Makam Sayidah Sukainah binti Husain di Bab Al Shaghir, kota kuno Damaskus, Syria. Sayidah Sukainah wafat tanggal 5 Rabiul Awal 117 H, di masa kekhilafahan Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan. Di kompleks ini juga dimakamkan Sayidah Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Makam Sayidah Sukainah menjadi sorotan karena beliau wafat di Madinah, jauh dari Damaskus. Adapun Zainab binti Ali, usai tragedi Karbala Muharam 61 H, beliau memilih menetap di Damaskus hingga wafat setahun kemudian (62 H).
Makam Imam Hasan al-Askari dan ayahnya, Imam Ali al-Hadi di Samarra, Irak. Narjis, istri Imam Hasan dan ibunda al-Mahdi versi Syiah juga dikebumikan di tempat ini. Narjis adalah bekas budak berdarah Romawi dan konon masih keturunan Santo Petrus, salah satu murid Nabi Isa alaihissalam menurut tradisi Kristen.
Samarra adalah ibukota Daulah Abbasiyah yang dibangun oleh khalifah ke-8, al-Mu’tashim Alallah bin Harun ar-Rasyid (218-227) untuk menggantikan Bagdad. Selama 58 tahun sejak 220 H, kota Samarra menjadi ibukota Abbasiyah hingga dikembalikan lagi ke Bagdad oleh khalifah ke-16, al-Mu’tadhid Billah bin al-Muwaffaq bin al-Mutawakkil pada tahun 279 H.
Sebuah makam di Kashan, bagian tengah Iran, konon disebut sebagai pusaranya Abu Lu’lu’ah pembunuh Khalifah Umar bin Khaththab. Selama 5 abad sejak era Daulah Safawiyah (1501-1736), tempat ini menjadi pusat perayaan Hari Raya Farhah Fathimah setiap tanggal 9 Rabiul Awal. Sekelompok penganut Syiah ekstrem menganggap hari raya ini sebagai ajang sukacita atas terbunuhnya Khalifah Umar sekaligus melantukan syair-syair pujaan untuk Abu Lu’lu’ah. Meski ritual ini resmi dihapus oleh pemerintah Iran pada tahun 2014 silam, namun jejak digital perayaan itu masih berseliweran di dunia maya.
| BACA JUGA: JELAJAH PERAYAAN-PERAYAAN SYIAH (2)
Makam Sayidah Fathimah Ma’shumah binti Musa al-Kazhim di Qom Iran. Salah satu tokoh yang paling dikultuskan oleh pemeluk Syiah. Keberadaan makam Sayidah Fathimah binti Musa menjadikan Qom sebagai kota suci kedua di Iran setelah Masyhad, dimana Imam Ali ar-Ridha dikebumikan.
Masjid Kufah, tempat Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dimakamkan. Meski membawa akidah menyimpang, namun Mukhtar sangat dihormati para penganut Syiah karena dianggap berjasa membalaskan dendam atas para aktor tragedi Karbala.
Peta politik tahun 66-67 H ketika Mukhtar bin Abi Ubaid mengusai beberapa kawasan mdi Irak. Nampak pada peta, kawasan Syam dikuasai oleh Abdul Malik bin Marwan (65-86 H), dan Hejaz di bawah komando Abdullah bin Zubair bin Awwam (62-73 H). Kekuasaan Mukhtar berakhir di tangan Mush’ab bin Zubair, gubernur Irak dari pihak Ibnu Zubair (67 H). 5 tahuh kemudian, Khalifah Abdul Malik terjun sendiri ke Irak dan menghabisi Mush’ab bin Zubair (72 H). Seluruh kawasan Islam pada akhirnya bersatu di bawah bendera Bani Umayah setelah Ibnu Zubair dikalahkan oleh Hajjaj bin Yusuf (73 H).










