Nikah, merupakan gerbang menuju rumah tangga. Hal yang umum, ketika rumah tangga dibangun maka kebahagiaan dan ketenangan biduk rumah tangga dalam bingkai sakinah mawaddah wa rahmah menjadi harapan terbesar. Namun, bagaimana cara menjalaninya, sehingga harapan itu menjadi nyata?

Ada banyak resep dan tips untuk meraih kunci pintu kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga. Salah satu dari kuncinya adalah, saling mengerti dan memahami antar pasangan. Termasuk juga, memahami pernikahan dari sudut kata, nikah. Kata nikah yang terdiri dari empat huruf Nun (ن), Kaf (ك), Alif (ا), dan Ha’ (ح) memberi pamahaman mendalam apa yang terkandung dalam nikah. Kata nikah dimaknai sebagai akronim dari kata nikmat, karamah, amanah dan hikmah.

Lantas, apa maksud dari serangkaian kata kepanjangan dari kata nikah tersebut? Pertama huruf Nun adalah nikmat (نعمة). Nikmat di sini tidak hanya berkutat pada kemesraan di atas ranjang. Akan tetapi, keseluruhan dalam pernikahan adalah nikmat; mulai dari debaran rasa proses khithbah, kegelisahan saat akan prosesi akad nikah, getar aneh pada malam pertama, menunggu kelahiran anak, bermain dengan anak, hingga keseluruhan perjalanan berkeluarga. Semuanya adalah nikmat.

Kenikmatan yang sering tidak disadari dalam pernikahan adalah hadirnya teman hidup. Dari kesendirian menuju kebersamaan dan kemesraan. Di dalamnya, ada motivasi, ada curhat, ada cerita, ada keluh kesah, ada pertengkaran dan seterusnya. Jika kemudian terjadi pertengkaran yang mengakibatkan perceraian, pasti ada kisah yang tak terlupakan.

Bukti terbesar dari nikmat nikah adalah fakta bahwa manusia lebih banyak yang memilih untuk menikah. Dalam bingkai pernikahan, rumah tangga bisa dijalani hingga bertahuntahun. Jika tidak ada nikmat di dalamnya, sudah pasti sebagian besar manusia memilih menjomblo dan membuyarkan pernikahan yang telah dilakukan. Bukahkah kita juga melihat beberapa orang menikah beberapa kali?

Kedua, makna kata dari nikah adalah pada huruf Kaf, yakni karamah ( كرامة), kemuliaan. Pernikahan pasti akan melahirkan kemuliaan, sejak dimulai ada pembicaraan ke arah pelaminan, saat di pelaminan, hingga rumah tangga berlangsung. Paling nampak adalah saat pernikahan berlangsung. Ratusan atau bahkan ribuan orang disibukkan oleh dua mempelai, sementara dia tidak berbuat apa-apa. Tidak heran jika sementara ini dua mempelai diibaratkan raja dan ratu; karamah.

Bagi seorang wanita, nikah adalah sebuah kemuliaan terbesar. Saat itu, ia ditempatkan sebagai ratu dan permaisuri dalam keluarga. Kebutuhan hidupnya menjadi tanggung jawab suami. Sang suami akan menjaga kemuliaanya dengan dukungan agama yang mengharuskan suami memberi nafkah, pakaian dan berhubungan baik. Kalaupun harus di rumah saja, wanita tidak masalah, dan bahkan menjadi mulia manakala ia hanya mengurus dan mendidik anak untuk mencetak generasi yang kuat dan hebat.

Ketiga, ada pada huruf Alif, yakni Ulfah  (ألفة), yang artinya kasih sayang. Pernikahan pasti mengandung kasih sayang sejati. Kasih sayanglah yang menjadi tali kuat pertahanan rumah tangga dari segala cobaan, termasuk saat pudarnya kecantikan dan ketampanan. Dengan Ulfah , suamiistri terus berupaya dan berpikir untuk memberikan kebahagiaan pada pasangannya.

Dalam pernikahan, perbedaan karakter justru menjadi kunci untuk menumbuhkan kasih sayang, karena bisa saling melengkapi. Pria yang berorientasi pada hasil dan pecapaian prestasi, diimbangi oleh wanita berorientasi pada hubungan dan cinta. Pria yang cenderung keras, diimbangi oleh wanita yang cenderung lembut, atau sebaliknya.

Hal yang paling nampak dari nilai Ulfah adalah ketika pasangan pernikahan dikaruniai anak. Kehadiran buah hati menyempurnakan ikatan kasih sayang. Seorang ayah bangga, dan ibu bahagia. Syariah akikah adalah fasilitas dari agama untuk menuntut kebahagiaan itu.

Hal ini berbanding jauh, ketika ada hubungan cinta di luar nikah. Kehadiran anak, justru menjadi petaka. Pada akhirnya, anak menjadi korban hingga kita saksikan pembuangan bayi di tempat sampah dan selokan. Jelas, karena di dalamnya tidak ada Ulfah  pada keduanya, yang ada hanya nafsu yang dibungkus dengan api cinta.

Terakhir dan keempat adalah huruf Ha’ yang berarti hikmah ( حكمة). Sejatinya, nikmah, Ulfah  dan karamah di atas adalah bagian dari hikmah dalam pernikahan. Selebihnya, dalam nikah mengandung banyak hikmah, baik dari psikologis, medis, hingga sosial. Banyak diungkap fakta bahwa pernikahan dapat menyelesaikan problem sosial, yang di antaranya mengurangi angka perzinahan. Hikmah yang berarti juga kebajikan merekomendasikan nikah sebagai solusi terbaik mengurangi angka kriminal kelamin.

Baca juga: Agar Cinta Selalu Bersemi

Hal tersebut memang menjadi hikmah terbesar dalam pernikahan, yakni meminimalisir dosa, khususnya zina. Dalam suatu hadis riwayat alBukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda:

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, hendaklah ia menikah karena menikah itu dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan (farji)”

Di samping itu, menikah dapat juga mengurangi angka kemiskinan. Ini dilihat dari hikmah lain dari pernikahan, yakni menjadi penyebab tambahan rezeki dan bahkan kekayaan. Dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari menulis bab khusus soal pernikahan orang yang tidak mampu dengan judul, “Babu Tazwij al-Mu’sir”. Di antara dalil yang disinggung oleh Imam Bukhari adalah surah an-Nur ayat 32:

“Dan, nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kalian, dan juga orang yang layak menikah dari hambahamba sahaya laki-laki dan perempuan kalian. Jika mereka fakir, Allah akan memberi mereka kemampuan melalui pemberian-Nya. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”.

Ibn ‘Abbas juga pernah mengatakan:

“Allah menjadikan manusia ingin menikah. Allah memerintahkan itu untuk kaum merdeka dan budak, dan Allah memjanjikan mereka kekayaan.”

Setelah menyatakan demikian, Ibnu ‘Abbas membaca ayat di atas. Itu berarti, di antara hikmah dalam pernikahan adalah penarik rezeki. Hitungan kasarnya, ketika masih menjomblo rezeki yang didapat hanya untuk satu porsi, yaitu diri sendiri, tapi setelah menikah Allah akan memberi dua porsi atau bahkan lebih. Bukankah setiap makhluk itu ada rezekinya sendiri?

Artinya, menikah itu menjanjikan kenikmatan, kemuliaan, kasih sayang, dan hikmah kebajikan. Semua itu pasti bernilai berkah. Bukankah dengan menikah minimal doa keberkahan dari para sahabat pasti didapat? Wallahu a’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri

Spread the love