Oleh: Isom Rusydi

Siapakah orang Barat itu? Adalah pertanyaan yang timbul dari rasa “cemburu” orang-orang Timur sebagai ‘lawan’ abadinya. Mari kita letakkan dulu orang Timur itu dan beralih kepada Barat. Barat adalah sebuah fenomena peradaban yang tidak bisa diidentifikasi dengan pemahaman geografis, karena Barat merupakan suatu cerminan dari sebuah cara pandang hidup dari orangorang yang berkulit putih—terkadang ada juga yang hitam. Pandangan hidup ini merupakan kombinasi pandangan hidup orang Yunani, Romawi, tradisi bangsa German, Inggris, Perancis, dan lain-lain (Fahmi Zarkasyi, 2012). Konon, orang-orang itu yang memulai sebuah peradaban dari orang-orang berjenis homo erectus menuju manusia yang sapien (cerdas), begituah para Darwinis sesumbar.

Barat juga bisa dikenal dengan peradaban yang maju, cerdas, mempunyai pemahaman saintis yang menakjubkan hingga membuat orang-orang penasaran dan terpaksa melontarkan pertanyaan skeptis. Pertanyaan ini barangkali muncul di saat orang-orang Timur merasa tertinggal atau kecemburuan peradaban yang selama ini mengidentikkan meraka sebagai bangsa yang tertinggal. Kenapa orang Barat bisa maju? Karena mereka membunuh tuhannya, barangkali bisa menjadi jawaban awal.

Mereka merasa bahwa dunia tidak bisa maju jika masih ada campur tangan tuhan di dalamnya. Sains bisa memberikan kekuatannya jika tidak ada campur tangan dari otoritas gereja. Dunia akan tetap kaku dan beku apabila masih percaya ada kekuatan metafisik yang menguasai dunia. Karenanya, orang-orang Barat begitu gembira ketika Nietzsche ‘berhasil’ membunuh ‘tuhan’ dan menjadi titik awal dari pengangkatan tuhan-tuhan baru yang mengikuti standar penciptaan tuhan ala Barat. Maka, lahirlah tuhan-tuhan yang bernama logosentrisme atau lebih akrab dengan rasionalisme. Tidak berhenti di situ, ‘tuhan-tuhan’ lain bermuculan dikemudian hari; liberalisme, humanisme, feminisme, pluralisme yang terbangun dalam tiga pilar kokoh; keragaman (multiplicities) kesamarataan (equal representation), dan keraguan yang menyeluruh (total doubt) (Misykat hal. 5)

Dari kenyataan itu, tampak bahwa Barat begitu kering dengan spirituaitas. Mereka tidak mengenal tuhan, bahkan filosof kebanggan mereka, Immanuel Kant, masuk ke gereja hanya dua kali selama hidupnya, apakah dia dan teman-temannya pantas berbicara tentang agama? Oleh karena itu, kita bisa menerima saja kemajuan Barat yang luar biasa itu, namun apalah arti peradaban yang maju jika hati manusia-manusianya kering dengan iman dan jauh dari pencipta-Nya. Barat dengan kemajuannya masyhur dengan orang-orang yang jauh dari agama, mereka adalah orang-orang yang mempunyai peradaban tapi kering dengan adab (spiritual). Tidak heran jika mereka hidup dengan segala bentuk kekayaan materi tapi mengalami banyak kebingungan di dalam hati. Betul kata Ziauddin Sardar jika Barat merupakan wajah yang tanpa kebenaran, tanpa realitas dan kering dengan makna.

Itulah mengapa, para ulamaulama salaf lebih dahulu mengajarkan murid-muridnya mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, dzikir yang selalu dikumandangkan ketika hendak mendirikan shalat, mengajarkan nilainilai spiritual dan nilai-nilai akhlak dalam kesehariannya baru setelah itu diberikan pengajaran ilmu-ilmu dan hikmah agar kelak ketika dewasa mereka tidak menjadi orang yang berilmu namun bertambah jauh dari Tuhannya. Ilmu tanpa iman hanya akan menjadi jahanam bagi pemiliknya. Na’udzubillah.