Peralihan zaman ke era post modern, membuat banyak kalangan pemuda menunjukan perubahan. Modernisasi kebarat-baratan yang menjangkit di masyarakat belahan dunia bagian timur begitu amat terasa. Berbagai macam produk budaya Barat sudah banyak terlihat di pedesaan. Bahkan produk-produk itu sudah sering dijumpai di kalangan yang notabenenya pesantren. Dari sekian banyaknya produk, tidak sedikit ditemukan kontenkonten yang dianggap berbahaya. Dari itu, ada juga yang nyawa kebaratbaratannya begitu samar, akan tetapi dampaknya harus lebih dikhawatirkan. Kesamaran yang terus terulang dan terfokus pada satu tujuan, sedikit demi sedikit membuat seseorang terdoktrin tanpa sadar.

Doktrin itu sedikit demi sedikit mengikis ghirah yang ada pada diri kita. Keislaman, kesantrian, dan kenegaraan, semuanya mulai memudar seiring berjalannya waktu. Muslim merasa malu mengikuti sunnah Rasullullah, masyarakat sudah mulai bosan dengan produknya sendiri, santri sudah tidak pede terlihat menggunakan seragam pesantrennya. Pertanyaannya, kenapa harus malu? Apakah hal itu salah? Dari lubuk hati, kita semua sudah tahu jawabannya. Sebagai Muslim ataupun santri, kita tidak perlu malu untuk tampil di depan umum memakai sarung dan kopiah. Karena semua busana itulah yang akan melindungi kita dari keburukan. Kalau ada santri malu keluar pakai sarung, maka perlu ditanyakan, “Emangnya kamu mau ngapain?”. Selagi kita tidak berbuat keburukan, ngapain malu pakai sarung dan kopiah.

Diakui atau tidak, kita semua sadar, bahwa sebenarnya ghirah orang Timur mulai terkikis oleh modernisasi Barat. Kita boleh saja mengikuti perkembangan zaman, dengan catatan tanpa menghilangkan ruh kesantrian. Perlu diingat bahwa ghirah dan fanatik itu berbeda, baik secara hukum dan makna. KH. Hasyim Asyari dalam kitabnya bertajuk at-Tibyan fin-Nahyi ‘an muqata’atil-Arham wal-Ikhwan, beliau menjelaskan bahwa kefanatikan terhadap suatu perkara itu tidak benar. Kefanatikan pula cenderung menjadikan seseorang gemar menyalahkan yang tidak sama dengannya dan tidak mau disalahkan atas pilihannya. Kita sebagai Muslim, terutama santri tidak boleh seperti itu. Karena fanatik hanya akan menjerumuskan terhadap perpecahan di antara kalangan kita.

Bedahalnya dengan ghirah. Ghirah adalah gejolak dari dalam hati seseorang ketika ada yang mengusik ideologinya, yang kemudian dituangkan dalam bentuk penambahan kinerja atau perbaikan diri. Lebih mudahnya, ghirah adalah semangat kebaikan dan keadilan. Sebut saja Buya Hamka, beliau pernah memunculkan stateman yang menggambarkan apa itu ghirah, Beliau berkata, “Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”. Jadi, ghirah bagi Muslim ataupun santri adalah kobaran api semangat yang harus dibawa kemana saja dan dilindungi, jangan sampai padam.

Saya, alhamdulillah, yang ditakdiran menuntut ilmu di Pesantren Sidogiri, dititipi kobaran api itu oleh Allah untuk dipertahankan. Kobaran api itu menjadikan saya mampu untuk tampil di depan halayak umum tanpa malu dengan menunjukan kesantrian saya. Kalaupun ada yang merasa risih dengan keberadaan saya, akan saya katakan padanya “Lihatlah alamamaterku! saya santri, santri Sidogiri. Saya pakai sarung hijau, baju putih, dan kopyah putih. Dan saya bangga atas itu”. Semoga kita semua diberi ketetapan hati, oleh yang Maha Membolak-balik hati. Amin…