SANG PEMBURU MAKANAN HALAL
Balkh, di ujung timur daratan Khurasan Raya, tepatnya di Afghanistan saat ini. Terbentang di tepi selatan sungai Amudaria. Orang-orang Arab menyebut sungai ini Jihun, dan mereka menyebut wilayah yang terbentang di timurnya dengan Mâ Warâ’an-Nahr (wilayah di seberang sungai).
Seorang pangeran gagah, di atas punggung kuda yang perkasa. Ia membawa seekor anjing pemburu yang lincah dan tangkas. Ia hendak berburu hewan apa saja yang bisa ia temui. Ia putra seorang penguasa di Balkh. Nama ayahnya Adham bin Manshur. Ia sendiri bernama Ibrahim. Meski tinggal di Balkh, sebetulnya ia lahir di Makkah, saat ayah dan ibunya sedang menunaikan ibadah haji. Sang ayah membawanya bertawaf di Kakbah. Lalu, membawanya berkeliling di Masjidil Haram, seraya berseru kepada para jamaah, “Berikan doa untuk bayi ini!”
Hari itu, pangeran muda yang gagah itu hendak berburu. Hobi yang biasa dimiliki oleh para pangeran dari Timur. Seekor hewan buruan kecil melompat, tertangkap mata Ibrahim. Mungkin kelinci, mungkin musang. Ibrahim segera memacu kudanya mengejar hewan itu. Syahdan, ada suara memanggilnya dari belakang.
“Hai Ibrahim, bukan untuk ini engkau diciptakan. Bukan dengan ini engkau diperintah.”
Ibrahim menahan langkah kudanya. Menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, tak seorang pun ia jumpai. “Allah mengutuk iblis!” gumam Ibrahim.
Ia kembali memacu kuda. Suara itu kembali muncul. Lebih keras.
“Hai Ibrahim, bukan untuk ini engkau diciptakan. Bukan dengan ini engkau diperintah.”
Ibrahim kembali menahan langkah kudanya. Kali ini ia memasang telinganya baik-baik untuk mencari asal usul suara, seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang. “Allah mengutuk iblis!” gumamnya kembali.
Ia memacu kudanya.
“Hai Ibrahim bin Adham. Demi Allah, bukan untuk ini engkau diciptakan. Bukan dengan ini engkau diperintah.”
Kali ini suara itu terdengar dari lekukan pelana kuda yang ia tunggangi. Ia pun menghentikan langkah kudanya. “Tidak, tidak! Aku didatangi oleh sang pengingat dari Tuhan alam semesta. Demi Allah aku tidak akan mendurhakai Tuhanku sejak hari ini, selagi Tuhanku menjagaku.”
Ibrahim segera bergegas pulang meninggalkan tempatnya berburu. Sesampai di rumah, ia segera meletakkan kuda kesayangannya itu dan meninggalkannya. Ia pergi ke tempat para penggembala ternak-ternak milik ayahnya. Ia menukar baju. Ia pinta baju kasar pengembala itu, kemudian ia lepas baju keistanaannya.
Jadilah Ibrahim lelaki gembel dengan baju lusuh. Ia pergi entah ke mana. Mengembara ke arah barat. Menembus pegunungan yang membelah daratan Persia dan daratan Khurasan Raya.
| BACA JUGA : HIJAB HATI WANITA PEMALU
*****
Kufah, kota penting yang dibangun oleh Panglima Besar Sayidina Saad bin Abi Waqqash pada masa pemerintahan Sayidina Umar bin al-Khatthab. Mulanya, sebagian dari Kufah adalah bentangan tanah rawa. Sebagian lagi adalah bentangan padang pasir terbuka. Tidak terlalu jauh dari daerah Bulan Sabit Subur yang membentang di antara Sungai Eufrat di garis barat dan Sungai Tigris di garis timur. Kufah berada di luar garis tanah subur itu, tepatnya di tepi barat Sungai Eufrat.
Tepi barat sungai Eufrat adalah deretan berbagai wilayah yang masyhur dalam sejarah: Basrah, Najaf, Karbala, dan Kufah. Tempat-tempat ini yang menjadi saksi sejarah peristiwa-peristiwa besar: yang membanggakan, yang indah dan memberi harapan. Dan, tak sedikit yang memilukan, mengerikan dan memuakkan.
Di situlah, Ibrahim bin Adham memulai lembar hidupnya yang betul-betul baru. Di negeri yang baru saja melepas euforia kesuksesan kudeta Abbasiyah terhadap Umayyah itu, ia tak lagi menjadi pangeran glamour yang suka berburu. Ia berjalan di sudut-sudut kota, mencari pekerjaan untuk sesuap makanannya untuk hari itu.
Entah berapa waktu, Ibrahim bin Adham bekerja di Kufah. Hingga tibalah suatu hari, di mana hatinya mulai risau. Ia ragu dengan hasil pekerjaan yang ia makan sehari-hari. Betulkah, hasil dari kerjanya itu betul-betul halal. Pertanyaan itu menggelayut. Ibrahim tidak mantap. Ada banyak hal yang syubhat di kota besar semacam Kufah. Betapa sulit mencari makanan yang betul-betul halal di sebuah kota yang menjadi pusat dari berbagai kerakusan nafsu manusia.
Akhirnya, Ibrahim memberanikan diri mendatangi seorang syekh yang tak begitu jauh dari tempatnya bekerja. Ia datang untuk bertanya tentang barang yang betul-betul halal. Dan, di manakah ia bisa mencarinya?.
“Kalau engkau menginginkan yang halal, maka pergilah di daratan Syam sana.” Ibrahim segera pergi, tak perlu banyak waktu untuk berkemas. Kini wajahnya menghadap ke utara. Negeri Syam kini menjadi tujuannya, negeri yang baru saja ditinggal oleh para penguasa Dinasti Umayyah. Banyak dari mereka yang darahnya menggenang oleh kekejaman kudeta. Tak sedikit pula dari mereka yang berhasil melarikan diri, bermigrasi menyusuri tepi pantai Laut Tengah, ke Daratan Andalusia.
*****
Mopsuestia dalam bahasa Yunani. Orang Arab menyebutnya dengan al-Mushaishah. Berada di ujung jauh negeri Syam, di perbatasan Turki dan Syiria. Wilayah ini tak terlalu dinamis, sangat jauh dari jantung Syiria yang terletak di Damaskus.
Aliran sungai Jihan tak pernah berhenti mengalir di garis tepi kota Mopsuestia. Bagi kalangan prajurit Syam, tempat ini begitu masyhur. Di dekat sungai Jihan ada jalan yang menjadi akses utama mereka untuk memasuki wilayah Romawi sampai ke jantungnya di Konstantinopel. Entah sudah berapa banyak pasukan yang diparkir di wilayah itu untuk menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, atau minimal mengawasi pergerakan musuh dari dekat. Orang-orang Islam terbiasa menyebut wilayah perbatasan dengan musuh semacam ini dengan kata tsagrun.
Pertengahan Abad Kedua Hijriah, Ibrahim bin Adham menginjakkan kakinya di sini setelah sekian lama beliau singgah di Kufah, Irak, menggali kearifan dan mencari makanan yang betul-betul halal.
Selama beberapa waktu, Ibrahim bin Adham bekerja sebagai buruh tani di Mopsuestia. Hari demi hari, beliau lalui. Ternyata, di sanapun, Ibrahim tak menemukan hasil kerja yang betul betul halal, yang tak tercampur syubhat sedikitpun.
Ibrahim bin Adham mendatangi seorang syekh, tak jauh dari tempat itu. Ia kembali bertanya tentang barang halal dan di mana ia bisa mendapatkannya. Apa jawabnya?
“Kalau engkau menginginkan barang halal, maka datanglah ke Tarsus. Di sana terdapat barang-barang halal dan banyak pekerjaan.”
(bersambung)




