Membawa tema ‘Merosotnya marwah tokoh-tokoh NU’, kami mewawancarai salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), ulama tertua dan paling dituakan di Indonesia. Jumat (28/02) kami berangkat ke Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang. Lewat salah satu khadim Mbah Maimun -sapaan akrab beliau- yang sudah kami hubungi sebelumnya, kami berhasil mewawancarai ulama yang kini usianya sudah menyentuh angka 92 tahun Hijriyah. Karena hal itu pula, kami diingatkan agar sesi wawancara tidak terlalu lama, mengingat kondisi kesehatan beliau yang perlu terus dijaga. Nah, bagaimana sebenarnya Nahdlatul Ulama, serta sikap bijaksana kita sebagai keluarga besar jamiyah diniyah terbesar ini. Ikuti wawancara eksklusif M. Muhsin Bahri dari Sidogiri Media, bersama KH. Maimun Zubair.

Memandang Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar Aswaja?

Ya, jangan ke saya itu. Banyak lainnya yang ada di kepengurusan NU.

Injih kiai. Jengengan kan juga di Mustasyar NU Kiai. Kami ingin konsultasi, bagaimana sebenarnya Mbah Hasyim Asyari sangat berwibawa menahkodai Nahdlatul Ulama ini?

Ya, dengan kitab-kitab salaf itu. Ya itu.

Lalu bagaimana sikap bijaksana dalam menjaga NU sekiranya tetap berjalan di khittahnya?

Maksudnya?

Sikap kita sebagai pengurus bagaimana, dan sikap kita sebagai warga nahdliyyin bagaimana?

Ya, mengikuti AD-ART nya, kemudian ya mengikuti khashaish-nya yang sudah jelas, dan kembali pada semua salafunash-shalih itu.

Kalau agar NU tidak pecah-pecah, Kiai?

Ya, memang harus pecah. Ada tangan, ada kaki, ada kepala. Tidak bisa semuanya menjadi tangan. Tidak bisa semuanya menjadi kaki.

Oh, injih harus pecah. Tapi agar tetap satu hati bagaimana, Kiai?

Nah, untuk itu harus kembali pada jantungnya.

Maksud jantungnya, Kiai?

Ya, kembali pada jantung salaf. Kembali pada apa yang sudah dijelaskan oleh para ulama salaf. Kembali pada alQuran, as-Sunnah, ijmak dan qiyas.

Lalu, bagaimana sikap paling bijaksana menghadapi oknum NU yang sudah mulai melenceng dari jalan salaf?

Dengan halus.

Artinya, Kiai?

Ya, Rasulullah sendiri kan sudah mengajarkan. Pada orang munafik saja Rasulullah tidak langsung terang-terangan, nama-nama mereka dirahasiakan oleh beliau.

Tapi kan ada perangnya juga, Kiai?

Iya, tapi perang yang diajarkan Rasulullah kan paling santun, ada aturannya, dan sangat baik.

Seandainya terpaksa kita harus bersikap tegas terhadap oknum yang ingin menghancurkan NU?

Ya, gak bisa dihancurkan.

Tapi bila marwahnya sudah berkurang di kalangan Nahdliyyin, Kiai?

Ya, mereka jadi pemimpin karena punya marwah. Kalau tidak punya, ya tidak jadi pemimpin. Kemudian, rukun iman itu ada berapa?

Ada enam, Kiai!

Nah, seharusnya itu kan cukup ada 5; iman pada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul dan pada hari akhir. Tapi kenapa ditambah satu, iman kepada Qada dan Qadar Allah? Ya, karena di dunia ini memang banyak hal yang aneh. Dari hal yang aneh itulah kita diperintah iman pada Qada dan Qadar Allah.

Spread the love