iskursus seputar akidah merupakan ruang luas nyaris tanpa sekat. Hanya saja untuk mengkajinya butuh menejemen waktu agar menghasilkan pemahaman utuh, heterogen dan tidak parsial. Ngaji akidah berarti mengaji keyakian dan ideologi. Sudah barang tentu kajian ini bertumpu pada dua muara. Pertama, kajian internalisasi, Kedua, kajian kontra. Oleh sebabnya selain kajian yang menyeluruh, dibutuhkan pula pembelajaran yang runut dan berkesinambungan. Pembelajaran yang spotong hanya akan membuat kabur kerangka pemahaman. Bisa dibayangkan jika seseorang keburu menggeluti kajian kontra sebelum memahami nilai-nilai di dalam akidahnya sendiri. Yang paling mungkin terjadi adalah akan membawa si empunya terjebak dalam skeptisisme berkepanjangan.

Kemudian dirasa perlu mengtetengahkan sebuah karya untuk menjadi panduan di dalamnya. Kitab panduan ini nanti akan membantu seseorang memeiliki pemahaman utuh khususnya dibagian internalisasi. Karya yang paling pas untuk dibawa ke arah itu adalah karya monumental dari Syekh Ibrahim al-Laqqani yaitu Jauharatu-l at-Tauhid. Sebagaimana diketahui Jauharatu-l at-Tauhid merupakan salah satu karya maestro dalam kajian akidah mazhab Asyairoh. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya para pakar yang mensyarahi kitab ini. Sebut saja ulama sekaliber as-Syekh Ibrahim al-Baijuri, Imam asShawi dan masih banyak lagi.

Dan dari sekian banyak kitab syarah itu ada sebuah kitab yang cara menulisnya bisa dibilang unik. Keunikan itu terasa bukan hanya dari alur bahasa yang mudah difaham namun juga setting tulisan yang dibuat dengan model dialog. Sudah barang tentu hal ini teramat membantu bagi siapapun yang menelaahnya, lebih-lebih jikalau sambil lalu juga ingin menghafalnya. Di beberapa halaman juga akan sering dijumpai kesimpulan pemahaman yang diformulasikan ke dalam tebel, skema dan catatan khusus. Sehingga kian menambah kemudahan memahami diskursus akidah yang seringkali bermain-main dengan mantiq (logika).

Pada bagian awal membahas seputar kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh setiap orang mukallaf. Di paparkan di dalamnya, bahwa meski ulama masih berbeda pendapat namun kewajiban makrifat adalah yang paling mungkin untuk diutamakan. Sebab iman yang dihasilkan dari ikut-ikutan (taklid) justru membawa sesorang terjebak dalam kegamangan. Oleh sebabnya makrifat adalah jalan utama untuk menangkal keraguan itu. Lantas apa saja yang harus diketahui? Yang harus diketahui adalah hal-hal terkait sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah. Adapun tentang apa dan bagaimana dzat Allah itu tidak menjadi ruang lingkup dari hal yang harus diketahui. (hal. 10)

Pembahasan berlanjut pada masalah keimanan. Setelah mengupas tentang makna dan berbagai cabang di dalamnya, kemudian berlanjut pada apa kaitan iman dengan amaliah sesorang dan seterusnya. Adakah amal masuk dalam cakupan iman atau tidak?, bisakah iman digantungakan dengan misalnya dikatakan, “Saya beriman andai kamu jadi istriku”? semua dikupas tuntas pada bagian ini.

Kemudian di dalam kitab ini juga dibeberkan secara lugas tentang bantahan kepada mereka yang mengatakan bahwa agama adalah warisan. Di halaman 16, pembaca akan disuguhkan konsep pemahaman yang universal berkenaan agama warisan ini. Bahwa manusia dianugerahi akal yang cukup mampu untuk digunakan berfikir serta merenungi tentang kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Kita bisa melihat Nabi Musa yang hidup dilingkungan tak beriman tidak serta merta menjadikannya idem dengan akidah dan keyakinan Firaun. Nabi Musa berkenan untuk memberdayakan nikmat akal untuk merenung dan berpikir keras untuk tidak mengiyakan pengakuan manusia biasa sepertinya sebagai Tuhan. Begitu pula yang terjadi pada Nabi Ibrahim, dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengajaknya menyembah berhala dan menyekutukan Tuhan. Namun ia mau mengaji pada alam. Mengamati gerak perubahan pada semseta hingga kisahnya diabadikan di dalam al-Qur’an. Ini semua menjadi bukti bahwa akal memiliki peran vital dalam kaitannya mengantarkan seseorang menemukan kesejatian diri dan kesejatian Tuhan.

Akhiran, terlepas dari berbagai keunikan di atas, hal lain yang patut diapresiasi adalah bahwa karya syarh ini merupakan karya anak negeri yang memang dikenal produktif dalam menuliskan karya-karya dalam bahasa Arab. Cita rasa nusantara sangat berpengaruh dalam memilih kosa kata, sehingga kemudahan memahami sudah menjadi jaminan pasti. Selamat membaca!