Terompah adalah lapik kaki yang biasanya terbuat dari kulit, karet, atau kayu. Dilengkapi dengan tali kulit sebagai penguat, atau kayu bertudung bulat, tempat ibu jari kaki dan jari kaki tengah menjepit.

Sepanjang sejarah umat manusia, hanya ada satu terompah yang begitu fenomenal: digandrungi jutaan umat manusia hingga hari ini. Semakin lama, model terompah tersebut semakin kerap menghiasi pemandangan kita sehari-hari. Dibuat logo majelis taklim dan organisasi, dijadikan kusen jendela masjid, dicetak menjadi pin, dibordir sebagai hiasan baju dan kopyah, menghiasi cover buku, atau sekadar didesain menjadi motif hiasan zikir atau shalawat pada lembaran sticker tempel.

Terompah ini begitu dicintai, diagungkan, dan diharapkan menjadi wasilah tercurahnya berkah. Tak lain karena pemakainya adalah makhluk teragung yang diciptakan Allah, al-Insân al-Kâmil, sang pembawa risalah, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Bentuk Terompah Nabi

Berikut ciri-ciri terompah Nabi menurut para ulama:

– Terompah Nabi berwarna kuning

– Berbahan kulit sapi.

Mukhashsharah atau ramping bagian tengahnya.

Mu‘aqqabah atau memiliki tali pengikat di bagian belakang untuk menahan tumit.

Mulassanah atau memiliki ujung lancip di bagian depan, menyerupai bentuk lisan.

– Memiliki dua qubâl atau tali untuk diapit oleh jari-jari kaki.

Terompah-Terompah Nabi

Rasulullah memiliki beberapa terompah, beberapa di antaranya dapat dtelusuri jejaknya dalam buku-buku sejarah:

1. Terompah yang ada pada Sayidah Aisyah binti Abi Bakar setelah wafatnya Rasul. Setelah Sayidah Aisyah wafat, terompah ini diberikan kepada adik bungsunya, yaitu Ummu Kultsum binti Abi Bakar (lahir tahun 13 H, setelah wafatnya Abu Bakar). Ummu Kultsum tak lain adalah istri dari Thalhah bin Ubaidillah, salah satu shahabat yang dijamin masuk surga. Usai Thalhah wafat di Perang Jamal (36 H), Ummu Kultsum menikah lagi dengan Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi. Ketika Ummu Kultsum wafat, terompah berpindah tangan kepada cucu Ummu Kultsum dari suami kedua yang bernama Ismail. Setelah itu, terompah itu tidak diketahui keberadaannya.

2. Terompah yang terdapat di istana Dinasti Alawiyah di Fez, Maroko, saat sultan yang bertakhta waktu itu adalah Maulaya Ismail. Konon Ismail berhasil merebut satu terompah pada tahun 1114 H. Ismail menyimpannya di rumahnya lalu membangun kubah yang ia beri nama “Kubah Terompah”.

3. Terompah sebelah kiri yang disimpan di Darul Hadits al-Asyrafiyah di Damaskus. Sedangkan yang sebelah kanan konon disimpan di Madrasah ad-Dammâghiyah yang terletak di kota yang sama (Dibangun pada 638 H. Saat ini sudah tiada). Sepasang terompah dimiliki oleh Sayidah Maimunah binti al-Harits, kemudian diwariskan kepada keluarganya hingga sampai kepada seorang shahabat bernama Sulaiman as-Sulami yang dikenal dengan nama Abil Hadid. Terompah ini dimiliki oleh keturunan Abil Hadid hingga terakhir kali disimpan oleh Ahmad bin Utsman bin Abil Hadid (w 625 H). Menurut Ibnu Katsir, kabar bahwa ada seseorang di Damaskus yang memiliki terompah Nabi tersebar kemana-mana. Hal ini mengundang keinginan oleh penguasa Dinasti Ayubiyah waktu itu, yaitu Musa bin al-Malik al-Adil Abi Bakar bin Ayyub. Sultan Musa lantas menawar dengan harga tinggi, namun ditolak oleh sang pemilik, yaitu Ahmad bin Abil Hadid. Setelah Ahmad meninggal, terompah itu pun diambil alih oleh Sultan Musa. Ketika Darul Hadits al-Asyrafiyah dibangun pada tahun 630, terompah ini disimpan di sana dalam sebuah peti khusus, dengan petugas khusus yang bertugas merawat dan menjaga. Riwayat terompah ini berakhir setelah dibakar oleh Timurlenk pada tahun 803 H, saat penaklukan Damaskus.

4. Sebelah terompah yang dimiliki al-Qadhi Abdul Basith bin Khalil adDimasyqi (wafat di Kairo, 854 H). Ada kemungkinan, terompah ini adalah terompah yang disimpan di Darul Hadits al-Asyrafiyah di Damaskus.

Terompah Nabi dalam Khazanah Ulama

Banyak ulama yang ‘seolah’ terobsesi dengan terompah Nabi. Kecintaan yang luar biasa kepada Baginda Nabi Muhammad membuat para ulama dan muhibbin juga tergila-gila dengan segala hal yang berkenaan dengan beliau. Bukan hanya mukjizat, khashâ’ish, dan syamâ’il, bahkan pernak-pernik kecil yang berhubungan dengan beliau juga tidak luput dari perhatian umat Islam.

Banyak ulama mengkaji tema seputar terompah secara serius. Beberapa di antaranya menuangkannya dalam bentuk risalah kecil. Sebut saja Abul Abbas Ahmad al-Maqarri at-Tilimsani (w. 1041H/1631 M), yang menulis Fathul Muta‘âl fî Madhin-Ni‘âl pada tahun 1020 H di Mesir. Dalam kitab ini, al-Maqarri menyebutkan hadis-hadis yang menyinggung terompah Nabi, merinci bentuknya, serta keistimewaan dan khasiat terompah Nabi.

Ada pula Syekh Asyraf Ali AtTahawani dari India, beliau menulis risalah berjudul Nailusy-Syifâ bi-Na‘lil-Mushthafâ.

Sebagian yang lain mengungkapkan pengagungannya melalui untaian puisipuisi indah. Contohnya seperti puisi indah yang digubah oleh Ibnu Ma’shum al-Hasni (w 1119 H).

Syekh Yusuf an-Nabhani juga tak ketinggalan. Sosok ulama yang dikenal sebagai muhibbin sejati ini juga menggubah sebuah puisi yang ia cantumkan dalam karyanya, JawâhirulBihâr fî Fadhâ’ilin-Nabî al-Mukhtâr. Berikut syairnya:

عَلَى رَأْسِ هَذَا الْكَوْنِ نَعْلُ مُحَمَّدِ              عَلَتْ فَجَمِيْعُ الْخَلْقِ تَحْتَ ظِلَالِهِ

لَدَى الطُّوْرِ مُوْسَى نُوْدِيَ اخْلَعْ وَأَحْمَدُ         عَلَى الْقُرْبِ لَمْ يُؤْمَرْ بِخَلْعِ نِعَالِهِ

مِثَالٌ حَكَى نَعْلاً لِأَشْرَفِ مُرْسَلِ              تَمَنَّتْ مَقَامَ التُّرْبِ مِنْهُ الْفَرَاقِدُ

ضَرَائِرُهَا السَّبْعُ السَّمَاوَاتُ كُلُّهَا              غَيَارى وَتِيْجَانُ الْمُلُوْكِ حَوَاسِدُ

مِثَالٌ لِنَعْلِ الْمُصْطَفَى مَا لَهُ مِثْل              لِرُوْحِيْ بِهِ رَاحٍ لِعَيْنِيْ بِهِ كُحْل

فَأَكْرِمْ بِهِ تِمْثَالَ نَعْلٍ كَرْيْمَةٍ                     لهَاَ كُلُّ رَأْسٍ وُدَّ لَوْ أَنَّهُ رِجْل

وَلَمَّا رَأَيْتُ الدَّهْرَ قَدْ حَارَبَ الْوَرَى            جَعَلْتُ لِنَفْسِيْ نَعْلَ سَيِّدِهِ حِصْنَا

تَحَصَّنْتُ مِنْهُ فِيْ بَدِيْعِ مِثَالِهِ                   بِسُوْرٍ مَنِيْعٍ نِلْتُ فِي ظِلِّهِ الْأَمْنَا

إِنِّي خَدَمْتُ مِثَالَ نَعْلِ الْمُصْطَفَى             لِأَعِيْشَ فِي الدَّارَيْنِ تَحْتَ ظِلَالِهَا

سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِدْمَةِ نَعْلِهِ                 وَأَنَا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهاَ

Alas kaki Baginda di atas penjuru semesta

Dan semua makhluk di bawah bayang-bayangnya

Di bukit Tursina, Musa diperintah tanggalkan alasnya

Sedangkan Ahmad yang lebih dekat, tak ada perintah yang sama

Lambang terompah milik Rasul termulia

Gemintang pun berangan menjadi tanah agar dipijaknya

Madu-madunya, tujuh petala langit cemburu seluruhnya

Dan mahkota para raja pun hasud kepadanya

Lambang terompah Sang Mushthafa tiada duanya

Ia adalah rehat bagi jiwa, celak bagi mata

Betapa mulia lambang terompah Sang Nabi!

Semua kepala pun berharap menjadi kaki

Apabila Allah memerangi umat nan durhaka

Aku buat perisai terompah sang pemimpin manusia

Aku berlindung dari murka Allah, di balik indahnya

Sebagai tembok kokoh dan aku aman di bawah naungnya

Aku berkhidmat kepada terompah Sang Mushthafa

Agar aku dinaunginya di dunia dan alam baka

Sungguh bahagia Ibnu Mas’ud karena kepada terompah khidmatnya

Dan aku, adalah yang berbahagia karena khidmah kepada lambangnya

Moh. Yasir/sidogiri