BAHAGIA tak sesulit yang dibayangkan oleh kebanyakan manusia. Bahagia tak semahal yang diungkapkan oleh orang-orang kaya. Bahagia bisa didapatkan dengan cara sederhana, tanpa menghamburkan harta. Begitu pun dalam rumah tangga, kebahagiaan bisa diciptakan dengan mudah. Bukan dengan makan di restoran mewah ataupun jalan-jalan keliling dunia.
Setiap pasangan yang menginginkan kebahagiaan, salah satunya bisa didapatkan dengan menanamkan rasa saling pengertian. Saling memahami pada keadaan masing-masing pasangan. Tidak mudah emosi dengan kesalahan-kesalahan sepele yang masih bisa diperbaiki.
Salah paham terhadap pasangan kerap terjadi dalam rumah tangga. Jika tidak disikapi dengan benar, maka hal itu akan menjadi boomerang. Merugikan diri sendiri jika tidak segera diperbaiki. Menjelma menjadi benalu yang merusak taman yang telah dirawat sejak dini.
Dari kesalah pahaman tersebut, bisa menumbuhkan amarah dari pasangan masing-masing. Sosok wanita yang lembut dan penuh kasih sayang, memiliki potensi lebih kecil untuk marah dari pada seorang laki-laki. Jika sang istri kecewa dan marah, dia hanya bisa menangis sebagai bentuk ungkapan isi hatinya. Namun, jika seorang suami tidak bisa mengontrol amarahnya, maka kekerasan pun takkan bisa terelakkan.
Rasulullah bersabda mengenai siapa orang yang paling kuat, Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat.” Para shahabat pun bertanya, “Lalu orang yang paling kuat itu yang seperti apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Muslim)
Di dalam rumah tangga, hubungan tidak selalu harmonis dan romantis setiap saat. Konflik dapat terjadi dan terkadang pertengkaran suami istri tidak dapat dihindari. Parahnya, muncul emosi negatif berbentuk rasa marah, yang bisa membuat pertengkaran semakin runyam, sehingga ketika tidak bisa berpikir dengan sehat perceraian menjadi pilihan.
| BACA JUGA : MASIH BINGUNG, NIKAH SAJA!
Hubungan rumah tangga membutuhkan kerja sama dan kemauan untuk saling memahami. Oleh karena itu, perlu menahan emosi negatif di dalam diri agar tidak menjadi sumber konflik yang semakin besar. Tentunya ini bukan perkara siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun, lebih kepada siapa yang mau mengalah dan siapa yang mau memaafkan.
Perlu diketahui, laki – laki dan perempuan merupakan makhluk yang tidak sama. Ketika keduanya diikat dengan janji suci dalam pernikahan, seharusnya mereka berdua saling melengkapi. Keduanya harus saling mengerti dan memahami. Hal ini merupakan elemen penting dalam kehidupan rumah tangga.
Salah satu perbedaan di antara keduanya adalah dalam menyikapi masalah. Entah itu masalah pribadi masing-masing atau masalah yang menimpa rumah tangga. Suami, sebagai pemimpin rumah tangga harus bisa meredam amarah dirinya dan juga istrinya. Bukan malah menjadikan kobaran api amarah tersebut semakin merajalela. Tidak berlebihan menyikapi sesuatu yang menyinggung perasaannya. Jika memang bisa diselesaikan dengan cara yang baik, mengapa harus semakin dipersulit dengan pertengkaran.
Rasulullah adalah teladan umat, baik dalam kehidupan sehari-harinya atau pun dalam berumah tangga. Sikap Nabi dalam membina rumah tangga merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap suami. Sikap pengertian Nabi terekam dalam cerita yang tertulis dalam buku sejarah keharmonisan rumah tangga beliau.
Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Hingga menjelang shubuh ia tidak menjumpai suaminya tersebut tidur di sebelahnya. Dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah sedang tidur di depan pintu.
“Mengapa Nabi tidur di sini?” tanya Siti Aisyah. “Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu,” jawab Nabi.
Sikap yang ditunjukkan oleh beliau kepada Siti Aisyah merupakan sikap terpuji. Dengan dalih tidak ingin menganggu Siti Aisyah yang sedang istirahat, beliau tidak mengetuk pintu, bahkan dengan rela tidur di depan pintu. Siti Aisyah pun menunjukkan sikap shalihah sebagai istri. Sabar menunggu kedatangan Rasulullah hingga larut malam.
Prinsip mendasar dalam hidup berumah tangga adalah saling berinteraksi secara baik serta saling menghormati dan menghargai. Saling melengkapi kekurangan, berhati-hati dalam tutur kata, demi menjaga perasaan masing-masing pasangan. Setiap permasalahan yang muncul dipermukaan, diatasi dengan cara yang santun dan kepala dingin.
Ini sesuai dengan tuntunan yang
terdapat dalam surah an-Nisa ayat 19:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
” Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
| BACA JUGA : MAHAKARYA UNTUK PARA ILMUWAN
Terdapat kisah teladan dari KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab di sapa Gus Baha tentang rumah tangganya. Pada suatu hari Gus Baha ditanya istrinya, karena ia tidak pernah menegur atau memarahi istrinya. “Gus? kenapa sih, njenengan kok tidak pernah memarahiku?” Kata istri Gus Baha.
Jawaban Gus Baha sungguh di luar dugaan, yaitu ia tak pernah menegur karena bersyukur istrinya telah bertakwa kepada Allah.
“Bagaimana aku harus memarahimu, sedangkan kamu masih menyempatkan diri bersujud kepada Allah. Melihat kamu sujud kepada Allah saja aku sudah bersyukur dan merasa tidak pantas untuk memarahimu,” jawab Gus Baha kepada istrinya.
Gus Baha juga mengatakan, sejak kali pertama menikah belum pernah bertengkar dengan istrinya. Sampai istrinya pernah berkata, “Gus, saya itu kalau marah, mbok yo dilawan gitu!”
Kemudian, Gus Baha menjawabnya, “Allah itu Maha Baik kepada saya. Kalau kamu marah, saya marah, saya tidak dapat pahala. Maka, jika kamu marah, itulah cara Allah memberikan pahala kepada saya dengan cara cuma-cuma,” jawab Gus Baha.
Tidak ada satupun hubungan yang akan berjalan mulus dalam suasana yang aman dan damai. Pasalnya, beragam tantangan akan muncul di masa depan. Dengan kata lain, semakin panjang hubungan suami istri, cobaan akan semakin terasa. Dalam menghadapinya, sebaiknya pasangan suami istri membangun sikap yang rendah hati sebagai wujud dari kesabaran dan sikap dewasa untuk mengalah. Hubungan yang baik itu bukan tanpa pertengkaran, tapi apapun masalah yang dihadapi, pasangan suami istri belajar untuk mengerti dan memperbaiki




