DEWASA ini, tidak sedikit kalangan elit berpendidikan maupun orang pedesaan yang telah teracuni oleh perspektif negatif, bahwa Islam menomorduakan (second) status para pemeluk wanitanya? Mengapakah status wanita selalu berada di peringkat kedua—setelah suami—dalam hal rumah tangga? Dalam goresan tinta sejarah, kita juga banyak temui para tokoh berpengaruh Islam ternyata dari kalangan Adam. Adapun dari kaum Hawa, bisa di hitung dengan jari!
Jawaban dari berbagai pernyataan negatif semacam itu mudah saja: berarti Anda belum membaca secara utuh sejarah para istri Rasulullah (Ummahatil Mukminin) secara utuh. Anda belum mengenal sosok-sosok wanita muslimah yang menorehkan tinta emas bagi kemajuan Islam. Bagaimana pula Islam memuliakan kaum wanita, apalagi melihat jasa-jasa besar mereka dengan sebelah mata.
Mari kita alihkan perhatian ke belahan dunia lain, tepatnya di wilayah Hadramaut Yaman sana. Tempat yang agak terpencil dari gemerlap dunia, namun konsisten melahirkan banyak tokoh Islam kaliber dunia hingga saat ini. Sengaja kami jadikan Hadramaut sebagai sampel, karena corak aplikasi Islam di sana masih sangat orisinil dan tidak terkontaminasi oleh kepentingan apalagi ambisi duniawi.
Ada sosok Syarifah Khadijah (w. 1353 H), putri dari al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (w. 1333 H) pengarang Maulid Simthud-Durar yang sangat populer di Indonesia. Seorang muslimah hebat, berwawasan luas, dan memiliki perhatian besar bagi perkembangan ilmu. Sering membuka kajian Shahîh Bukhâri, Shahîh Muslim, dan referensi induk Islam lainnya kepada kaum wanita.
Syarifah Khadijah juga masuk dalam jajaran penyair kenamaan yang pernah di miliki Hadramaut. Ia juga sangat toleran kepada orang luar, terbukti dengan sikap keterbukaannya kepada Dame Freya Madeline Stark (w. 1993 M) seorang penjelajah Inggris yang pernah singgah di Seiwun dan bertemu dengannya pada tahun 1935. Stark sendiri mengakui akan wibawa serta keluasan ilmunya.
| BACA JUGA : MENGAPA ALIRAN SESAT BISA BOOMING?
Ada tokoh Muslimah hebat lainnya, Syaikhah Sulthanah az-Zabidiyah (w. 843 H), hidup pada abad ke-7 Hijriah. Pelopor sekaligus inisiator berdirinya pesantren khusus wanita di Hadramaut, setelah sukses mendirikan pesantren besar yang menjadi rujukan ilmu bukan hanya bagi kaum Hawa, tapi juga kaum Adam di tempat kelahirannya: yakni Desa al-‘Ar. Dan hal itu berpengaruh besar bagi iklim keilmuan di Hadramaut, sehingga banyak lahir lembaga pendidikan khusus wanita, seperti institusi Daruz-Zahra (Tarim) dan Universitas al-Ahgaf lil-Banat (Mukalla).
Ada pula Syarifah Fatimah binti Salim Ba Gharib (w. 1339 H), wanita kelahiran Gresik (Jawa Timur) yang luar biasa dan memiliki banyak sanad keilmuan. Beliau berkesempatan mendapat pendidikan dari para ulama Indonesia yang berasal dari Hadramaut. Hobi mencintai ilmu telah tertanam sejak usianya masih kecil. Di bawah pengawasan sang ayah, ia belajar berbagai disiplin ilmu seperti Matan Ajurûmiyah, Mukhtashar Bâ Fadhal, hingga yang berat sekelas Minhâjuth Thâlibîn karya Imam Nawawi. Selain juga suka menghadiri majelis-majelis para habaib kala itu.
Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (w. 1389 H) bercerita: “Saya melihat teks tulisan Ijazah para ulama dari beliau pada tahun 1330 H. Beliau membuat majelis khusus kaum wanita. Mengadakan majelis pembacaan kitab Shahîh Bukhâri di tiap bulan Rajab. Di bulan Ramadan membuat banyak acara ibadah, seperti shalat tarawih dari rumah ke rumah.”
Ada lagi Syarifah Mas’adah binti Hadi bin Ahmad al-Haddar, wanita agung yang alimah dan shalihah. Kecintaannya pada ilmu diceritakan oleh orang orang yang sezaman dengan beliau, termasuk kegemarannya membaca karangan ulama besar, terutama Ihyâ’ Ulûmiddîn karya Imam Abu Hamid al-Ghazali, dan kitab ‘Awâriful-Ma’ârif karya Imam as Suhrawardi. Dua kitab dalam disiplin ilmu Tasawuf itu biasanya dipelajari oleh ulama dan santri senior. Dalam berbagai kajian, beliau sering mengutip teks dari dua kitab tersebut.
| BACA JUGA : MADRASAH YANG PERLU DI-MADRASAH-KAN
Di samping dua kitab tersebut, Syarifah Mas’adah sangat senang membaca kitab Arba’în, karya Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani. Dari senangnya, hampir seluruh isi kitab itu beliau hafal, sekaligus dengan transmisi sanad di dalamnya. Beliau termasuk wanita yang tidak bisa tenang, kecuali dengan membaca kitab atau berzikir.
Sayid Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghummari (w. 1380 H), pakar hadis kenamaan yang menulis puluhan karya dalam berbagai disIplin ilmu terutama dalam ilmu Hadis. Guru besar para ulama Universitas al-Azhar asal Maroko dan hijrah ke Mesir itu menulis biografi guru-gurunya, dalam catatan khusus berjudul al-Mu’jamu al-Wajîz lil Mustajîz. Di situ disebutkan tiga orang wanita, dari jalur sanad ilmu beliau kepada ulama Hadramaut.
Mereka adalah Syarifah Khadijah binti Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar, Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husain bin Thahir, dan Syarifah Fatimah binti Abu Bakar bin Abdullah bin Umar bin Yahya. Yang perlu menjadi catatan di sini, ulama hebat sekaliber Sayid Ahmad al-Ghummari sangat berbangga hati karena mendapatkan sanad ilmu melalui wanita-wanita ini.
Dan yang membuat berdecak kagum, beberapa bukti naskah yang di tulis tangan oleh seorang wanita Hadramaut. Naskah dari kitab Najmul-Wahhâj, sebuah kitab karangan Imam ad-Damiri yang ketebalannya mencapai 10 jilid, dan kitab Nihâyatul-Muhtâj karangan Imamar-Ramli yang tebalnya berjumlah 4 Jilid. Kedua kitab tersebut merupakan syarah atau penjelasan dari kitab Minhâjuth Thâlibîn karangan Imam Nawawi di bidang kajian Fikih Syafii.
Bukan karena ketebalan kedua kitab tersebut yang bikin kagum, namun ada pesan di akhir naskah itu tertulis begini: “Mohon maaf kepada para pembaca jika menemukan banyak kesalahan dalam salinan ini, sebab saya menulisnya dalam keadaan menyusui.”
Meski dalam kondisi yang serba terbatas dan belum ada mesin cetak massal seperti saat ini, kaum perempuan di sana masih memiliki kepedulian yang begitu besar terhadap perkembangan khazanah ilmu pengetahuan. Sungguh wanita hebat dan luar biasa




