AL-IRAQI SANG PENTAKHRIJ KITAB IHYA

Nama aslinya adalah Abdurrahim bin al-Husain bin Abdurrahman bin Abi Bakr bin Ibrahim al-Kurdi ar-Raziyani keturunan bangsa Irak, kelahiran kota Mahran, Mesir dan bermazhab Syafii. Kunyah-nya adalah Abul-Fadhl, dan digelari Zainuddin. Lahir pada tanggal 21 Jumadal-Ula 725 H. Demikian beliau adalah ulama abad ke-7.

Pada usia delapan tahun, al-Hafiz al-Iraqi telah hafal al-Quran, kitab at-Tanbîh dan al-Hâwî lil-Fatâwi karya Imam al-Mawardi. Kemudian beliau menyibukkan diri memulai menuntut ilmu dalam ilmu qira’at (ilmu tentang riwayat-riwayat bacaan al-Quran).

Awalnya beliau mendalami ilmu gramatika bahasa Arab, kemudian melanjutkan studi hadis kepada Syekh Abdurrahim bin Syahid al-Jaisy dan Ibnu Abdil Hadi. Kemudian beliau menekuni belajar ilmu takhrij-hadits.

Beliau mengajar di banyak institusi pendidikan di Kairo, seperti Madrasah Darul Hadits, al-Kamilah, azh-Zhairiyyah al-Qadimah, al-Qaransiqriyah, Jami’ Ibnu Thulun, dan al-Fadhilah. Beliau juga pernah tinggal di dekat al-Haramain dalam beberapa waktu, sebagaimana beliau pernah menjabat sebagai hakim di Madinah, berkhutbah dan menjadi imam di sana.

Karena kedalaman ilmunya dan wawasannya yang luas, banyak ulama yang memberikan sanjungan kepadanya. Imam al-‘Izz bin Jama’ah, gurunya, berkata: ”Setiap orang yang mengaku pakar hadis di Mesir selain al- ‘Iraqi, maka dia hanya mengaku-ngaku saja.” Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: ”Al-Iraqi adalah hafiz hadis zaman ini.” Ungkapan senada juga disampaikan oleh Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Jauzi, ulama malikiyah.

Al-Iraqi banyak memiliki karangan kitab dalam semua disiplin ilmu. Namun, yang paling menonjol adalah ilmu hadis, salah satunya yang paling melegenda adalah kitab At-Tabshirah wat-Tadzkirah yang juga dikenal dengan sebutan alfiyyah al-Irâqi fî ‘Ulûmil-Hadîts, juga dikenal dengan nama Nadhmud-Durar fi ‘Ilmil-Atsar.

Sejatinya, kitab ini merupakan ulasan ulang atau ringkasan dari apa yang telah dipaparkan oleh Ibnu Shalah sebelumnya yang kemudian oleh Al-Iraqi disajikan dalam bentuk nadham. Di samping itu, juga merupakan ringkasan kitab karya Imam at-Tirmidzi, ar-Ramahrumuzi dan Ibnu Abi Hatim.

Dalam menyusun kitabnya, Al-’Iraqi sangat memperhatikan sistematika penulisan. Beliau ingin pembacanya mudah memahami dan bisa menangkap pesan dalam kitab tersebut. Pemahaman yang tahqiq ketika mengomentari karya Ibnu Shalah tersebut, serta penambahan hal hal yang baru di dalamnya, beliau telah memberikan sumbangsih yang besar bagi khazanah keilmuan Islam.

Ada beberapa penekanan yang dilakukan oleh al-Iraqi dalam kitab nadzam tersebut. Al-Iraqi lebih menekankan pada pembahasan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan seorang perawi, yakni jarhu wa ta’dil daripada pembahasan-pembahasan yang tidak begitu penting, seperti takrif hadis itu sendiri.

Ada cerita menarik tentang ketidaksetujuan al-Iraqi terhadap pemikiran Ibnu Shalah. Hal ini berawal dari munculnya fatwa tentang pelarangan melakukan studi kritik hadis yang muncul pada generasi setelah masa atau periode tokoh-tokoh kolektor hadis terkemuka.

Fatwa Ibnu Shalah tentang pelarangan dilakukan kritik hadis oleh siapapun selepas kodivikasi oleh kolektor yang kredibel, agaknya sejalan dengan fatwa beliau yang menegaskan bahwa pintu ijtihad di bidang fikih telah tertutup pada akhir abad ke-4 Hijriyah.

Fatwa pelarangan kritik hadis sesudah masa kolektor hadis standar sangat tepat, setidaknya sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan dilakukan oleh orang-orang yang tidak beritikad baik, tidak menguasai seluk-beluk hadis dan sistem pembinaan syariat, atau berspekulasi dengan penerapan kaidah kritik rasional (naqd ‘aqly) yang tidak dikenal oleh tradisi muhadditsin masa lalu.

Terhadap fatwa Ibnu Shalah. Muncul keberatan dari kalangan ulama generasi sesudahnya, dan yang masyhur dari kritikan itu datang dari al-Hafiz al-Iraqi. Diantara alasan beliau atas keberatan terhadap fatwa Ibnu Shalah adalah bahawa volume perbendaharaan hadis yang telah terseleksi matannya teramat kecil bila dibandingkan dengan jumlah cadangan hadis yang beredar luas dikalangan muhadditsin.

Jadi, apabila fatwa Ibnu Shalah itu disikapi dengan harga mati, akan berakibat pada tersia-siakannya sejumlah besar perbendaharaan sumber ajaran Islam yang amat potensial bagi kelengkapan doktrinalnya.

Oleh sebab itu, Zainuddin al-Iraqi serta ulama yang sependapat dengan beliau berpendapat bahwa pintu ijtihad terbuka bagi orang yang kapasitas wawasan pengetahuannya dalam bidang hadis cukup memadai, dan benar-benar menempuh langkah metodologis penelitian sanad serta pengujian gejala ‘illat hadis, untuk menganalisa hadis sehingga pengambilan keputusan shahih-dha’if-nya.

Pada hari Rabu tanggal 9 Syaban tahun 806 H, al-Hafizh al-‘Iraqi wafat setelah beliau keluar dari kamar mandi. Tepatnya pada umur 81 tahun. Banyak ulama yang menyalati jenazah beliau, satu di antaranya adalah Syekh Syihabuddin adz-Dzahabi.

Afifuddin/sidogiri

Baca juga: saatnya Mencetak Generasi Cerdas

Baca juga: Kejuaraan kitab

Spread the love