“Hubungan yang baru terjalin memang kerap terasa indah. Hingga pada akhirnya masalah akan memberitahu seperti apa kesetiaan sesungguhnya.” Inilah kutipan Emha Ainun Nadjib di akun official twitternya.
Menjalani hidup berumah tangga, gampang-gampang susah. Ibarat mengarungi lautan luas. Terkadang, tenang dan membahagiakan. Ada kalanya, badai mengguncang keras. Nyaris meretakkan bahtera keluarga. Tak sedikit yang lolos dari terpaan guncangan kencang tersebut.
Menjadi hal tabu jika pasangan yang baru menikah, mengalami masa-masa indah dalam hidupnya. Ungkapan-ungkapan romantis menjadi konsumsi di setiap saat. Entah, hal semacam ini akan bertahan hingga mereka sudah berada di titik jenuh. Jika di awal pernikahan keutuhan rumah tangga sudah berantakan, bagaimana mereka menyikapi permasalahan yang akan datang selanjutnya.
Pasangan yang baru saja menempuh bahtera rumah tangga, mungkin perasaan bosan belum menjangkiti hati. Masih terdapat obat untuk memaklumi tingkah laku. Masih banyak toleransi yang direntangkan, manakala melihat pasangan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Kita pun masih tersenyum, manakala ia datang membawa sesuatu yang membuat kita lupa akan tingkahnya yang menjengkelkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, apakah toleransi itu akan semakin kuat, melihat tingkah laku pasangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Apakah ungkapan maaf bisa menambal kebocoran yang dalam rumah tangga, sehingga pasangan tidak akan terjangkit rasa bosan.
Sejatinya, bosan merupakan rasa yang muncul dari permasalahan yang selalu datang berulang, tetapi tidak kunjung menemukan penyelesaian yang tuntas. Ada baiknya, suami-istri tidak perlu terlalu fokus pada kejenuhan yang dirasakan, tetapi justru berusaha menyelesaikan permasalahan yang menjadi biang keladi.
Setelah itu, godaan bosan mulai menghampiri, kemudian menghantui. Entah menyerang istri ataupun suami. Bosan dengan komunikasi yang monoton. Bosan dengan pola interaksi yang telanjur tercipta stagnan. Membiarkan ‘penyakit’ itu berlarut-larut, sama halnya menyimpan bom waktu yang terpantik sumbunya. Tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Perasaan seperti ini tak pandang bulu, pasangan yang memulai rumah tangga dengan cara islami; tanpa pacaran, taaruf, istikharah, dan akhirnya menikah dengan niat awal hanya mencari rida Allah pun tidak menutup kemungkinan tertimpa masalah yang sama. Lalu bagaimana agar bosan bisa diselesaikan dengan cara yang baik?
Sudah seharusnya bagi setiap pasangan yang akan membina rumah tangga memantapkan niatnya, yaitu beribadah. Tujuan menikah sebagai bentuk upaya untuk melengkapi separuh agama. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi). Sehingga ketika niat sudah tertata maka pasangan suami istri akan memandang satu sama lain sebagai media untuk beribadah kepada Allah.
| BACA JUGA : KETIKA HATI HARUS MEMILIH
Ada sebuah nasehat dari seorang guru kepada muridnya yang akan melangsungkan pernikahan. Dia berpesan kepada muridnya, jika menikah dikarenakan kecantikan, maka tidak lama rasa cinta akan memudar seiring dengan bertambahnya usia. Sang guru juga menambahkan, bahwa usia kecantikan tidak akan bertahan lama. Namun, jika niat menikah dilandasi karena Allah, maka rumah tangga yang dibina akan menjadi bahagia.
Selanjutnya, komunikasi menjadi salah satu komposisi penting dalam mempertahankan rumah tangga yang indah dan bahagia. Dengan komunikasi yang rutin dilakukan, bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang terpendam. Oleh karenanya cobalah sesekali untuk memberi ruang bagi jawaban atau sikap pasangan, karena untuk merasa bahagia, bingung, kecewa, sedih, marah bahkan jenuh adalah keputusan yang dibuat dalam hati sendiri.
Bila kita memutuskan melapangkan dada, mendengar jawaban atau menyaksikan sikap yang ditampakkan oleh pasangan, maka kita pun tidak akan merasa kecewa atau marah terhadap respon yang diberikan olehnya. Bahkan, bila kita telah memutuskan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi, bukan mustahil Allah akan memudahkan jalan keluarnya.
Setelah komunikasi terjalin dengan baik, maka setiap pasangan harus saling mengerti dan memahami. Jika hal itu bisa dilakukan, maka setiap pasangan akan berusaha dan bersemangat untuk melakukan hal yang terbaik bagi pasangannya. Inilah yang akan menghindarkan kehidupan berumahtangga dari kejenuhan.
Kemudian kesibukan yang memakan waktu, sehingga tak ada waktu kosong untuk bercanda dengan pasangan, bisa menyebabkan kebosanan semakin besar. Alangkah baiknya menyisihkan waktu untuk bercanda dan bersenang-senang dengan pasangan.
Rasulullah pernah mengambil tindakan saat menemani Aisyah. Saat itu Aisyah melakukan hal yang bagi sebagian orang mungkin tidak masuk akal dan kekanak-kanakan.
Asiyah berkata, “Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah berada di pintu kamarku, sedangkan saat itu di dalam masjid ada beberapa orang Habsyi (Abyssinia) yang sedang bermain tombak. Rasulullah pun kemudian menutupiku dengan selendangnya agar aku tidak terlihat oleh orang banyak, tapi aku dapat melihat permainan mereka. Aku sandarkan wajahku di antara bahu dan telinga beliau dengan menempel di pipi beliau, kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah engkau sudah puas?” aku menjawab, “Belum.” Dan aku tetap melihat permainan itu dari tempatku berdiri sampai aku merasa puas.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau tetap berdiri karena menemaniku (Aisyah) melihat permainan itu hingga aku puas, lalu aku pergi meninggalkan permainan itu, maka perkirakanlah dengan perkiraan wanita remaja yang masih senang melihat permainan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hal yang dilakukan Rasulullah adalah agar istrinya mendapatkan hiburan dan merasa senang. Rasulullah tak merasa rugi meluangkan waktu sejenak untuk menemani Aisyah melakukan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang sudah lewat masanya. Wallahu a’lam.




