Salah satu penyakit mental yang menghinggapi para liberalis adalah halusinasi akan kemajuan Barat, disebabkan mereka terpukau dengan kesuksesan lahiriah Barat. Akibatnya, mereka hampir dipastikan memuja setiap apa yang datang dari Barat: menganggapnya sebagai kehebatan, kemajuan, kesuksesan, dan karenanya menurut mereka, siapa saja yang ingin hebat, maju, dan sukses, harus meniru apa yang dilakukan oleh Barat. Karena pikiran mereka telah terperangkap dalam fatamorgana kemajuan Barat, akhirnya mereka tidak mampu berpikir secara jernih, sehingga mereka kerap kali terjatuh pada absurditas yang ironis; merasa pandangannya jernih padahal keruh, merasa suatu pendapat adalah kuat padahal rapuh, atau merasa suatu ide adalah ideal padahal dangkal.

Contoh konkret nya adalah seperti yang tergambar dari deskripsi masalah di atas. Mereka beranggapan konsep sekularisme yang diterapkan di negaranegara Barat lebih baik daripada konsep negara Islam, karena negara sekular itu netral; menampung kebajikan dan kemaksiatan sekaligus, dan bisa mengkomodir berbagai aliran dan kepercayaan yang saling bertentangan, sehingga mereka bisa hidup damai dalam satu negara.

Pada halusinasi liberalis sekularis di atas, terdapat beberapa fakta yang luput dari pengamatan mereka. Pertama, menganggap bahwa negara sekular netral. Klaim netralitas itu absurd, bahkan lucu. Sebab faktanya, dengan meletakkan negara di atas asas sekularisme, jelas itu sudah jauh dari netralitas, sebab sekularisme itu juga suatu ideologi, yang akan menolak atau menentang pada ideologi yang berlawanan dengannya. Kedua, mengatakan negara sekular lebih baik daripada negara Islam, karena bisa menampung kebaikan dan kejahatan, juga ironis. Karena negara-negara sekular faktanya juga tidak mentoleransi keburukan. Hanya saja bedanya apa yang dianggap buruk oleh agama tidak selalu sama dengan keburukan versi negara sekular. Meskipun misalnya negara sekular mentoleransi miras dan LGBT, yang menurut agama adalah keburukan, namun faktanya baik negara agama maupun negara sekular sama-sama melarang pencurian dan pembunuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sekularisme sama sekali tidak bebas nilai. Ketiga, lebih aneh lagi adalah pernyataan bahwa negara sekular bisa mengakomodir beragam paham dan agama yang berbeda-beda. Sebab faktanya negara Islam juga bisa mengakomodir paham dan agama yang berbeda-beda. Yang dilarang dalam Islam adalah penodaan terhadap agama, bukan keberagaman agama.

Spread the love