Tergolong sunnatullah segala sesuatu memiliki faktor penyebab, layaknya sebuah bom; suatu aliran yang menyimpang memiliki faktor pemicu sehingga dapat meledak ke seluruh penjuru. Bukan tanpa sebab, aliran tersebut meledak begitu saja.

Terkadang, kita heran melihat fakta bahwa ada kesesatan yang argumennya sangat lemah, bahkan terkadang terbilang konyol, namun memiliki pengikut yang sangat banyak. Ajaran lemah semacam itu tidak secara instan laris, melainkan ada penyebab yang menarik minat masyarakat untuk mengikuti atau setidaknya membicarakan ajaran tersebut.

Mengamati penyebab memerlukan analisis yang kuat. Daya analisis yang kuat tercermin dengan jelas dalam diri Imam al-Ghazali saat ia menganalisis aliran-aliran sesat pada zamannya.

Zaman beliau merupakan masa booming kelompok Syiah Bathiniyah, sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal aliran kebatinan, sehingga beliau melahirkan kitab fenomenal berjudul “Fadhâihul-Bathîniyah”. Padahal, kelompok tersebut secara kasat mata sangat lemah. Mereka beranggapan bahwa kebenaran hanya bisa diperoleh melalui imam gaib mereka.

Seharusnya, dengan pendapat mereka yang sangat lemah itu, masyarakat tentu tidak perlu melirik sedikit pun. Akan tetapi, realitanya terbalik. Kelompok lemah semacam itu, pada era keemasan pengetahuan Islam, malah bisa laris di pasaran. Kemasyhuran aliran ini beliau ceritakan dalam “al-Munqidz minadh-Dhalâl” (hlm. 79):

“Dan pada saat itu, bermunculan tokoh kebatinan, dan orang-orang mulai membicarakan terkait doktrin mereka: pengetahuan akan kebenaran hanya bisa didapat melalui imam yang maksum. Maka aku tergerak untuk menyelidiki pendapat mereka, agar aku dapat mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Kemudian, aku menerima perintah tegas dari khalifah untuk menyusun sebuah buku yang mengungkapkan mazhab mereka. Aku tidak dapat menolaknya, dan itu menjadi dorongan dari luar, yang digabungkan dengan dorongan dari dalam.”

Cerita itu menggambarkan betapa pandangan kebatinan menjadi viral, sehingga masyarakat banyak membicarakannya. Tidak hanya itu, bahkan pemerintah juga resah, sampai harus mengutus ulama sekelas Imam al-Ghazali untuk menanggapinya. Lagi pula, ini terjadi pada kelompok rendahan seperti kebatinan, yang tanpa pemicu apa pun, sungguh tidak ada satu pun orang yang berminat.

Mengapa sampai selaris itu? Imam al-Ghazali, setelah meneliti aliran kebatinan, memberikan penjelasan yang sangat mengejutkan. Dalam kitab yang sama (hlm. 81), beliau menjelaskan:

“Kelompok kebatinan bisa masyhur justru lantaran dari internal kita sendiri yang terlalu fanatik, sehingga membantah kebatinan secara membabi-buta.”

Mengamati penyebab keberhasilan aliran sesat, Imam al-Ghazali menyimpulkan bahwa kelompok kebatinan bisa masyhur justru karena fanatisme yang berlebihan dari pihak yang menentang mereka. Tanpa fanatisme tersebut, aliran tersebut, dengan segala kelemahannya, tidak akan mencapai derajat ini.

Gambarannya, persis semisal kita berperang melawan musuh yang hanya menggunakan satu busur panah; menyerangnya dengan puluhan bom nuklir justru tidak sesuai dan hanya akan merusak keadaan. Bom yang dilepaskan hanya akan menambah booming pihak lawan, dan masyarakat akan beranggapan bahwa lawan kita sangat tangguh. Andai kita mengutus satu orang untuk mengambil panah mereka, masalah akan selesai. Lawan akan kalah dengan konyol.

Kasus ini selaras dengan pernyataan Imam al-Ghazali dalam “Faishalut-Tafrîqah bainal-Islâm waz-Zanâdiqah” saat memandang mengapa banyak perbedaan pendapat:

“Karena orang-orang bodoh, terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama.”

Dari sini, pepatah yang sangat masyhur dari Imam al-Ghazali dalam “al-Qishthâs al-Mustaqîm” (hlm. 44) menjelaskan:

“Teman yang bodoh itu lebih buruk ketimbang musuh yang berakal.”

Sebenarnya, banyak kesesatan saat ini yang semakin eksis akibat su’un-nushrah, pembelaan yang buruk dari kita sendiri. Oleh karenanya, sebelum kita berkomentar atau mengunggah tanggapan kita di platform manapun, sebaiknya pertimbangkan terlebih dahulu: apakah dengan komentar ini malah menambah angin segar kepada yang kita tanggapi.

Betapa banyak orang yang sengaja membuat kejanggalan agar banyak yang menanggapi, sehingga kejanggalan itu menjadi besar dan memiliki banyak pengikut. Jika itu terjadi, jangan-jangan komentar kita yang membantu mereka. Jangan-jangan komentar kita bukan malah membela ajaran Islam, melainkan memperburuk citra ajaran Islam yang benar di mata masyarakat. Na’udzubillâh min dzalik!

Aktivis Annajah Center Sidogiri

Muhammad ibnu Romli/Sidogiri

Spread the love