Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.” Soekarno, 1962.
Petikan pidato di atas adalah pekikan utuh posisi bangsa Indonesia terhadap isu Palestina. Hal itu telah berlangsung sejak lama dan masih relevan hingga saat ini, di mana Indonesia belum pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, sebagai bentuk dukungan atas Palestina.
Bila menakar dengan logika dan menghitung secara matematika, Palestina memang mustahil menang melawan Israel. Bagaimana tidak? Dari segi diplomatik, Palestina belum menjadi negara yang merdeka secara utuh. Palestina punya presiden, tapi pemerintahannya belum efektif. Tidak punya pasukan militer resmi. Yang ada hanya Hamas dan Fatah, yang sering tidak sama dalam pandangan politik.
Karena tidak memiliki pemerintahan yang efektif inilah, sehingga diplomasi mereka di tingkat dunia sangat jauh
tertinggal dengan Israel. Itulah mengapa, meski kemerdekaan Palestina sudah diakui oleh 138 (71,5%) dari 193 negara anggota PBB, Israel masih dengan mudahnya mengotak-atik wilayah Palestina yang tinggal secuil.
Dari segi finansial? Apalagi! Khusus untuk belanja militer di tahun 2019 saja, Israel menghabiskan 20,46 miliar
dollar AS, atau hampir 294 triliun rupiah. Alokasi ini berkisar antara 5,2% sampai 5.94% dari total PDB Israel sendiri.
Bandingkan dengan belanja anggaran militer Indonesia pada tahun yang sama yang hanya 7,66 miliar dolar AS.
Atau perhatikan anggaran pertahanan Singapura, negara Asia Tenggara dengan belanja militer tertinggi yang hanya 11,2 miliar dolar AS. Lalu bagaimana mau membandingkan dengan Palestina yang hanya bermodal batu dan katapel? Maka mustahil Palestina menang melawan Israel. Secara logika.
Tapi mengapa Palestina masih sanggup bertahan hingga saat ini? Bahkan perlawanannya belum ada tanda-tanda akan surut. Salah satu jawabannya adalah karena masih ada negara-negara seperti Indonesia yang setia menyuarakan kepentingan bangsa Palestina.
|BACA JUGA : MENGINDONESIAKAN ISLAM?
Bila berkaca pada sejarah, Indonesia memang memiliki hubungan khusus dengan Palestina. Coba perhatikan!
Pada 6 September 1944, mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin AlHusaini memberikan dukungan secara
terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, satu tahun sebelum Indonesia merdeka.
Tidak hanya itu, setelah merdeka, saat Indonesia membutuhkan pengakuan sebagai negara berdaulat, lagi-lagi rakyat Palestina bergerak, mendorong Mesir mengakui Indonesia. Pengakuan kedaualatan dari Mesir dan Palestina
pada tahun 1947 itu merupakan buah diplomasi H Agus Salim, sebagai Menteri Luar Negeri kala itu.
Sebaliknya, dukungan Indonesia terhadap Palestina dilakukan ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Pemerintah Indonesia waktu itu tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dengan alasan Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik. Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tidak ditentukan.
Bahkan yang terbaru di tahun 2021 ini, ketika Palestina kembali dihinakan oleh bangsa Israel, dengan gempuran bringas di saat umat Islam menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri, Indonesia kembali bergerak untuk bangsa Palestina.
Bapak Presiden sebagai kepala pemerintahan ikut bersuara. “Indonesia mengutuk serangan Israel yang telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anakanak. Agresi Israel harus dihentikan,” ucap Jokowi, Sabtu, 15 Mei 2021.
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi bersama perwakilan menteri luar negeri dari 16 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), juga menggelar pertemuan darurat membahas Isu Palestina.
“Kita semua tidak boleh lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial. Semua penderitaan Palestina disebabkan oleh Israel sebagai kekuatan yang menjajah.”
Warga Indonesia melalu berbagai ormasnya, mengumpulkan donasi secara serentak. Ratusan miliar rupiah terkumpul dalam waktu yang sangat singkat. Belum lagi doa-doa yang tidak pernah putus untuk kemenangan rakyat Palestina. Di setiap shalat fardhu, di mimbar-mimbar masjid ketika shalat Jumat, di setiap qunut-qunut nazilah, akan menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa Palestina. Insyaallah!




