Dalam catatan sejarah pada abad ke 16 hingga ke 17, Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya. Saat itu, pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional, sehingga perekonomian Kesultanan maju pesat. Bahkan wilayah kekuasaannya semakin luas meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung.

Kesultanan Banten mengadakan hubungan dengan negara-negara lain melalui jalur laut. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, sempat mengirimkan dua orang utusannya ke Inggris sebagai duta besar yang ditugasi membeli senjata. Selain itu, sultan menggalang hubungan baik dengan India, Mongol, Turki, Arab dan Eropa.

Sehingga tak heran jika Banten banyak menyimpan perkembangan sejarah Kesultanan sebagaimana yang terekam di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini.

Museum ini terletak antara Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten Lama. Dari atapnya, bangunan ini berarsitektur tradisional Jawa Barat. Namun jika dilihat dari bentuk bangunannya, museum ini lebih mirip sebuah rumah yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum yang diresmikan pada tanggal 15 Juli 1985 oleh Dirjen Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Subadio.

Saat memasuki museum yang mempunyai luas tanah 10.000 m2 dan bangunan 778 m2, kita akan disambut dengan dua artefak besar yang tersimpan di halaman Museum yaitu artefak Meriam Ki Amuk dan juga alat penggilingan lada. Ada cerita menarik dari meriam yang terbuat dari tembaga dengan tulisan arab yang panjangnya sekitar 2,5 meter ini. Meriam itu merupakan bantuan dari Ottoman Turki. Konon Meriam Ki Amuk memiliki kembaran yaitu Meriam Ki Jagur yang saat ini tersimpan di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Sedangkan alat penggilingan lada yang terletak sisi kiri halaman Museum ini, konon terbuat dari batu padas yang sangat keras, namun telah hancur menjadi beberapa bagian berjejer bersama puing-puing gerbang keraton.

Dari sini mencerminkan pada zaman dahulu, Banten dikenal sebagai penghasil lada. Hal inilah yang menyebabkan Belanda datang ke Banten, salah satunya ingin menguasai produksi lada sehingga mempropaganda Keraton Kesultanan Banten.

Menurut Penuturan Fajar Setia Pusnama, Pengurus Museum, Situs Kepurbakalaan Banten Lama mempunyai koleksi yang telah diregistrasi lebih dari seribu benda koleksi.

“Ini merupakan museum situs, benda-benda yang tersimpan di museum ini merupakan benda-benda hasil penggalian dari Keraton Surosowan yang berada di depan museum ini. Namun ada pula koleksi yang diperoleh melalui cara pembelian, imbalan jasa, titipan, dan hibah,” ungkapnya saat kami temui di ruanganya.

Sebelum kami dipersilahkan masuk ke ruang pameran, beliau sempat mengklasifikasi benda-benda purbakala yang terbagi menjadi 5 kelompok besar, yaitu: Arkeologika, Numismatika, Etnografika, Keramologika, dan Seni rupa.

“Banyaknya benda arkeologi ini mencerminkan eksistesi Banten lama yang telah ada semenjak masa pra sejarah di Indonesia,” ucapnya panjang lebar pun lengkap dengan cerita kejayaan Kesultanan Banten pada masa lalu yang menakjubkan.

Lebih takjub lagi setelah memasuki dalam bangunan museum, kami disambut dengan 2 gerabah berukuran besar. Walaupun terlihat retak dan tambalan di bagian sisinya, gerabah ini masih terlihat kuat dan memperlihatkan sisa-sisa kejayaan zaman Kesultanan Banten.

Berjalan ke sisi kiri bangunan, terdapat peta dan gambar yang menjelaskan kejayaan Kesultanan Banten lewat Pelabuhan Karangantu. Tampak dalam gambar, Banten telah menjadi kota pelabuhan yang maju, di mana para pedagang saling berinteraksi dan berkomunikasi dari berbagai manca negara. Hal itu terbukti dengan banyaknya peninggalan koleksi asing seperti keramik-keramik yang berasal dari Cina, Jepang, Vietnam, Burma, Timur Tengah, dan Eropa.

Pesatnya perekonomian Banten juga tercermin dari banyaknya mata uang, baik logam ataupun kertas yang tersimpan di museum ini. Ada mata uang dari Cina, VOC, dan mata uang lokal banten sebagai bukti banyaknya bangsa asing yang singgah di Banten Lama ini. Uniknya ada mata uang VOC yang dicetak di Belanda tapi tulisannya mengunakan Bahasa Arab.

Terakhir dari kami, pada bagian belakang, museum ini memiliki peninggalan perabotan rumah tangga. Berupa gelas, mangkok, piring, kapak batu, genteng, hiasan atap bangunan, tegel, pagar besi berhias, engsel, pegangan kunci, rumah kunci, hiasan lubang kunci, paku, mur dan pipa saluran air dalam berbagai bentuk dan ukuran. Selain itu, di museum ini juga terdapat koleksi senjata seperti keris dan tombak yang menghiasi salah satu sudut ruangan.

Ali Wafa Yasin/sidogiri

Spread the love