• Facebook
  • Twitter
  • Gmail

Makan Bersama

أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ فلعلكم تأكلون متفرقين قَالُوا نَعَمْ قَالَ  فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ) سنن ابن ماجه – 2 / 1093(

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang” Rasulullah bertanya, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah I, maka kalian akan diberi berkah padanya.”

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طَعَامُ اْلإِثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاَثَةَ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةَ كَافِي اْلأَرْبَعَةَ  )صحيح مسلم – 3 / 1630(

“Makanan dua orang cukup untuk tiga dan makanan untuk tiga orang mencukupi untuk empat orang.’”

Mensyarahi hadis di atas, Imam an-Nawawi berkata, “Dalam hadis ini terdapat sebuah anjuran agar saling berbagi dalam makanan, walaupun makanan itu sedikit tetapi akan terasa cukup, dan ada keberkahan di dalamnya yang diterima oleh seluruh yang hadir.”

Ibnu Hajar berkata, “Dari hadis tersebut kita dapat mengambil faedah, bahwasanya kecukupan itu hadir dari keberkahan berkumpul saat makan dan bahwasanya semakin banyak anggota yang berkumpul, maka akan semakin bertambah berkahnya.”

  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail

Meminum dari Bekas Wadah Orang Lain

Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa Sayidah Aisyah menyatakan, “Aku meminum dari satu gelas, lalu Rasulullah mengambil gelas itu dan meminum sisanya. Beliau meletakkan mulutnya ke bekas mulutku.

Cerita ini, kata Imam Ibnul-Hajj, merupakan keteladanan yang sengaja diajarkan oleh beliau kepada umatnya, agar mereka mendapatkan berkah dari sesama muslim. Beliau juga menyatakan bahwa termasuk bagian dari bidah adalah ketika seseorang memiliki wadah makan dan minum khusus.

Sayidina Abdullah bin Abbas berkata:

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِط عنها الأَذى وليَأكُلْها وَلاَ يَدَعْها لِلشَّيْطان وأمرَ أن تُسلَتَ القَصْعَةُ قَالَ  فإنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ في أيِّ طَعَامِكُمُ البَرَكَة )صحيح مسلم – 3 / 1607(

Termasuk sikap tawaduk adalah ketika seseorang meminum sisa minuman saudaranya (sesama mukmin).”

  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail

Memakan Sisa Makanan

أَغْتَنِمُ بَرَكَة سُؤْرِ الإِخْوَانِ وَلِأُكْرِمَ نِعْمَةَ اللهِ تَعَالَى لأَنِّيْ إِنْ لَمْ أَلْتَقِطْ ذَلِكَ قَدْ يَقَعْ عَلَى الأَرْضِ فَتَدُوْسُهُ الأَقْدَامُ

“Jika ada bagian dari makanan kalian jatuh, maka bersihkanlah kotorannya dan makanlah. Jangan tinggalkan makanan (yang jatuh) itu untuk setan.” Rasulullah juga menyuruh agar memakan sisa-sisa makanan yang ada di piring sampai bersih. Beliau bersabda, “Kalian tidak tahu, bagian mana dari makanan kalian yang memiliki berkah.”

Syekh Farqad as-Sabkhi (w. 131 H) menyatakan:

مِنَ التَّوَاضُعِ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ مِنْ سُؤْرِ أَخِيْهِ

“Aku ingin mendapatkan berkah dari sisa makanan saudarasaudaraku (sesama mukmin). Dan, aku ingin menghargai nikmat Allah I. Sebab, jika aku tidak mengambilnya, maka sisa-sisa makanan itu akan berserakan di tanah dan dinjak-injak oleh orang.”

M Romzi Khalik/sidogiri