Kali ini kita akan menjelajahi bekas kerajaan Sunan Giri. Situs ini berada di puncak sebuah bukit yang terletak sekitar 200 meter di sebelah selatan komplek Makam Sunan Giri. Berada di kelurahan Sidomukti, kecamatan Kebomas, kabupaten Gresik.
Dari Pesantren ke Kerajaan
Pada mulanya kerajaan Giri adalah sebuah pesantren yang dirintis oleh Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri I). Seiring berjalannya waktu pusat dakwah Islam itu menjelma menjadi kerajaan yang disegani. Posisinya sangat kuat dalam politik dan agama. Sebagai bukti, di masanya, Sunan Giri yang memiliki gelar Prabu Satmata menjadi pemberi legitimasi para raja yang naik tahta. Menurut catatan sejarah, beberapa raja dari Kerajaan Demak hingga Pajang dilantik oleh raja Kerajaan Giri.
Kerajaan Giri juga menyebarkan dakwah Islam lewat armada kapal dagangnya, sehingga pengaruh Kerajaan Giri sampai ke Banjar, Kutai, Gowa, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Pesona Giri Kedaton
Ketika menuju puncak bukit, pengunjung akan dihadapkan dengan anak tangga cukup tinggi dan curam. Di tengah anak tangga terdapat jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Di kanan-kiri tangga terdapat rumah penduduk. Setelah 10 meter sepeda motor sudah harus diparkir di tempat parkir sebelah kiri jalan, karena anak tangga selanjutnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Sesampainya di puncak bukit, pengunjung akan menyaksikan bekas fondasi Kedaton Giri yang mengelilingi puncak bukit. Fondasi itu membentuk lima lapis dataran. Pada masanya, di situlah tempat bangunan pesantren serta Kerajaan Giri berdiri.
Di puncak bukit terdapat sebuah masjid. Di sisi selatan ada makam Raden Supeno. Dan di sisi Utara terdapat lima makam berjajar. Menurut penuturan juru kunci itu adalah makam para petinggi Kerajaan Mataram, sebab Giri Kedaton dikuasai oleh Mataram setelah Giri Kedaton runtuh.
| BACA JUGA: MENCARI TITIK TEMU KARAKTER NEGARA DALAM ISLAM
Selain masjid dan makam, di lokasi ini juga terdapat kolam yang dipakai mandi keluarga kerajaan serta tempat berwudhu. Di sebelah barat terdapat kolam air minum.
Di timur masjid terdapat bebatuan yang menurut riwayat yang beredar, di sanalah tempat Wali Songo berkumpul dan bermusyawarah. Bebatuan itu terdiri dari bebatuan ukuran kecil sebagai kursi, dan satu batu berukuran besar sebagai meja.
Lokasi pesantren yang menjelma menjadi kerajaan ini dipilih oleh Sunan Giri berdasarkan petunjuk dari ayahanda beliau, yaitu Maulana Ishaq. Sebelumnya Sunan Giri sempat mengunjungi Aceh. Di sana beliau bertemu dengan Maulana Ishaq yang memberinya segenggam tanah. Sunan Giri diperintahkan untuk mencari daerah yang memiliki tanah persis seperti yang beliau genggam. Setelah bertapa dan memohon petunjuk dari Allah cukup lama, akhirnya beliau menemukan lokasi yang dimaksud.
Hingga saat ini, situs ini selalu ramai didatangi peziarah. Sebagian peziarah berkunjung hingga bermalam di lokasi ini. Mereka datang bermunajat dan mencari berkah.
Makam Raden Supeno
Di sebelah selatan bukit terdapat makam Raden Supeno. Beliau adalah putra Sunan Giri dari istri Dewi Wardah binti Sunan Bungkul Surabaya. Raden Supeno wafat ketika masih remaja. Menurut riwayat, beliau menjadi korban penyerangan prajurit Majapahit yang hendak membunuh Sunan Giri.
Diceritakan, suatu saat Raja Majapahit mengutus prajuritnya untuk membunuh Sunan Giri di Giri Kedaton. Ketika akan membunuh Sunan Giri yang hendak shalat malam di Masjid Kedaton, perajurit Majapahit tiba-tiba jatuh terkulai sambil menghunus keris. Kejadian itupun akhirnya diketahui oleh Sunan Giri. Namun oleh Sunan Giri mereka dimaafkan dan diperintahkan untuk pulang kembali Ke Majapahit.
Setelah diperintahkan pulang, ternyata prajurit Majapahit masih punya keinginan untuk melaksanakan perintah dari Raja Majapahit. Maka mereka pun menuju Giri Kedaton dengan cara diam-diam dan mengambil posisi di area Telaga Pegat. Karena tidak banyak yang tahu kehadiran mereka, kedatangan dan penyerangan itu menewaskan Raden Supeno yang remaja. Raden Supeno dimakamkan di Kedaton dan jasa kepahlawanannya ditandai dengan gelar “Pangeran Pasir Batang”.
Kerajaan yang dibangun oleh Sunan Giri ini menjadi cikal bakal kabupaten Gresik. 9 Maret 1487 Masehi yang merupakan tanggal berdirinya Kerajaan Giri hingga kini diperingati sebagai hari lahir Kota Gresik.




