MASJID KUNO PENINGGALAN RAJA MATARAM
Provinsi Yogyakarta memiliki banyak sejarah dan keunikan, sejarah melawan penjajah dengan peperangan yang cukup sengit, pembebasan wilayah dan semacamnya. Tak kalah menarik juga soal sejarah penyebaran agama Islam yang terjadi di Yogyakarta, bahkan dimotori langsung oleh para pemimpin kerajaan ketika itu, salah satunya Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Kanjeng Panembahan Senopati Sutawijaya.
kilas Sejarah
Pada tahun 1579, Panembahan Senopati Sutawijaya mulai memimpin Mataram menggantikan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan. Konon, ketika masih kecil Panembahan Senopati Sutawijaya selalu ikut ayahnya berguru kepada Sunan Kalijaga. Setelah beranjak dewasa dan menjadi raja, Sunan Kalijaga memerintahkan Panembahan Senopati untuk membangun masjid sebagai pusat kegiatan dan penyebaran agama Islam di pedalaman Pulau Jawa karena pada saat itu Islam hanya berkembang di bagian utara Pulau Jawa, seperti Gresik, Lamongan, Tuban, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Cirebon, dll.
Sebelumnya, di Mataram hanya terdapat surau atau musala kecil yang dijadikan tempat beribadah. Berselang setelah Panembahan Senopati mendapat perintah dari Sunan Kalijaga, pada tahun 1587 ia lantas membangun masjid yang cukup luas dan dapat memuat banyak jamaah. Karenanya, masjid tersebut kemudian disebut dengan Masjid Gedhe. “Karena area dan bangunan masjidnya yang luas, serta lokasi Masjid Gedhe berada di Kerajaan Mataram, akhirnya diberi nama Masjid Gedhe Mataram,” ungkap Bapak Warisman, pengurus masjid kepada reporter Sidogiri Media.
Antara bangunan masjid dengan pintu gerbang memiliki motif tersendiri. Masjidnya bermotif agama Islam, sementara pintu gerbangnya bermotif Hindu. Hal itu disebabkan daerah sekitar Masjid Gedhe dahulu masih berupa hutan belantara yang bernama hutan Mentaok dan masuk dalam Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Raja Sutan Hadiwijaya. Bapak Warisman menceritakan, bahwa setelah hutan Mentaok dihibahkan kepada Ki Ageng Pamanahan, ayah dari Panembahan Sutawijaya, ia dan putranya kemudian mau membuka hutan menjadi pemukiman masyarakat sekitar. “Untuk menuju hutan Mentaok harus melalui daerah Prambanan yang di situ banyak orang Hindunya. Ketika orang-orang Hindu melihat rombongan Ki Ageng Pemanahan menuju alas Mentaok, mereka juga ingin ikut kerja sama membuka hutan. Setelah dibuka dan dijadikan pedukuan Mataram oleh Ki Ageng Pemanahan, orang-orang Hindu tinggal bersama di sini,” ujarnya.
Filosofi Masjid
Masjid Gedhe Mataram memiliki filosofi yang terkandung di dalamnya. Dengan mengutip ayat al-Quran yang berupa إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Semua milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Bapak Warisman mengatakan, “Setelah ada panggilan melalui bedug atau azan, para jamaah menuju masjid untuk beribadah, bermunajad, shalat, zikir dan sebagainya setelah sebelumnya melakukan beragam aktifitas. Usai dari itu, mereka kembali dengan aktifitas masing-masing, yang pedagang ke pasar, yang petani ke sawah dan seterusnya. Nah, sedangkan kelak ada kembali kepada Allah tapi yang tidak kembali ke dunia lagi, yaitu kematian. Ketika meninggal dunia itu hanya ada dua tempat, surga dan neraka. Siapapun bebas memilihnya. Kalau ingin surga maka ada langkah dan syaratnya. Nah, hal semacam ini digambarkan mulai dari gapura hingga atas mustaka Masjid Gedhe Mataram.”
|BACA JUGA : KISAH ISLAMNYA PUTRA-PUTRI PRABU SILIWANGI
Dahulu, atas perintah Kanjeng Panembahan Senopati, gapura masjid dijaga oleh petugas. Bagi yang ingin masuk wilayah atau kawasan masjid, maka diharuskan terlebih dahulu membaca syahadat. Hal itu bukanlah bentuk paksaan atau diskriminasi kepada yang ingin memasuki masjid, tetapi sebagai tiket untuk bisa masuk sebagaimana jika ingin melihat konser. Maka pintu tersebut disebut pintu syahadat atau gapura paduraksa, dua rasa digabung menjadi satu, sang Khaliq dan sang makhluk. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ itu sang khaliq وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ itu sang makhluk Ini syarat utama masuk surga.
Hingga kini, masjid yang usianya sudah mencapai ratusan tahun itu masih terlihat hidup. Masyarakat sekitar masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Ketika datang waktu shalat, masyarakat sekitar lansung berbondong-bondong mendatangi Masjid Gedhe Mataram guna menunaikan ibadah shalat. Di luar waktu itu, banyak masyarakat yang menggunakannya sebagai tempat berkomunikasi, belajar dan lain-lain.
“Ada sejumlah kegiatan di Masjid Gedhe Mataram ini, kegamaan, pendidikan dan sosial. Kegiatan keagamaan ya meliputi pelaksanaan shalat lima waktu, shalat Jumat dan semacamnya. Kalau dalam pendidikan, ada majelis taklim yang diikuti kalangan umum, kajian, kultum, penyuluhan dan sebagainya tapi untuk sementara diberhentikan karena masih pandemi. Sementara kegiatan sosial, pengurus memperhatikan jamaah yang ekonominya lemah dengan memberikan bantuan berupa beras setiap tiga bulan sekali. Jika ada jamaah yang sakit, kita langsung sambangi dan membawanya ke rumah sakit apabila perlu perawatan intensif,” pungkasnya.



