نَقِّل فُؤادَكَ حَيثُ شِئتَ مِنَ الهَوى …  ما الحُبُّ إِلّا لِلحَبيبِ الأَوَّلِ

كَم مَنزِلٍ في الأَرضِ يَألَفُهُ الفَتى  … وَحَنينُهُ أَبَداً لِأَوَّلِ مَنزِلِ

Pindahkan hatimu kepada cinta manapun yang engkau suka … tapi cinta yang sesungguhnya hanyalah untuk cinta yang pertama. Betapa banyak tempat di muka bumi ini yang membuat seseorang terpesona… tapi, rasa rindu selalu untuk kampung halamannya yang pertama.

*****

Ibnu Abi Hajalah mengutip sajak Abu Tammam ini dalam Dîwânush-Shabâbah (Antologi Cinta) dalam rangkaian perdebatan para pujangga mengenai cinta sejati: apakah cinta yang pertama, ataukah cinta yang terakhir?. Abu Tammam berpendapat bahwa cinta pertama adalah cinta yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Abu Tammam menjadikan cinta tanah air sebagai dalil: bahwa sebagaimana seseorang selalu merindukan kampung halaman pertamanya, maka dia juga akan selalu merindukan cinta pertamanya.

Abu Hilal al-Askari dalam Dîwânul-Ma’âni membuat satu bab khusus tentang sajak para pujangga dan ujaran para bijak mengenai rindu tanah air sebagai tabiat alamiah manusia. Al-Askari menyatakan:

“Tanpa adanya cinta tanah air pada diri manusia, maka daerah-daerah gersang akan menjadi kota hantu yang mati.”

Begitulah! Semua orang pasti memiliki rasa cinta terhadap kampung halamannya. Itu alamiah. Rasulullah sendiri memiliki rasa cinta yang luar biasa terhadap Makkah. Saat pergi dari Makkah ke Gua Tsur untuk bersembunyi sebelum berangkat hijrah, beliau memandangi Makkah seraya bersabda:

“Engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Seandainya bukan karena penghunimu memaksaku untuk pergi, maka aku tidak akan meninggalkanmu.” (Ibnu Hajar alAsqalani dalam al-Mathâlib al-Aliyyah)

Cinta tanah air adalah fitrah alamiah manusia, tak ubahnya cinta kita kepada keluarga, sanak famili, dan handai tolan. Islam mengamini itu semua. Hanya saja kecintaan kita kepada apapun, tetaplah harus berada di bawah kecintaan kita pada kebenaran. Ini adalah pedoman mutlak dalam agama kita. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian, sehingga dia lebih mencintai aku daripada hartanya, keluarganya, dan manusia seluruhnya.” (HR an-Nasa’i)

Rasulullah, seperti tertera di atas, sangatlah mencintai Makkah. Bagaimana tidak!? Selain merupakan Tanah Suci yang paling mulia, Makkah juga merupakan tempat kelahiran beliau. Di sana beliau tumbuh. Di sana pula, kerabat-kerabat beliau berada, baik dari Bani Hasyim, Bani Mutthalib maupun Bani Zuhrah. Di sana pula, keluarga istri beliau dari Bani Asad.

Namun, apa yang terjadi setelah beliau hijrah ke Madinah? Rasulullah justru beberapa kali berperang melawan penduduk Makkah dan suku Quraisy, bangsa dan kabilahnya sendiri. Sejarah mencatat, ada lima perang besar Rasulullah  melawan Quraisy, yaitu Perang Badar, Uhud, Khandaq dan Fathu Makkah. Selain lima perang tersebut, masih ada beberapa perang lain dalam skala yang lebih kecil.

Nah, apakah cinta Rasulullah terhadap Quraisy sudah hilang semenjak beliau berada di negeri orang? Tentu saja tidak! Beliau melakukan semua itu untuk menyelamatkan umat manusia dari jurang kesesatan, meskipun harus bermusuhan dengan kabilahnya sendiri. Cinta beliau terhadap kebenaran melampaui cinta beliau kepada apapun. Bahkan, dalam Perang Badar, beberapa shahabat justru berperang melawan keluarganya sendiri yang masih kafir dan berada di pihak musuh, seperti yang terjadi pada Sayidina Abu Bakar dan Abdurrahman (putranya); Sayidina Hamzah dan al-Abbas (saudaranya); Ali bin Abi Thalib dan Aqil (saudaranya). Bahkan, menantu Rasulullah, Abi alAsh bin ar-Rabi’ (suami Sayidah Zainab) juga berada di pihak musuh.

Islam dan Nasionalisme Modern

Lalu, bagaimana dengan sikap kita terhadap nasionalisme saat ini, khususnya di Indonesia? Tentu saja konteksnya berbeda dengan di masa-masa awal Islam atau di masa abad-abad pertengahan itu. Islam versus Quraisy tidak bisa dengan serta merta ditarik menjadi Islam versus nasionalisme. Islam versus Quraisy sama sekali bukan Islam versus nasionalisme, melainkan kata lain dari Islam versus kekafiran dan kezaliman. Oleh  karena itu, Islam dan nasionalisme di masa modern tidak boleh dipahami dengan pendekatan yang kontradiktif, tapi harus dipahami dengan pendekatan yang kompromistis. Hanya saja, sebagai seorang Muslim, kita harus meletakkan ajaran Islam berada di atas undang-undang negara, serta di atas budaya dan adat istiadat masyarakat. Kita harus patuh kepada hukum negara dan dianjurkan mengikuti tradisi masyarakat, selagi keduanya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Ada kelompok yang terlalu mendewa-dewakan nasionalisme, sehingga terkesan sinis dan nyinyir terhadap gerakan-gerakan keagamaan. Mereka sangat mudah sekali curiga (bahkan fobia) terhadap gerakan-gerakan keislaman. Ada pula kelompok yang terlalu kaku dan dangkal dalam memahami agama, sehingga mengkafirkafirkan nasionalisme kebangsaan. Semua itu merupakan kecenderungan yang terlalu berlebihan. Dan, dalam semua lini sosial, dua kecenderungan ekstrem seperti itu nyaris selalu ada pendukungnya. Itu sunnatullah!

Baca juga: Membela Islam dan Tantangannya

Jadi, tidak boleh tidak, nasionalisme di masa ini harus dipahami sebagai kolega agama. Sebab, untuk bisa bertahan, agama membutuhkan negara. Dan, untuk bisa bertahan, negara membutuhkan rasa kebangsaan. Ini merupakan realitas yang tidak bisa kita hindari sebagai sebuah kenyataan dunia di masa sekarang. Oleh karena itu, kita harus menjalani hidup ini dengan elegan, baik sebagai umat maupun sebagai bangsa. Jangan sampai mencederai salah satunya; jangan meletakkan agama dan negara dalam posisi berlawanan; jangan memahami umat dan bangsa sebagai dua kubu yang saling berhadaphadapan. Sebab, persepsi seperti itu jelas merupakan paham yang tidak benar dan tidak relevan untuk generasi kita dan negeri kita.

Agama adalah tujuan abadi kita, sedangkan negara adalah kendaraannya. Kita harus mengemudikannya dengan benar supaya bisa sampai ke tujuan. Jangan sekali-kali menyerahkan kemudi kendaraan kepada orang yang sedang mabuk atau sedang ‘dikejarkejar KPK’. Jika suatu ketika, ternyata kendaraan itu mengalami kerusakan, maka kewajiban kita adalah berusaha untuk memperbaikinya, bukan malah membuangnya ke dalam jurang, apalagi menabrakkannya ke tiang listrik! Hmm…

Ahmad dairobi/sidogiri