orang lain, dermawan, melakukan kebajikan, dan menjauhi sifat kikir,” begitulah nasihat Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin.
Hakikat kedermawanan, menurut beliau, adalah kemauan seseorang untuk memberikan apa yang masih ia butuhkan kepada orang lain. Dan, tingkat kedermawanan yang paling mulia adalah mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri.
Hal itulah yang diteladankan oleh Rasulullah kepada para shahabatnya. Sayidah Aisyah bercerita, “Sampai akhir hayatnya, Rasulullah tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut. Seandainya berkenaan, sebenarnya kami bisa terus menerus kenyang, namun kami selalu mendahulukan orang lain.”
Tidak sedikit dari para shahabat yang mau mengikuti jejak langkah beliau ini. Sampai-sampai dalam QS al-Hasyr ayat 9 Allah memuji mereka secara umum karena rata-rata memiliki semangat mendahulukan kepentingan orang lain.
Sayidina Umar bin al-Khaththab bercerita. Suatu ketika ada seorang shahabat mendapatkan sedekah kepala kambing. Namun, dia merasa ada shahabat lain yang lebih membutuhkan kepala kambing tersebut.
“Saudaraku si fulan jauh lebih membutuhkan kepala kambing ini dibanding aku,” katanya dalam hati.
Syahdan, dia pun mengantarkan kepala kambing itu kepada shahabat yang lain. Ternyata, shahabat kedua ini juga memiliki perasaan yang sama, bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkan. Ia pun kemudian memberikannya kepada shahabat ketiga. Begitulah seterusnya, sampai kepala kambing itu berpindah tangan hingga tujuh kali. Yang paling aneh, pada akhirnya kepala kambing tersebut kembali ke tangan shahabat yang pertama.
Yang lebih hebat dari itu ditunjukkan oleh para prajurit yang terluka dalam Perang Yarmuk, perang besar melawan Romawi. Hudzaifah al-Adawi bercerita, “Saat itu aku mencari saudara sepupuku di antara para korban perang yang berserakan.”
Hudzaifah membawa segelas air, kalau kalau saudaranya masih hidup. “Aku akan meminumkan air ini dan mengusapkan sisanya ke wajah dia,” niat Hudzaifah dalam hati.
Ternyata benar, saudara Hudzaifah terluka parah. Dia sepertinya sedang bersiap-siap menghembuskan nafas terakhir.
“Apa kau mau minum?” tanya Hudzaifah.
Dia mengangguk, memberi isyarat bahwa dirinya sedang haus dan sangat menginginkan air. Namun, ketika air itu sudah hendak diminumkan, tiba-tiba terdengar suara orang mengaduh di sebelahnya. “Aaahhh!”
|BACA JUGA: PLURALISME AGAMA DALAM AL-QURAN
Mendengar rintihan itu, saudara Hudzaifah tidak jadi minum. Ia memberi isyarat kepada Hudzaifah agar menghampiri orang tersebut.
Hudzaifah bangun, mencari asal suara rintihan itu. Ternyata orang tersebut adalah Hisyam bin al-Ash. Iya juga terluka parah. Hudzaifah langsung menawarinya minum. Namun, air belum sampai diminumkan tiba-tiba terdengar suara rintihan yang lain. Hisyam bin al-Ash pun memberi isyarat agar Hudzaifah segera menolong orang itu.
Hudzaifah segera bangkit dan mencari orang itu. Terlambat, orang tersebut sudah meninggal dunia sebelum Hudzaifah sempat meminumkan air. Hudaifah segera bangkit dan mendatangi Hisyam bin al-Ash. Terlambat, Hisyam juga sudah ditemukan mati. Akhirnya, Hudzaifah mendatangi saudara sepupunya. Ternyata, dia juga sudah meninggal dunia.
Hudzaifah tertegun. Air di tangannya masih utuh, tidak berkurang setetesnya. Di samping itu dia merasakan kekaguman yang luar biasa. Para prajurit ksatria itu benar-benar rela mengorbankan diri demi saudaranya sesama muslim. Semoga Allah merahmati mereka semua.
Sikap semacam inilah yang terus dikembangkan oleh para sufi dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. Mengenai kebutuhan duniawi mereka memang dikenal sebagai kelompok yang paling suka mengalah, menjauhi sikap egois, dan mendahulukan kepentingan orang lain (altruis). Akar dari sikap agung semacam ini adalah tidak adanya kegilaan hati terhadap kepentingan duniawi.
Dalam Ihya’, Imam al-Ghazali menceritakan sebuah kisah unik yang dialami oleh Abul Hasan al-Anthaki. Suatu malam, ketika berada di sebuah desa di pinggiran kota Ray Persia, beliau bersama rombongan kekurangan bekal makanan. Rombongan Abul Hasan berjumlah 30 orang lebih, sementara roti yang mereka bawa tidak cukup untuk semua anggota rombongan. Hanya cukup untuk mengisi perut beberapa orang saja.
Setelah berembuk akhirnya diputuskan bahwa mereka akan memakannya bersama-sama dengan cara mematikan lampu. Di waktu gelap, masing-masing orang bisa memakan roti tersebut tanpa malu-malu.
Lampu dimatikan. Dimulailah makan bersama. Serentak terdengar gabungan bunyi gerakan tangan dan kecapan mulut dari puluhan orang. Ketika makanan sudah diperkirakan habis, maka lampu dihidupkan kembali. Dan, semua terperangah, karena ternyata makanan tersebut masih utuh, tidak berkurang barang sedikitpun. Tidak ada satu pun dari mereka yang memakan roti itu, karena masing-masing orang ingin mendahulukan temannya yang sedang kelaparan.
Berbagai kisah di atas menunjukkan sikap seorang altruis sejati yang memiliki jiwa lekat untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Sikap ini tidak bisa dibuat-buat atau melekat dengan serta merta dalam diri seseorang. Diperlukan riyadhah dan penempaan yang keras, sebab pada dasarnya, setiap manusia memiliki kecenderungan egois dalam dirinya. Jika dia terus-menerus melawan cengkeraman egoisme itu, maka lambat laun sifat tersebut akan luntur, dan selanjutnya berganti dengan jiwa altruisme.
Para sufi lebih mudah memiliki jiwa seorang altruis, karena mereka telah memiliki modal yang paling diperlukan untuk mencapai sifat ini, yaitu tidak gila dunia. Bagi para sufi, kenikmatan apapun yang mereka miliki terasa ringan untuk diberikan kepada orang lain; dan kesengsaraan apapun yang mereka alami terasa ringan untuk ditanggungnya sendiri. Alangkah agungnya!




