Pada hari Ahad 2 Dzul Qadah 1442 H atau 13 Juni 2021 pukul 16.40 WIB langit Sidogiri terasa kelam. KH. A. Nawawi bin Abdul Djalil, Sang Mahaguru Pondok Pesantren Sidogiri berpulang ke rahmatullah. Tentu saja ini sebuah kehilangan besar bagi seluruh santri Sidogiri pada khususnya, serta dunia Islam dan Indonesia pada umumnya.
KH. Nawawi bin Abdul Djalil menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri selama kurang lebih 16 tahun lamanya. Beliau menggantikan kakaknya, Hadratusy-Syaikh KH. Abdul Alim bin Abdul Djalil yang wafat pada 28 Dzul Qadah 1426 H yang bertepatan dengan 9 Januari 2005. Beliau terpilih menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri melalui musyawarah Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri.
Selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Nawawi juga menjadi mustasyar (penasihat) PBNU. Dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang, Kiai Nawawi duduk sebagai anggota Ahlul Halli Wal Aqdi atau yang disingkat dengan Ahwa yang beranggotakan 9 kiai sepuh sebagai penentu kepemimpinan NU.
LANGKAH CEPAT IASS PUSAT
Pasca wafatnya KH. A. Nawawi bin Abdul Djalil, Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) pusat langsung sigap dengan mengedarkan tiga surat instruksi sekaligus. Langkah ini dilakukan karena mengantisipasi kerumunan masa dan pelanggaran protokol Kesehatan di masa pandemi. Seperti yang sudah diketahui, bahwasanya Kota Pasuruan masih masuk zona merah akibat banyaknya kasus orang yang terjangkit virus Covid-19.
Bentuk instruksi PP IASS sebagai berikut: Pertama, dilarang datang ke kompleks Pondok Pesantren Sidogiri bagi seluruh anggota IASS, wali santri dan simpatisan, sekaligus juga instruksi melakukan shalat ghaib yang dikoordinir oleh pengurus wilayah masing-masing.
| BACA JUGA : WAHDANIYAH DAN HAL TERKAIT
Kedua, bagi setiap Kordes (kordinator desa) di setiap PK (pengurus komisariat) diintruksikan untuk melakukan shalat ghaib pada pukul 07.00 wib. Hal ini merupakan solusi bagi alumni dan simpatisan yang tidak diperbolehkan datang shalat jenazah di PPS. Solusi ini terbukti berhasil, bahkan masjid-masjid di setiap desa di wilayah Pasuruan dipenuhi jamaah yang menghadiri shalat ghaib untuk KH. Nawawi bin Abdul Djalil.
Juga diintruksikan kepada alumni untuk mengikuti tahlil secara virtual live streaming via Facebook dan Youtube Pondok Pesantren Sidogiri, karena memang para alumni tidak boleh mendatangi langsung PPS. Tahlil virtual ini mempunyai keuntungan tersendiri, di antaranya adalah tahlil bisa diputar kembali saat acara sudah selesai, hal sangat membantu bagi alumni yang berhalangan ikut tahlil bakda Isya secara live. Tercatat 8 ribu tonton untuk tahlil via Youtube dan 3 ribu kali tonton via Facebook.
Ketiga, PP IASS menginstruksikan kepada seluruh anggota F-TASS (Forum Tahfidz Alumni Santri Sidogiri) di seluruh wilayah untuk mengadakan khataman al-Quran pada tujuh hari wafatnya Pengasuh. Seperti yang diketahui bahwa alumni yang menghafal al-Quran mempunyai wadah resmi yang bernama Forum Tahfidz Al-Quran Alumni Santri Sidogiri (F-TASS) yang dibentuk pada tahun 2018 silam, jumlah anggotanya sudah mencapai ratusan. Salah satu agenda rutin F-TASS adalah mengadakan khatmil-Qur’an bil ghaib, saat haul atau ketika ada masyayikh yang wafat.
Adanya surat instruksi ini menunjukkan strutur organisasi IASS sudah berjalan dengan rapi sesuai harapan, kesigapan pengurus pusat IASS juga patut diacungi jempol, berkat adanya surat instruksi ini pengurus Pondok Pesantren Sidogiri tidak terlalu kewalahan dalam mengatur kedatangan orang luar pesantren.





