Oleh: M. Fauzan Imron*

Reconquista merupakan sebuah kosakata yang diambil dari bahasa Spanyol – Portugal yang berarti penaklukan kembali, dan dalam istilahnya adalah proses kaum Kristen merebut kembali wilayah Spanyol dari tangan kaum Muslim. Proses ini berlangsung selama kira-kira 800 tahun.

Latar belakang

Pada abad ke-8 M tepatnya Musim panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Andalusia. Pada tanggal 29 April 711 M atau 07 Rajab 92 H, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (dalam bahasa Arab adalah Jabal Tariq yang artinya Gunung Thariq). Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia dan berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth, setelah memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal yang ada dan berhasil menghancurkan pasukan Visigoth serta rajanya, Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 atau 29 Ramadhan 92 H. dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah Andalusia sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I.

Kaum Muslimin telah masuk ke Spanyol (Andalusia) dan berhasil memajukan kebudayaan dan peradaban negeri itu sejak awal abad ke-8 masehi. Sejak itu, wilayah tersebut berkembang menjadi pusat peradaban yang sangat maju di dunia selain Baghdad. Kendati demikian, di lain pihak kalangan Kristen yang berada di utara Spanyol bertekad untuk merebut kembali negeri mereka dari tangan kaum Muslimin. Mereka membalas penaklukan yang dilakukan kaum Muslimin dengan cara Reconquista, yakni proses penaklukkan kembali.

Setelah begitu lama menguasai Spanyol, penguasa Muslim yang ada saat itu terlena dengan kemegahan yang dimilikinya, juga menjadi lemah dan tak berdaya menghadapi ancaman lawan. Akibatnya, satu demi satu wilayah Muslim berhasil direbut kembali. Kekuatan Kristen di Utara terus menguat sehingga mendesak kaum Muslimin untuk semakin jauh mundur ke Selatan.

Ketika kaum Muslimin mulai terpecah-belah dan saling rebut kekuasaan, musuh-musuh mereka justru merapatkan barisan dan terbakar oleh semangat Kristiani. Dampaknya sudah mulai dirasa, satu-persatu kekuasaan Islam jatuh ke tangan musuh. Setelah Toledo, Cordova, Seviilla dan berbagai kota lainnya jatuh, kini tinggal secuil Granada di ujung Selatan Iberia yang masih mampu bertahan hingga di penghujung abad ke-15. Isyarat kehancuran benar-benar menjadi kuat ketika Aragon dan Castile, dua kerajaan Kristen yang besar di Utara bergabung melalui pernikahan raja dan ratunya, Ferdinand dan Isabella, pada tahun 1469. Kerajaan gabungan ini dikenal sebagai Los Reyes Catolicos dalam bahasa inggris disebut the Catholic Monarchs yang artinya Monarki Katolik.

Pada 1 November 1478 M atau 06 Sya’ban 883 H, Ferdinand dan Isabella mendirikan Tribunal del Santo Oficio de la Inquisición atau Lembaga Inkuisisi Spanyol atas usulan pendeta Alonso de Hojeda, seorang pendeta Dominican, yang berhasil meyakinkan Ratu Isabella bahwa di dalam wilayah kekuasaannya ada sebagian conversos (orang-orang yang pindah agama) dari kalangan non Katolik yang diam-diam tetap memelihara keyakinan dan tradisi mereka.

Dewan inkuisisi kemudian dibentuk secara terbatas di Sevilla dan Cordova. Dan sebagai hasilnya, enam orang dibakar hidup-hidup di Sevilla pada awal tahun 1481. Sejak itu, dewandewan inkuisisi semakin hidup dan berkembang di wilayah-wilayah Castile, walaupun masih harus menunggu beberapa tahun sebelum diterapkan juga di wilayah Aragon.

Granada jatuh karena pengkhiatanan orang dalam

Benteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia berada di wilayah Granada setelah seluruh wilayah jatuh ke tangan kaum Kristen Katolik. Pada akhir kekuasaan Islam di Andalusia, Granada berada di bawah kuasa Bani Ahmar, penguasa Granada saat itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Boabdil atau juga disebut Abu Abdullah bin Abil Hasan (Sultan Muhammad XII).

Kondisi umat Islam pada saat itu benar-benar sangat memilukan. Hampir seluruh umat Islam di Andalusia mengungsi ke wilayah Granada karena di sinilah satu-satunya wilayah tersisa yang masih berada dalam kekuasaan Islam.

Pada mulanya, dengan kekuatan umat Islam yang cukup besar di wilayah Granada, umat Islam bisa mempertahankan wilayah ini dari serangan kaum Kristen Katolik. Namun kekuatan umat Islam pada akhirnya melemah saat terjadi perselisihan -yang seharusnya tidak perlu terjadi- antara penguasa Granada Abu Abdullah bin Abil Hasan dengan pamannya, Azzaghel. Keduanya berselisih di saat umat Islam tengah dikepung oleh kekuatan kaum Kristen Katolik yang sudah sangat siap menyerang Granada. Dalam posisi itu, umat Islam pada saat itu berikhtiar dengan mengajukan solusi kepada kedua pemimpin yang berselisih itu dengan saran agar membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Saran itu dimaksudkan agar kekuatan musuh tidak dapat mengambil peluang mengadakan serangan.

Namun ternyata kekuatan Kristen Katolik di bawah Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla lebih cerdas melihat peluang itu. Kekuatan Kristen Katolik memanfaatkan perselisihan itu dengan terus menghembuskan isu dan fitnah untuk mengadu domba dua sisa kekuatan umat Islam di Spanyol itu. Pada saat itu, Azzaghel mengusasi lembah Aash, sedangkan Abu Abdullah Muhammad berada di Granada. Strategi Kristen Katolik mulai menuai hasil. Azzaghel tewas dibunuh oleh salah seorang pengkhianat dari Bani Ahmar yang bernama Yahya. Pada akhirnya, Yahya kemudian murtad dari Islam menjadi Nasrani dan hidup di Sevilla.

Yahya tak segan-segan menyerahkan Lembah Aash (yang sebelumnya dikuasai Azzaghel) kepada kekuasaan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla. Atas penyerahan daerah penting ini, ia memperoleh imbalan yang demikian melimpah berupa harta benda. Ia juga diperkenankan pergi ke Maghrib (Maroko). Tetapi sesampainya Yahya di Fez, ia ditangkap oleh penguasa muslim setempat. Dengan bukti yang nyata ia telah melakukan pengkhianatan dengan membantu pasukan Salibis, maka sebagai balasan yang setimpal ia di dipenjara hingga mati dan hartanya menjadi harta fai’. (bersambung)