Mesir terkenal dengan kebudayaannya yang telah berkembang sejak milenium kedua sebelum Masehi, dibangun dengan sistem monarki atau kerajaan. Namun, pada tahun 1952-1953 Masehi, sistem monarki ini mengalami akhirnya di tangan Gamal Abdul Nasser.
Pada tahun 1948, Mesir bersama negara-negara Liga Arab terlibat dalam perang melawan Israel, yang berakhir dengan kemenangan Israel. Kejadian ini menyebabkan kerugian besar bagi negara-negara Arab, terutama Mesir yang memberikan kontribusi terbesar dalam perang tersebut.
Setelah perang, Mesir mengalami krisis ekonomi yang serius. Pada saat yang sama, pemimpin Mesir saat itu, Pangeran Farouk, tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyatnya. Ia terus hidup mewah ketika negara menghadapi kesulitan pasca-perang.
Raja Farouk adalah Raja Mesir terakhir yang memerintah secara de facto (meskipun secara de jure masih ada Raja Fuad II setelahnya). Ia menerima takhta dari ayahnya, Raja Fuad I, pada tahun 1936. Ketika dilantik, ia menjadi raja Mesir pertama yang berbicara langsung kepada rakyatnya melalui radio, meskipun pada saat itu ia baru berusia 16 tahun.
Sejak kecil, Raja Farouk terkenal suka malas dan hidup mewah, yang kemudian mempengaruhi cara ia memimpin Mesir saat dewasa. Pada puncaknya selama Perang Dunia II, Raja Farouk terkenal karena keberlanjutannya. Ia memerintahkan agar semua lampu di istananya di Alexandria tetap menyala, meskipun lampu milik rakyat mati selama pengeboman oleh tentara Italia.
Tabiat buruk lainnya adalah kebiasaannya mencuri barang secara sembunyi-sembunyi. Saat kunjungan resmi ke Iran, Raja Farouk tertangkap mencuri pedang adat Shah Iran. Ia juga pernah tertangkap mencuri jam kantong berharga milik Winston Churchill.
Akhirnya, Gamal Abdul Nasser muncul dan merencanakan kudeta. Nasser adalah mantan perwira tinggi Mesir yang membentuk Gerakan Perwira Bebas setelah perang melawan Israel. Gerakan ini terdiri dari perwira angkatan darat yang dinonaktifkan, yang ingin mengakhiri sistem monarki yang bersekutu dengan Kerajaan Inggris.
Setelah kembali ke Mesir, Nasser secara diam-diam mulai merencanakan kudeta. Dia mengumpulkan mantan perwira, mendistribusikan brosur yang menyerukan reformasi militer, memasok senjata, dan memberikan pelatihan yang diperlukan. Pada 26 Januari 1952, unjuk rasa dimulai di Kairo sebagai tanggapan terhadap pembantaian polisi oleh pasukan Inggris di Ismailia.
| BACA JUGA : KEMBALILAH PADA JANTUNG SALAF
Kerusuhan ini dianggap oleh Nasser sebagai peluang, karena ia yakin banyak pihak yang akan mendukungnya. Dengan matang, ia merencanakan kudeta yang mencapai puncaknya pada malam 23 Juli 1952. Nasser berhasil menduduki gedung Komando Tinggi di Kubri Alkuba, dan kudeta berjalan lancar.
Gamal Abdul Nasser memaksa Raja Farouk turun takhta dan mengasingkannya ke Monako. Setelah Farouk digulingkan, anaknya yang masih bayi diakui sebagai Raja Fuad II secara de jure, tetapi secara de facto, pemerintahan monarki telah dihapuskan setelah penggulingan Raja Farouk. Setahun kemudian, pemerintahan monarki dihapus secara resmi dan Mesir menjadi sebuah Negara Republik yang berdaulat.
Di pengasingan, Raja Farouk tetap terbuai oleh gaya hidup mewah. Kesukaannya terhadap makanan lezat membuatnya menjadi gemuk, dengan berat badan mencapai 140 kg. Pada 18 Maret 1965, setelah sebuah pesta makan malam, Raja Farouk merebahkan diri di atas meja makan dan tak lama kemudian meninggal.
M. Fauzan Imron/Sidogiri




