Menilik sejarah, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar kaum santri. Semangat kaum sarungan dibingkai dengan perjuangan tanpa henti. Mulai dari Laskar Hizbullah hingga resolusi jihad KH. Hasyim Asyari, merupakan gambaran kongkrit nasionalisme santri. Karenanya, Sidogiri Media mendatangi salah satu tokoh agamis-nasionalis yang terkenal loyal menjaga NKRI. Berikut wawancara M. Muhsin Bahri, dari Sidogiri Media bersama Habib Luthfi, Pekalongan. Rais ‘Am Jam’iyah Ahlith Thariqahal-Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN).

Santri nasionalis, betulkah Habib?

Santri harus cinta pada tanah air dan bangsa Indonesia. Cinta tanah air adalah kasih sayang dan rasa cinta terhadap tempat kelahiran atau tanah airnya. Bisa dikatakan, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilahirkan oleh generasi ulama dan santri yang mempunyai idealisme cinta tanah air. Kalau tidak, mungkin saat ini kita bangsa Indonesia masih dijajah oleh Belanda, yang luas negaranya saja masih lebih kecil dari pada pulau Bali. Maka sangat jelas bila santri itu sangat nasionalis.

Cara mengekspresikan cinta tanah air, Habib?

Salah satunya dengan banyak berterima kasih kepada para tokoh pahlawan. Dalilnya sudah sangat jelas.

من لم يشكر الناس لم يشكر الله

Orang yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia, maka dia tidak akan tahu berterima kasih kepada Allah.

Tinggal bagaimana kita mengerti bagaimana berterima kasih. Karena terima kasih itu tidak hanya sekadar ucapan. Kalau caranya Imam Asy-Syadzili ketika beliau mempunyai jubah baru, maka sebelum jubah itu digunakan untuk hal lain, beliau wudhu lalu mendirikan shalat sebagai rasa syukur pada Dzat yang telah memberinya jubah baru itu.

Maka berterima kasihlah pada pendiri NU yang telah menyuarakan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Berterima kasihlah pada para pencetus Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dan para pahlawan yang telah berjuang dalam suksesi proklamasi 17 Agustus 1945, baik mereka yang tercatat oleh sejarah, atau belum sempat tercatat dalam sejarah. Saya sangat yakin, mereka adalah contoh paling pas untuk dijadikan tokoh-tokoh nasionalis tulen, yang cintanya pada tanah air dan bangsa melebihi cintanya pada diri sendiri.

Sumbangsih santri untuk NKRI?

Indonesia itu tidak hanya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Indonesia Tidak hanya kaya sumber daya alam yang melimpah ruah. Tapi Indonesia juga kaya para kiai, para ulama, para santri, dan para habaib. Di setiap jengkal bumi Indonesia, meski tidak semua, ada para kiai, ulama, santri dan habaib yang tetap setia memperjuangkan Indonesia.

Sehingga pagarnya Indonesia itu tidak tanggung-tanggung, karena yang menjadi pagarnya Indonesia bukan hanya orang sakti saja, tapi yang menjadi pagar Indonesia adalah hamba hamba yang dekat kepada Allah. Kalau kasarnya orang bilang, “Bila ada orang yang macam-macam dengan Indonesia, maka dia akan kualat. Sebesar apapun kekuatannya.” Itu sejarah yang mencatat, perjuangan kiai, ulama, santri dan habaib tidak perlu diragukan lagi untuk Indonesia.

Baca juga: Agama dan Politik Tidak Terpisahkan

Yang harus dilakukan santri saat ini, Habib?

Santri kita perlu diajarkan tentang sejarah Indonesia dengan baik. Sekarang kan banyak santri yang tidak hafal nama-nama pulau, misalnya. Ah buat apa menghafalkan nama pulau. Akibatnya, ketika ada satu pulau diambil oleh orang luar, kita akan diam saja karena tidak tahu. Sama seperti kakek yang sudah memiliki banyak cucu, biasanya pada cucunya sendiri saja dia lupa. Itu jangan sampai terjadi.

Saya sudah sering menyarankan agar kita membuat susunan nama nama pulau di Indonesia. Buku itu nanti disebarkan dan dibagi-bagikan ke setiap desa atau sekolah. Meskipun cuma ditumpuk ya gak apa-apa. Yang penting ada. Nanti kalau sewaktu-waktu dibutuhkan ya tinggal ambil. Nanti disusun sesuai dengan susunan huruf Hijaiyah. Nanti dimulai dengan huruf alif, dan seterusnya. Supaya kita terus mengingat Jas Merah, agar kita tidak sekali-kali melupakan sejarah. Untuk menguak mutiara terpendam.

Itu pula yang diajarkan Rasulullah. Paman Rasul ketika perang Uhud meninggal, yaitu Sayyidina Hamzah. Setiap tahun Rasulullah mengajak para shahabatnya untuk ziarah ke makam Sayyidina Hamzah. Beliau datang mengenang jasa para pahlawan.

Maka mengenang jasa para pahlawan itu termasuk meneladani Rasulullah. Sangat baik kiranya setiap tahun kita memperingati haul Jenderal Sudirman, misalnya. Jangan dikira Jenderal Sudirman itu hanya seorang jenderal. Beliau juga seorang santri. Beliau sangat cinta pada al-Quran. Beliau cinta mengajar anak-anak. Bahkan salah satu amalan beliau adalah tidak pernah lepas dari wudhu.

Kalau Ziarah ulama, kiai, habaib dan Wali Songo kan sudah banyak. Sekarang kita buat wisata makam pahlawan, karena masih sedikit. Itu sangat penting untuk terus memupuk rasa nasionalisme di dalam jiwa santri.