Beberapa waktu yang lalu ada seorang pejabat negara mengeluarkan pernyataan kontroversial dalam pidatonya. Akhirnya pernyataan kontroversial itu viral di media sosial. Si pejabat menyatakan bahwa kita jangan terlalu serius dalam beragama. “Kita jangan terlalu tegang dalam menganut paham agama, jangan kita terlalu formalistis dalam menjalani kehidupan keagamaan atau terlalu serius, sehingga melupakan substansi agama, yakni saling mengasihi dan saling memperhatikan satu sama lain,” ujarnya sebagimana ditulis www. makassar.tribunnews.com. Lalu bagaimana kita menanggapi pernyataan seperti itu?

Jawaban

Apakah serius dalam mempelajari dan menjalankan agama (Islam) bisa membikin orang menjadi tidak baik, sehingga agama hanya sekadar formalitas baginya, yang kering akan nilai-nilai substansial keagamaan, lalu ia menjadi radikal dan tidak bisa mengasihi terhadap sesama?

Jawabannya tentu tidak. Jika logika itu yang dipakai, maka mestinya yang paling benar dan paling baik keberagamaannya itu adalah orang yang tidak serius dalam beragama, pengetahuan agamanya tidak matang, dan mengamalkannya setengahsetengah atau asal-asalan. Tapi kenyataannya tidak pernah seperti itu.

Justru agama harus dipelajari secara serius, total dan mendalam, agar seorang Muslim sampai pada substansi ajaran agama itu sendiri. Dalam hal shalat, misalnya, seorang Muslim harus mengetahui ilmunya secara mendalam, serius dalam menjalankannya dengan memenuhi setiap syarat dan rukunnya, lalu menjalankannya dengan penuh kekhusyuan, yang buahnya nanti adalah, ia senantiasa berbuat baik kepada sesama, serta bisa menghindari setiap perbuatan keji dan mungkar.

Orang yang mengira bahwa terlalu serius dalam beragama bisa melahirkan radikalisme seperti Khawarij dan ISIS, hanyalah menunjukkan jika ia gagal paham tentang agama. Yang benar adalah, ajaran agama bisa melahirkan radikalisme jika dipelajari secara tidak serius, setengah-setengah dan tidak matang.

Khawarij, ISIS, atau kelompok radikal lain tidaklah serius dalam mempelajari agama. Mereka hanya berhenti pada sebagian teks agama, tidak memahami maknanya secara mendalam, serta tidak memahaminya secara holistik; mereka hanya mengambil ajaran agama sepotong-sepotong. Itulah bentuk ketidak-seriusan mereka dalam mempelajari agama, yang menyebabkan mereka jadi radikal, dan terlepas dari agama seperti anak panah yang meluncur dari busurnya.