Belakangan ini, semangat hijrah kian kencang berhembus dari berbagai arah, kian ramai dibicarakan dan menarik minat banyak orang. Bahkan, kecenderungan ini juga menjadi tren yang terus meningkat di kalangan artis, sehingga tak jarang artis-artis yang sudah berhijrah dan tidak lagi aktif di dunia perfilman, beralih profesi menjadi “motivator hijrah”.

Tentu, yang dimaksud “hijrah” di sini bukanlah hijrah sebagaimana dipraktikkan Rasulullah dan para sahabat pada abad ketujuh itu. Sebab Indonesia adalah negara yang tidak bertentangan dengan Islam, dalam arti mempersilakan umat Islam untuk melaksanakan ajaran agama mereka, kapan dan di manapun. Sehingga hijrah seperti zaman awal dakwah Rasulullah e itu tidak berlaku di sini.

Maka, maksud dari hijrah yang menjadi tren baru di Indonesia itu adalah “spirit hijrah”, yakni keinginan kuat yang muncul dari jiwa manusia untuk menjadi lebih baik, serta lebih mendekatkan diri kepada Allah; dari non-Muslim berhijrah menjadi Muslim, dari Muslim yang tidak taat berhijrah menjadi Muslim yang lebih taat; dari Muslim yang sudah taat berhijrah menjadi Muslim yang lebih taat lagi, dan begitu seterusnya.

Namun disayangkan, apa yang dilihat kebanyakan orang dari mereka yang berhijrah hanyalah sebatas atribut saja, sehingga kebanyakan mereka jadi gagal paham tentang hakekat spirit hijrah. Sebab memang, kebanyakan yang diekspos oleh media dari orang (artis) yang berhijrah hanyalah soal busana, hijab, perubahan penampilan, dan semacamnya. Parahnya, sebagian orang yang sinis malah suka nyinyir sambil mengatakan “yang penting hati sudah berjilbab”.

Padahal, spirit hijrah sudah pasti bermula dari dalam, dari hati yang mendapat hidayah Allah I untuk taat kepada-Nya, lalu hati itu menggerakkan segenap perasaan dan anggota tubuh untuk menjadi baik, memberikan ketenteraman kepada semua orang, jadi suka membantu terhadap siapa saja yang membutuhkan, dan menghindarkan diri dari menyakiti siapapun dengan cara apapun.

Jika demikian, maka betapa spirit hijrah ini tidak hanya penting bagi sebagian orang saja, akan tetapi juga penting bagi setiap Muslim tanpa terkecuali. Dan, orang yang berhijrah dijamin tidak akan menjadi radikal, galak dan suka mengkafirkan orang. Sebab jika demikian, maka ia sudah salah jalan dan telah keluar dari rel spirit hijrah yang digariskan Rasulullah sejak beliau pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Madinah.

Lalu spirit hijrah apakah yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah kepada setiap orang (bukan hanya yang Muslim) di Madinah? Jawabannya adalah pesan perdamaian, kepedulian, persaudaraan, dan ibadah. Jadi lihatlah, bagaimana Rasulullah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam tiga pesan “spirit hijrah” beliau, dan menjadikan ibadah kepada Allah sebagai pesan beliau yang terakhir, sebagaimana dapat disimak dari hadis berikut:

Dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Ketika Rasulullah e tiba di Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau (karena ingin melihat beliau). Ada yang mengatakan, “Rasulullah datang!” Lalu aku mendatangi beliau di tengah kerumunan untuk melihat beliau e. Ketika aku melihat wajah Rasulullah, aku mengetahui kalau itu bukanlah wajah seorang pembohong. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah di tengah malam ketika orangorang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. AtTirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, dll.).