كَانَ أَهْلُ الدُّنْيَا يُبَذِّلُوْنَ دُنْيَاهُمْ لِأَهْلِ العِلْمِ رَغْبَةً فِيْ عِلْمِهِمْ، فَأَصْبَحَ أَهْلُ العِلْمِ اليَوْمَ يُبَذِّلُوْنَ عِلْمَهُمْ لِأَهْلِ الدُّنْيَا رَغْبَةً فِيْ دُنْيَاهُمْ، فَرَغِبَ أَهْلُ الدُّنْيَا بِدُنْيَاهُمْ وَزَهَدُوْا فِيْ عِلْمِهِمْ

Dulu, orang berharta mengorbankan hartanya karena menginginkan ilmu agama. Tapi sekarang, justru orang berilmu yang mengorbankan ilmunya karena menginginkan harta. Akibatnya, orang berharta semakin menyenangi harta mereka dan semakin enggan dengan ilmu agama.

– Imam Hasan al-Bashri

Apa yang dikatakan Imam Hasan al-Bashri itu adalah realitas yang mungkin ada dalam setiap masa. Bedanya, semakin akhir, realitas itu terus memburuk, semakin parah, hingga menjadi sangat kronis. Beliau menyatakan hal itu pada abad kedua hijriah, masa yang masih dianggap sebagai masa ulama salaf. Pada masa yang masih ‘segar’ itu sudah ada orang-orang berilmu yang menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperoleh kepentingan duniawi dari para penguasa dan orang-orang kaya. Waktu itu, mungkin masih satu atau dua orang, namun sudah sangat cukup untuk membuat Imam Hasan al-Bashri merasa sesak dada dan sangat muak, sebab hal itu merupakan kecenderungan yang sangat berbahaya bagi keterjagaan agama.

Pesan Imam Hasan al-Bashri ini semakin akhir pasti semakin aktual dan menohok. Ahli ilmu agama yang  menumbalkan ilmunya akan terus menjadi fenomena abadi yang semakin menjadi-menjadi. Sebab, seiring dengan perjalanan waktu, manusia akan semakin pragmatis, tanpa pandang bulu. Penguasa semakin pragmatis, rakyat semakin pragmatis, pengusaha semakin pragmatis, bahkan para pemuka agama sekalipun juga akan semakin pragmatis.

Itulah yang menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan, termasuk kepada para ulama. Karena ada figur-figur pragmatis yang terlanjur diulamakan. Jika misalnya hanya ada satu sebab yang membuat wibawa ulama itu jatuh, maka sebab itu adalah karena adanya orang-orang yang sebenarnya bukan ulama, tapi diulamakan.

Kita tahu, bahwa ulama yang sesungguhnya harus memiliki tiga pondasi kualitas yang kokoh, yaitu wawasan keagamaan yang luas, integritas yang mapan dan spiritualitas yang mendalam. Jika satu saja dari tiga pilar itu tidak terpenuhi, maka dia bukanlah ulama yang sesungguhnya. Jika diulamakan, maka akan menjadi ulama sû’ yang sangat berbahaya bagi umat. Imam asy-Sya’bi menyatakan:

كُلُ اُمَّةٍ عُلَمَاءُهَا شِرَارُهَا اِلَّا الْمُسْلِمِيْنَ فَاِنَّ عُلَمَاءَهَا خِيَارُهَا

“Semua umat (selain umat Islam), para pemuka agama mereka adalah orang-orang yang paling buruk di antara mereka, kecuali umat Islam. Para ulamanya adalah orang-orang terbaik di antara mereka.”

Para ahbâr (pemuka agama Yahudi) dan para ruhbân (pemuka agama Nasrani) adalah figur yang paling dicela di dalam al-Quran, karena mereka telah menyesatkan umat dan menyelewengkan ajaran agama demi kepentingankepentingan pragmatis. Nah, penyakit para pendeta tersebut sangat mungkin akan menular kepada para pemuka agama Islam ketika orang-orang yang tidak berkualitas ulama terlanjur diulamakan oleh opini publik. Bisa karena faktor popularitas, keturunan, kedudukan dan semacamnya.

Jika para ‘ulama gadungan’ tersebut tidak berilmu, maka mereka berpotensi besar menyesatkan umat dengan sebab kebodohannya. Mereka membuat ucapan-ucapan nyeleneh dan menyimpang, lalu dianggap sebagai kebenaran oleh para pengikutnya. Kalaupun misalnya mereka memiliki keahlian dalam hal ilmu agama, maka mereka berpotensi besar mendistorsi ajaran agama, ‘memperkosa dalil’ dan membuat penafsiran-penafsiran salah, karena dorongan nafsu, fanatisme golongan dan kepentingan-kepentingan sesaat belaka.

Dan, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah fakta bahwa konsepsi pikiran masyarakat kita telah banyak dipengaruhi oleh sajian media. Akibatnya, sumber asumsi mereka tentang ulama lebih sering diisi oleh kanal-kanal media dengan segala atributnya. Masyarakat kita sering menyaksikan tokoh-tokoh yang diulamakan oleh media, oleh ormas, oleh publik, atau bahkan oleh partai politik, padahal mereka masih jauh panggang dari api, baik dari segi keilmuan, integritas, maupun spiritualitasnya.

Kenyataan tersebut berpotensi besar menyebabkan jatuhnya wibawa ulama, sebab orang-orang yang sering diberitakan dan ditampilkan dengan gelar kiai, buya, tuan guru dan ustadz adalah figur yang belum memenuhi ‘kualifikasi’ ulama. Sementara itu, para ulama yang betul-betul layak dijadikan panutan lebih banyak tersembunyi di sudut-sudut desa dan bilik-bilik pesantren yang jauh dari hiruk pikuk pragmatisme. Mereka sangat jauh dari kanal-kanal liputan.

Meskipun tentu saja masih ada ulama-ulama istikamah yang akrab dengan media dan berita, namun jumlah dan intensitas mereka di media tidaklah seberapa.

Gara-gara ulah oknum-oknum tersebut, tidak sedikit masyarakat yang cenderung melakukan generalisasi. Sehingga, ketika para ulama yang istikamah menyuarakan kebenaran, maka masyarakat kita menanggapinya dengan nada sinis, nyinyir dan penuh rasa curiga. Apalagi dengan dahsyat perkembangan teknologi informasi, tradisi nyinyir itu telah memiliki wadah yang canggih melalui media-media sosial. Gara-gara setitik nila, rusaklah susu sebelanga.

Syekh Ali Ash-Shallabi ketika menuliskan sejarah Khawarij di masa pemerintahan Sayidina Ali bin Abi Thalib, menyatakan bahwa salah satu watak Khawarij yang berkembang luas di masa modern adalah kegemaran masyarakat mencela para ulama yang istikamah. Penyebab utamanya adalah karena pemahaman mereka yang dangkal, mengikuti kepentingan nafsu, atau karena iri dengki dan fanatisme golongan. Sehingga, kebenaran yang disuarakan oleh para ulama diterima dengan sikap antipati, karena tidak sesuai dengan kepentingan, pikiran, nafsu, dan rasa fanatisme mereka yang sempit.

Inilah yang menyebabkan para musuh Islam bertepuk tangan, sebab hal itu hanya akan menyebabkan umat Islam kehilangan pegangan dan panutan. Wibawa ulama merupakan kunci bagi kebaikan masyarakat. Ketika wibawa ulama sudah jatuh, maka runtuhlah benteng terkuat umat ini. Dan, hal itu merupakan bencana yang sangat besar bagi kebaikan agama dan moralitas masyarakat. Imam Sahl at-Tustari menyatakan:

لَايَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوْا السُّلْطَانَ وَالْعُلَمَاءَ فَاِذَا عَظَّمُوا هَذَيْنِ اَصْلَحَ اللهُ دُنْيَاهُمْ وَاُخْرَاهُمْ وَاِذَا اسْتَخَفُّوْا بِهَذَيْنِ اَفْسَدَ دُنْيَاهُمْ وَاُخْرَاهُمْ

“Masyarakat akan baik-baik saja selagi mereka menghormati penguasa dan ulama. Jika mereka menghormati keduanya, maka Allah akan menjaga kebaikan dunia dan akhirat mereka. Jika mereka meremehkan penguasa dan ulama, maka Allah membuat kehidupan dunia dan akhirat mereka menjadi rusak.”

Ahmad Dairobi/sidogiri