Kesetaraan gender dan feminisme merupakan paham asing yang diimpor ke dalam dunia Islam, menimbulkan masalah besar dalam pemikiran, ajaran keagamaan, dan tatanan sosial. Artikel ini menggali dampaknya, terutama dalam konteks falsafah Barat yang berbeda dengan pandangan Islam.

Paham kesetaraan gender telah menjadi sistem terapkan, mulai dari kuota perempuan di parlemen hingga kebijakan penyetaraan di berbagai bidang. Artikel ini menguraikan falsafah dan sejarah gerakan feminisme Barat yang berlawanan dengan pandangan Islam, yang menekankan keterpaduan dan saling melengkapi dalam penciptaan.

Falsafah hidup Barat, yang berpusat pada pertentangan dan pertikaian, kontras dengan prinsip Islam yang menekankan kemaslahatan melalui keterpaduan unsur alam. Wanita dalam sejarah Barat seringkali didiskreditkan dan ditindas, berbeda dengan Islam yang memuliakan perempuan dan melepaskannya dari budaya jahiliah yang merendahkan.

Artikel ini juga menyoroti perbedaan pandangan tentang kesetaraan gender dalam penciptaan manusia. Islam mengajarkan bahwa perbedaan gender bukan untuk memuliakan satu dan menghinakan yang lain, melainkan untuk saling melengkapi guna mencapai kemaslahatan bersama.

Sebagai penutup, artikel menegaskan bahwa Islam telah datang untuk memuliakan wanita, sementara gerakan feminisme di Barat muncul sebagai respons terhadap rendahnya pandangan terhadap wanita dalam ajaran dan budaya mereka.

Sejarah membuktikan bahwa Islam, sejak turun di Semenanjung Arabia, melakukan upaya besar untuk memuliakan wanita sesuai dengan derajat kemanusiaannya yang sebelumnya terhina oleh budaya jahiliah. Budaya dan hukum jahiliah merendahkan wanita hingga titik terendah kemanusiaan, di mana keberadaan wanita dianggap sebagai aib dalam keluarga. Praktik mengubur anak perempuan hidup-hidup menjadi contoh nyata dari perlakuan tidak manusiawi ini (QS. At-Takwir: 8-9).

Islam, sebaliknya, datang untuk melepaskan kaum wanita dari kerangkeng budaya dan hukum jahiliah yang merendahkan mereka. Sejak awal, Islam memuliakan wanita tanpa adanya tuntutan dari pihak wanita itu sendiri. Ini adalah perbedaan yang signifikan dengan Barat, di mana ajaran agama dan budaya mereka merendahkan wanita, menciptakan dasar bagi munculnya gerakan feminisme yang menuntut kesetaraan gender.

Dalam pandangan Islam, semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, diciptakan dalam keadaan fitrah, suci, dan bersih. Penciptaan manusia oleh Allah memperlihatkan bahwa perbedaan gender bukanlah untuk memuliakan satu gender dan menghinakan yang lain, melainkan untuk saling melengkapi guna mencapai kemaslahatan bersama (QS. Al-Lail: 1-3).

Profil falsafah dan sejarah gerakan feminisme Barat berlawanan dengan ajaran Islam yang mendasarkan kehidupan pada falsafah keterpaduan dan saling melengkapi. Sementara Barat menempatkan wanita sebagai lawan laki-laki dan cenderung mendiskreditkan serta menindas wanita, Islam menekankan pada pemuliaan wanita sebagai makhluk yang setara dengan laki-laki.

Kesetaraan gender, sebagai suatu sistem yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, perlu dipahami dalam konteks pandangan Islam. Islam mengajarkan bahwa keseimbangan antara laki-laki dan perempuan, bukanlah untuk menindas, melainkan untuk mencapai kemaslahatan bersama dalam tatanan alam yang harmonis.

Dengan demikian, pemahaman tentang kesetaraan gender dan feminisme perlu dijelaskan secara mendalam, terutama dalam memahami perbedaan falsafah antara Barat dan Islam. Ini bukan hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai pengetahuan yang memadai bagi umat Islam untuk menghadapi fenomena kesetaraan gender yang terus berkembang di sekitar mereka.

Moh. Achyat Ahmad/Sidogiri

Spread the love