مَا اسْتَوْدَعَ فِي غَيْبِ السَرَائِرِ ظَهَرَ فِي شَهَادَةِ الظَوَاهِرِ

Apa yang tersimpan di kedalaman batin akan tampak pada penampilan lahir.

Yang menjadi dasar dari hikmah ini adalah Hadis Sahih dari Nu’man bin Basyir yang artinya, “ Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika baik maka akan baik seluruh tubuh, dan jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, ingatlah hal itu adalah hati.” Yang dimaksud hati di sini adalah perasaan yang berada di dalam diri manusia.

Makna yang tersirat dari Hadis di atas adalah yang mendorong dan memotivasi seseorang untuk berbuat, melakukan dan bertindak serta yang berperan dalam menentukan jalan ikhtiarnya di setiap amal adalah perasaan-perasaan yang bersarang di dalam hati. Perasaan yang terkoneksi dengan hati seperti halnya ingatan dan pikiran yang bermuara di dalam otak, namun terkadang juga pantas untuk di sebut bahwa pikiran dan ingatan itu juga hasil kerja hati dengan makna lain.

Jika demikian halnya, maka apa yang dilakukan oleh lidah, anggota tubuh, gerak dan diam manusia tiada lain adalah bagian dari hasil kerja yang diperintah oleh hati. Dan tidak sebaliknya. Maka jika kemudian kondisi batin seseorang itu bersih serta steril dari berbagai macam hal yang memalingkan dari Allah, juga dipenuhi dengan rasa takut kepada Allah, maka sudah barang tentu akan menjalar pada kondisi lahiriahnya. Sehingga tidak sulit tubuh ini untuk digerakkan menuju kebaikan, menyanggupi dengan lapang setiap perintah Allah, dan yang paling penting adalah berakhlak mulia.

Sebaliknya, jika kondisi batin seseorang kotor, maka hal itu berpengaruh pada anggota lahir. Sehingga akan didapati setiap aktivitas, amal dan kegiatannyapun tidak baik. Hanya saja ada dari kalangan yang nomer dua ini orang-orang yang berusaha menutupi keburukan dzahirnya dengan tebalnya sampul kemunafikan. Berusaha menutupi kebobrokan batin dari pandangan orang lain. Kendati usaha pengelabuan ini sering kali jalannya tidak berhasil, dan senantiasa menampilkan wujud asli dari apa yang tersimpan di dalam batin. Hal ini sesuai dengan apa yang termaktub di dalam pepatah Arab yang artinya, “ Betapapun seseorang mampu menutupi perangai, sepandai-pandai ia menyembunyikan akan diketahui khalayak ramai.”

***

Ada yang bertanya begini, “Ada kok seseorang yang batinnya tidak baik, hanya lantaran ia piawai menyembunyikan kejelekan sehingga tiada orang lain yang tahu. Sampaisampai persepsi orang lain selalu baik dan postif. Padahal jika dilihat kenyataannya ia sering bahkan selalu bermaksiat, hanya tidak diketahui kahalayak ramai. Ia selalu ditutupi aibnya oleh Allah. Lalu apakah hal ini tidak bertentangan dengan hikmah di atas?”. Ketahuilah bahwa yang dimaksud batin di sini adalah keadaan hati dan yang tersimpan di dalamnya: niat, maksud, perasaan serta kesenangan. Semua ini yang nantinya memiliki imbas pada kondisi lahir. Adapun kemaksiatan yang dilakukan dengan cara sembunyi dan sistematis itu bukan yang dikehendaki batin dalam kajian kali ini. Bagaimanapun kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota tubuh meski hal itu terjadi sembunyi-sembunyi tetap dalam wujudnya sebagai kondisi lahir bagi pelakunya. Hal yang tak bisa dipungkiri.

Adapun pelaku maksiat tersembunyi tadi diliputi oleh sifat lembut dan rahmat Allah sehingga apa yang ia lakukan tak tampak di mata manusia adalah hal lain. Bisa saja Allah menyebarkan kebaikan seseorang meski amalnya tak seberapa, dan bisa saja Allah menutupi kejelekan seseorang sebanyak apapun dan dengan pengulangan tiada henti atas kejelekan yang dilakukannya. Itu semua bagian dari kelembutan Allah.

Dan untuk kejelekan dan kemaksiatan yang dilakukan bukan karena unsur sengaja, menentang serta sombong, tapi kemaksiatan yang merupakan akibat lemahnya diri melawan nafsu, sering kali oleh Allah memang ditutupi dari pandangan orang lain. Allah lebih suka menjadikannya rahasia antara Ia dan hamba-Nya. Dan Allah menanamkan di hati pelakunya optimisme mendapatkan pengampunan dan terbukanya jalan taubat sebelum ia mati.

Namun untuk kemaksiatan yang dilakukan dengan sengaja, disertai perasaan menentang terhadap peraturan Allah, dan bahkan congkak serta bangga melakukannya atau memang kemasiatan yang merupakan imbas dari buruknya kondisi hati maka sudah barang tentu akan tercium aromanya oleh orang lain. Karena kemasiatan itu adalah asap yang mengepul dari bara api jeleknya kondisi hati. Maka semakin besar bara kejelekan itu maka semakin besar kepul asapnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk kebaikan dan ketaatan seseorang. Seseorang yang melakukan kebaikan namun tidak terkait dengan ranting keikhlasan maka sejatinya kebaikan dan perbuatannya itu tak ada artinya. Ketaatannya itu tidak akan melahirkan nur. Karena ibadah dan ketaatannya itu muncul dari hati yang terputus dari tujuan inti: mengabdikan diri kepada Allah serta upaya gigih untuk meraih keridaan-Nya.

Maka dapat disimpulkan di sini: seperti halnya kemaksiatan yang tidak dibarengi rasa congkak akan lebur di dalam luasnya samudera ampunan Allah, begitu juga ketaatan yang terlepas dari ikatan ikhlas karena Allah dan upaya mencari rida-Nya juga lebur bersama kuatnya pengawasan Allah atas setiap hal samar di dalam batin hambahamba-Nya.

Sebagian orang menganggap enteng urusan ini, sampai-sampai mereka mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Sehingga ini dijadikan dalih bagi mereka untuk berbuat hal-hal yang melabrak hukum dan syariat. Tak bisa dimungkiri pesan dari kaedah kehidupan yang bergulir melalui hikmah ini bahwa kesalehan batin pasti akan meninggalkan bekas pada kesalehan lahir. Tentu tak bisa dibenarkan anggapan orang yang seenaknya berbuat maksiat namun ia dengan tolonya mengatakan, “yang penting niat dan hatinya bro!”. Wallahu a’lam