Bendera Islam bisa jatuh, negara Islam bisa runtuh, umat Islam bisa terpuruk, peradaban Islam bisa ambruk, tapi hakikat ajaran Islam tidak bisa dikalahkan oleh ajaran manapun, sampai kapanpun. Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran kecuali Yang Maha Benar.

Mengenai realitas umat Islam yang saat ini sedang terpuruk, hal itu adalah persoalan yang berbeda. Sebab, meskipun Islam adalah agama yang sempurna, namun umat Islam bisa saja memiliki banyak kelemahan. Meskipun Islam adalah agama yang maju, tapi peradaban dunia Islam bisa saja mengalami banyak kemunduran. Meskipun Islam adalah agama yang kuat, tapi sendi-sendi dakwah Islam bisa saja sangat rapuh. Meskipun Islam adalah agama yang benar, tapi orang yang berdebat membela Islam bisa saja membuat argumentasi-argumentasi yang salah.

Pemetaan semacam ini harus benar-benar dipahami oleh umat Islam saat ini, terutama karena mereka telah memasuki zaman akhir, masa di mana Rasulullah telah mengabarkan bahwa umat Islam akan mengalami keterpurukan yang sangat parah. Tanpa pemahaman ini, umat Islam sangat mungkin akan dirasuki oleh perasaan inferior, tidak bangga terhadap agamanya sendiri. Penyakit inilah yang menjadi pangkal hilangnya nilai-nilai islami dari umat Islam saat ini. Perasaan inferior membuat mereka lebih bangga meniru ciri khas, bahkan identitas dari umat-umat yang lain, daripada menghidupkan identitas keagamaannya sendiri.

Di saat peradaban Islam sedang kalah seperti saat ini, sangat penting memupuk kepercayaan diri umat dengan menumbuhkan kesadarankesadaran yang menyangkut hakikat kehidupan. Misalnya dengan menumbuhkan kesadaran bahwa “Setinggi apapun kemajuan yang dicapai oleh orang-orang kafir, hal itu hanyalah sebatas dalam kehidupan dunia. Sehebat apapun orang-orang kafir dalam hal sains dan teknologi, mereka tetaplah sangat jahiliah dalam hal akidah. Sekuat apapun hegemoni orangorang kafir dalam masalah ekonomi, politik dan budaya, mereka tetaplah orang-orang yang sangat miskin dan lemah dalam masalah kebenaran.”

Cara pandang semacam inilah yang dipegang kuat oleh para Shahabat sehingga mereka tetap gagah di hadapan seluruh kekuatan dunia pada waktu itu. Mereka optimis dalam kondisi apapun, karena mereka mengukur segala sesuatu dengan parameter-parameter ukhrawi, bukan duniawi. Oleh karena itu, kalimat “Allah telah memuliakan kita dengan Islam” merupakan pernyataan ‘super gagah’ yang sering tercatat dalam lembaran-lembaran sejarah mereka.

Pada saat Madinah terkepung oleh Pasukan Sekutu dalam Perang Khandaq, Rasulullah memanggil beberapa tokoh Anshar untuk membicarakan kemungkinan berdamai, dengan kompensasi memberikan sebagian hasil pertanian Madinah kepada pihak musuh. Apa jawaban mereka? Sayidina Saad bin Muadz menjawab:

أَفَحِيْنَ أَكْرَمَنَا اللهُ بِالاِسْلَامِ، وَهَدَانَا لَهُ وَأَعَزَّنَا بِكَ وَبِهِ نُعْطِيْهِمْ أَمْوَالَنَا؟ … وَاللهِ لَا نُعْطِيْهِمْ إِلَّا السَّيْفَ

 “Apakah ketika Allah telah memuliakan kami dengan Islam, memberi petunjuk kepada kami, serta memuliakan kami denganmu dan dengan Islam, kami justru akan menyerahkan harta kami kepada mereka?… Demi Allah kami tidak akan memberikan apa-apa kepada mereka, kecuali pedang!”

Dalam perang Mu’tah, pasukan Muslimin yang hanya berjumlah tiga ribu dapat mempecundangi pasukan Romawi yang berjumlah 120 ribu di kandang Romawi sendiri. Awalnya, kaum Muslimin sempat ragu untuk maju. Tapi berkat pidato Sayidina Abdullah bin Rawwahah, mereka tidak gentar sedikitpun. Dalam pidatonya, Abdullah bin Rawwahah menyatakan bahwa menang ataupun kalah samasama baik. “Kekalahan yang kalian takutkan itu justru merupakan suatu yang kalian cari-cari, yaitu mati syahid… Kita berada dalam dua kemungkinan yang sama-sama baik, yaitu menang atau mati syahid.” Beliau juga menyatakan:

مَا نُقَاتِلُ النَّاسَ بِعَدَدٍ وَلَا قُوَّةٍ وَلَا كَثْرَةٍ، مَا نُقَاتِلُهُمْ إِلَّا بِهَذَا الدِّيْنِ الَّذِيْ أَكْرَمَنَا اللهُ بِهِ

“Kita tidak memerangi musuh dengan mengandalkan jumlah, kekuatan ataupun banyaknya pasukan. Kita memerangi mereka hanya berbekal agama ini, agama yang mana Allah telah memuliakan kita dengannya.”

Jadi, kalimat “Allah memuliakan kami dengan Islam” merupakan kata kunci yang sangat sering dipakai dalam sejarah umat ini. Entah berapa kali kata-kata itu tertulis dalam sejarah, yang jelas umat Islam saat ini harus belajar untuk kembali ‘mengeja’ kata ini. Sebab, pilar-pilar kesuksesan umat Islam pada masa lalu senantiasa berpondasi pada kekuatan hati yang terefleksi dalam slogan-slogan semacam ini. Sejarah seringkali terulang dengan warna yang berbeda. Karena itulah, sejarah sangat penting kita ingat, bukan untuk bernostalgia, tapi untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah berlalu.

Ketika Sayidina Umar bin alKhatthab datang ke Palestina untuk menyepakati perjanjian dengan penduduk Palestina yang waktu itu masih beragama Nasrani, ada yang menyarankan agar beliau mengganti jubahnya yang penuh dengan tambalan dengan jubah yang lebih baik. Hal itu agar beliau terlihat gagah di hadapan penduduk Palestina. Mendengar saran tersebut, beliau berkata:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالِاسْلَامِ ، وَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ فِيْ غَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

 “Kita adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan di selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”

Kita saat ini sedang berada dalam fase seperti yang dikatakan oleh Sayidina Umar ini. Bahwa jika umat Islam mencari kemuliaan melalui halhal lain di luar kemuliaan Islam, maka mereka akan menjadi umat yang lemah. Hal itu karena ketika pola pikir umat tentang kemuliaan dan kejayaan telah dipenuhi dengan parameter-parameter duniawi, maka lambat laun kepedulian dan kegigihan mereka dalam memegang agama ini akan pudar. Berganti dengan kegigihan dalam merebut kekuasaan, kekayaan, kenikmatan, kemasyhuran, dan semacamnya. Padahal, kegigihan dalam memperjuangkan agama membuat umat ini bersatu; sedangkan syahwat terhadap kekuasaan dan kekayaan membuat umat ini saling berebut, lalu bertengkar dan berpecah belah. Dari situlah umat ini menjadi sangat lemah.

Hal itu pernah ditegaskan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib dalam pidato beliau di awal-awal menjadi khalifah. Beliau menyatakan bahwa pintu perpecahan umat Islam terbuka garagara sekelompok orang yang menjadi boneka setan dalam urusan kekuasaan, akhirnya mereka membunuh Sayidina Utsman bin Affan. Dan, dalam pembuka pidatonya itu, beliau menyatakan kalimat yang senada dengan pernyataan-pernyataan di atas:

إِنَّ اللهَ أَعَزَّنَا بِالاِسْلَامِ وَرَفَعَنَا بِهِ، وَجَعَلَنَا بِهِ إِخْوَانًا، بَعْدَ ذِلَّةٍ وَقِلَّةٍ وَتَبَاغُضٍ وَتَبَاعُدٍ

 “Allah telah memuliakan kita dengan Islam, Allah telah meninggikan kita dengan Islam. Allah telah menjadikan kita bersaudara gara-gara Islam. Sebelum kedatangan Islam, kita adalah bangsa yang hina, bukan apaapa, serta saling membenci dan sulit bersatu.”

Ahmad Dairobi/sidogiri