Beberapa pekan terakhir, Indonesia mengalami lonjakan kasus Covid-19. Tanggal 19 Juni lalu, Indonesia sudah menyumbang lebih dari dua puluh ribu kasus aktif Covid-19 hanya dalam kurun waktu enam hari. Bahkan Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan kalau sejak 18 Juni lalu kasus di Indonesia sudah berada di atas rata-rata dunia. Saat ini Indonesia sudah berada di angka 6,87 persen, sedangkan rata-rata dunia hanya 6,5 persen. Sementara angka kesembuhan Indonesia berada di 90,38 persen, sedangkan rata-rata dunia 91,33 persen.
Dalam perjalanannya, Indonesia sudah mengalami beberapa kejadian pahit getir sejak kasus Covid-19 pertama kali diumumkan. Setidaknya ada beberapa hal yang yang menjadi sorotan selama berjuang menghadapi pandemi. Pertama, pandangan masyarakat tentang Covid-19. Sejak pertama kali diumumkan di Indonesia pada 2 Maret 2020, tidak semua orang mempercayai adanya virus ini. Tidak sedikit dari mereka yang justru bersikap apatis dan menganggap bahwa virus ini sebenarnya tidak ada alias hanya konspirasi global. Ujung-ujungnya mereka memprovokasi untuk tidak menaati protokol kesehatan yang sedang dikampanyekan besar-besaran. Ada pula yang menyikapinya dengan berlebihan: memborong dan menimbun masker, sembako, juga bahan makanan pokok lain yang menyebabkan kelangkaan. Dua tipe ini sama-sama merepotkan, yang satu menyulitkan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran, yang satu menyulitkan orang lain yang sama-sama memerlukan kebutuhan pokok.
Kedua, testing yang sempat bermasalah. Langkah yang diterapkan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19 melalui keharusan menunjukkan hasil tes negatif dalam perjalanan yang menggunakan moda pesawat terbang dan kereta api perlu diapresiasi. Hanya saja, ada beberapa oknum yang notabene merupakan karyawan BUMN justru memberikan layanan pemeriksaan dengan alat tes bekas untuk rapid antigen. Mirisnya lagi, berdasarkan hasil penelusuran Diteskrimsus Polda Sumut, kejadian ini sudah berlangsung sejak Desember 2020 dan baru terungkap pada bulan April 2021. Selain merugikan perusahaan dan bertentangan dengan SOP, kejadian semacam ini menodai kepercayaan masyarakat terhadap hasil tes yang ada. Tentu sangat mengerikan seandainya masyarakat tidak lagi percaya dengan hasil tes dan bersikap tidak acuh terhadap penyebaran Covid-19. Bisa-bisa lonjakan kasus ini tidak tertangani dengan baik.
| BACA JUGA : AMAL YANG BERNILAI DI SISI ALLAH
Ketiga, lockdown, PSBB, dan kebijakan serupa yang berdampak besar pada sosial ekonomi masyarakat. PSBB yang diterapkan pada awal Maret 2020 sepertinya menjadi angin segar untuk menghentikan laju penyebaran virus. Akses setiap daerah yang dibatasi, kegiatan sekolah daring, bekerja dari rumah, maupun kebijakan lain meniscayakan berkurangnya aktifitas masyarakat di luar rumah. Kendati demikian, kebijakan semacam ini justru berdampak pada sektor lain, terutama sosial ekonomi masyarakat. Terbukti pada kuartal II-2020 perekonomian terkontraksi hingga minus 5,32%. PHK besar-besaran tidak dapat terhindarkan karena banyak pabrik yang berhenti produksi. Efek dominonya angka pengangguran kian meningkat. Perusahan di sektor pertanian, perdagangan, manufaktur, transportasi, maupun yang lain mengalami penurunan tajam, bahkan di antaranya ada yang sampai gulung tikar. Pertanyaannya, dengan dampaknya yang begitu besar, apakah realitanya PSBB sudah efektif dalam memutus rantai penyebaran? Beberapa peneliti dan epidemiolog justru menilai kebijakan PSBB yang diterapkan belum efektif. Alasannya, selain masih dinilai terlalu longgar, juga tidak dibarengi dengan sanksi yang tegas. Akhirnya dampak sosial ekonominya yang terasa, tetapi pemutusan rantai penyebaran virusnya masih belum terasa.
Keempat, korupsi bansos. Sungguh sangat disayangkan, pengadaan bansos penanganan covid berupa paket sembako di Kemensos RI tersandung kasus korupsi. Bantuan yang seharusnya disalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan, ternyata disunat hingga bermiliar-miliar rupiah. Tak tanggung tanggung, salah satu tersangkanya adalah Mensos sendiri.
Setelah mengalami kejadian-kejadian di atas, ketika kasus Covid-19 ini kembali melonjak, lalu apa yang harus dilakukan? Semoga masing-masing dari kita sudah bisa belajar dari pengalaman.




