Oleh: Ahmad Fahmi Nuril Hikam*

Beliau bernama lengkap Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Saddad bin ‘Abdullah bin Qarth bin Razzah bin ‘Adi bin Ka’ab dari suku Quraisy Al-Adawiyah. Beliau juga termasuk perempuan luar biasa yang dikenal sebagai guru wanita pertama dalam Islam. Selain itu, ia juga memiliki kecerdasan dan keterampilan di bidang kedokteran, terutama dalam hal kejiwaan. Ia terkenal dengan pengobatan ruqyahnya kala itu.

Shahabiyah ini yang dijuluki dengan Ummu Sulaiman dan istri dari Abu Hutsmah bin Hudzaifah bin Ghanim Al-Qurasyi Al-Adawi ini memiliki kedudukan terhormat di kalangan para shahabiyah lainnya. Ini mengingat, ibunda dari Sulaiman bin Abu Hutsmah ini memiliki kedudukan khusus di sisi Rasulullah, dikarenakan keimanannya yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dia juga termasuk wanita yang disebut di dalam fi rman Allah (artinya), “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk berbaiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang makruf, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS: Al-Mumtahanah: 12).

Asy-Syifa masuk Islam sejak sebelum hijrah. Dia termasuk salah seorang wanita yang bergabung dalam rombongan hijrah pertama, dan telah berbaiat kepada Rasulullah. Bahkan Rasulullah sering mengunjunginya dan istirahat siang di rumahnya.

Mengetahui bahwa Rasulullah kerap singgah di rumahnya, Asy-Syifa pun menyediakan kasur dan sarung khusus untuk tidur beliau. Wajar jika kemudian Asy-Syifa pun memiliki kedudukan yang tinggi di sisi para istri Nabi Muhammad. Dia juga sering berkunjung ke rumah Ummul Mukminin Hafshah untuk mengajarinya baca-tulis.

Bahkan Rasulullah juga menyuruh Asy-Syifa untuk mengajari Hafshah cara meruqyah penyakit eksim. Sebagaimana di-takhrij oleh Abu Dawud dengan sanad dari Asy-Syifa, bahwasanya dia berkata, “Rasulullah datang kepadaku ketika aku berada di rumah Hafshah. Beliau lalu bersabda kepadaku, “Tidakkah engkau mengajari dia (Hafshah) cara meruqyah eksim sebagaimana engkau mengajarinya baca-tulis?”

Dikarenakan pengetahuannya yang mumpuni dalam bidang kesehatan dan kedokteran, Asy-Syifa pun cukup dihormati Rasulullah yang selalu menyambung tali silaturahmi dengannya. Rasul bahkan memperkenankan Asy-Syifa untuk menempati sebuah rumah di Madinah. Dia tinggal di rumah tersebut bersama putranya, Sulaiman bin Abu Hatsmah.

Izin Meruqyah dari Rasulullah

Dikarenakan kelebihannya dalam bidang kedokteran, Asy-Syifa menjadi salah seorang wanita masyhur di antara wanita kaumnya. Dengan kemampuannya, dia tampil sebagai salah seorang yang menguasai berbagai rahasia kedokteran dan ruqyah, serta segala hal yang berkaitan dengannya.

Ketika cahaya Islam telah menyeruak ke berbagai negeri, Rasulullah membolehkan penggunaan ruqyah untuk menyembuhkan keracunan karena sengatan binatang, sakit mata, dan eksim. Karena AsySyifa telah biasa melakukan rukiah, dia mendatangi Rasulullah untuk meminta izin beliau melanjutkan profesinya demi berkontribusi dalam bidang kesehatan.

Ibnu Qayyim menerangkan bahwa Asy-Syifa binti Abdullah merukiah sejak zaman Jahiliyah, khususnya untuk mengobati penyakit eksim. Ketika dia berhijrah kepada Rasulullah, lalu berbaiat kepada beliau saat di Makkah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku biasa merukiah sejak zaman Jahiliyah untuk mengobati penyakit eksim, dan kini aku hendak menunjukkannya kepada engkau.”

Asy-Syifa lantas menunjukkan kemampuannya dalam merukiah kepada Nabi, “Di antara yang termasuk rukiah adalah doa: ‘Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi’.” (HR. Abu Daud).

Asy-Syifa bukan tipikal seseorang yang egois dan pelit dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Dengan izin dari Rasulullah, dia melanjutkan profesinya dan mengajarkannya kepada para wanita lainnya.

Asy-Syifa dan Hadis Rasulullah

Tak hanya piawai dalam masalah kesehatan dan kedokteran, Asy-Syifa juga meriwayatkan berbagai peristiwa dari Nabi Muhammad r dan Umar bin Al-Khatthab. Sebagian dari riwayat tersebut adalah bahwa Rasulullah ditanya tentang amal-amal yang paling mulia. Beliau bersabda, “Iman kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, dan haji yang mabrur.”

Interaksinya dengan Nabi membuatnya banyak belajar tentang agama dan keduniaan dan menjadikannya salah satu perawi hadis. Beberapa orang ikut meriwayatkan hadis yang berasal darinya, seperti putra Sulaiman bin Abu Khaitsumah, kedua cucunya (Abu Bakar dan Utsman), Abu Ishaq, dan Hafshah Ummul Mukminin. Sementara, Abu Daud juga meriwayatkan hadis yang berasal dari periwayatannya.

Pada masa Umar bin Khattab, AsySyifa memperoleh kepercayaan sang Khalifah untuk mengurusi masalah pasar. Atas kecerdasan Asy-Syifa, Umar kerap meminta pendapatnya. Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, menjaganya dan mengutamakannya.

Begitu pula sebaliknya, Asy-Syifa’ juga menghormarti Umar, beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat adil. Suatu ketika Asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata: “Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul mematikan.”

Selain asy-Syifa yang tampil sebagai pelopor di bidangnya, perempuanperempuan luar biasa lainnya berperan melalui pendidikan hingga melahirkan generasi Islam yang membanggakan. Ada Tumadhir binti Amru ibn al-Syarid as-Sulamiyah al-Mudhriyah (alKhunnasa) dan Lubabah bint al-Harits (Ummu al-Fadhl). Mereka adalah para ibu dan pendidik hebat yang berhasil melahirkan generasi pejuang dan pembela Islam.

Al-Khunnasa, yang merupakan saudara Muawiyah dan Shakr, adalah sosok ibu yang tegas dan gigih memperjuangkan Islam, serta selalu mendorong anak-anaknya pergi ke medan perang. Sedangkan Ummu al-Fadhl adalah Shahabat wanita Rasulullah yang juga ibu dari seorang ulama besar dan ahli tafsir terkemuka, Abdullah bin ‘Abbas (Ibnu Abbas). Ia adalah istri Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullaah.

Demikianlah, Asy-Syifa mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, amal, zuhud, ibadah, dan berkontribusi kepada orang lain. Semua itu dilakukannya sampai dia kembali kepada Allah I. Dia meninggal dunia pada masa Khalifah Umar bin AlKhatthab, sekitar tahun 20 Hijriyah. Semoga Allah meridhainya. Amin.

Disarikan dari kitab Nisâ’ Haular Rasûl, karya Mahmud Mahdi alIstanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi.

*Penulis asal Wonorejo Pasuruan Aktif di IASS Pasuruan Kadiv Daksos