Sebagian kalangan mencoba melakukan kajian kritis terhadap studi al-Quran, dengan cara merangkum berbagai kepingan ayat yang agaknya sarat pertentangan. Ketidaksesuaian tersebut disuguhkan dalam pertanyaan-pertanyaan, yang tentu akan sulit dijawab oleh mereka yang beranggapan al-Quran hanya indah untuk dibaca dan diperdengarkan, namun enggan mengkaji lebih dalam. Mulai dari kemusykilan sederhana seputar perbedaan kata yang diucapkan dalam konteks yang sama, hingga pertanyaan fundamental yang erat kaitannya dengan keimanan.

Mula-mula dalam Surah al-Muzammil, kata masyriq dan maghrib di sebut dalam bentuk tunggal. Dalam Surah ar-Rahmân disebut dengan kata yang menunjukkan arti dua (tatsniyah), sedang pada Surah al-Ma’ârij di sebut dalam bentuk plural. Hal ini tampak berbeda, tentu saja bagi mereka yang mau mengkaji dan meneliti. Adapun mereka yang tidak berkepentingan dalam memahami al-Quran selain membaca tanpa men-tadabburi, tentu perbedaan-perbedaan tersebut luput dari perhatian. Demikian ini hanya sekelumit dari apa yang tampaknya bias dan janggal.

Dalam satu kesempatan, Allah menyebut yang kekal hanyalah Dzat-Nya. Namun di kesempatan berbeda dalam QS Hûd [11]: 106- 108, dikatakan bahwa penduduk surga juga akan kekal di dalamnya. Dalam QS al-Kahfi [16]: 85-86 dijelaskan, bahwa matahari terbenam di lokasi laut yang berlumpur hitam. Ini mengindikasikan bahwa yang berputar mengelilingi bumi adalah matahari. Tentu saja pemahaman tersebut bertentangan dengan teori ilmiah yang mengatakan matahari diam pada porosnya dan bumilah yang mengelilinginya. (hal. 67)

Belum lagi beberapa fakta dalam banyak kesempatan, dimana ayat-ayat al-Quran kerap idem dengan buah pikiran khalifah kedua, Sayidina Umar bin al-Khaththab. Sayidina Umar pernah menyampaikan interupsi dalam suatu permaslahan, lalu tak berselang lama Rasulullah hadir membacakan ayatnya. Sehingga muncul kesan bahwa sebenarnya kandungan al-Quran tidak lepas dari pengaruh kuat Rasulullah dan Sayyidina Umar sendiri. (hal. 202)

Klaim bahwa penulisan al-Quran telah rampung ditulis sejak masa Rasulullah perlu juga dipaparkan lebih gamblang. Pasalnya, instruksi kodifikasi dan penyampulan alQuran justru dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Sebab jika berkaca pada kitab samawi lainnya, adanya distorsi dan interpolasi wahyu merupakan hal yang tak terelakkan. Maka jaminan atas kesucian al-Quran dari ulah jahil tangan tak bertanggung jawab, sangat perlu dibuktikan. (hal. 215)

Kritik atas al-Quran seperti yang ditampilkan tadi kerap dituduhkan oleh kalangan orientalis, yang memang dalam penelitian mereka tidak dibarengi keimanan terhadap alQuran itu sendiri. Alhasil, kesimpulan dari pernyataan yang diambil sangat jauh dari kata objektif. Kita sebagai umat Islam, berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan ini, setidaknya akan berada pada dua titik penting: mengkaji lebih dalam untuk kemudian memberi bantahan secara ilmiah, atau membiarkan tanda tanya besar itu menjadi PR Ulama Mufassirin lantaran kita merasa tidak memiliki kepentingan apapun.

Namun kini, kita tidak perlu kikuk atau kurang percaya diri menyikapi pernyataan-pernyataan sinis orientalis tadi. Karena al-Buthi telah merangkum solusi problematika tersebut menjadi sebuah karya fenomenal yang siap dijadikan amunisi untuk menjawab tantangan debat, atau untuk sekadar menambah wawasan keilmuan. Yakni dalam buku Lâ Ya’tîhil-Bâthilu: Kasyfu li Abâthîla Yakhtalifuhâ wa Yulshiquhâ Ba’dhuhum bi Kitabillâh.

Karya ini lebih terkesan sebagai hasil perenungan panjang penulisnya atas studi al-Quran yang ditekuni. Meski dalam gaya penulisan selalu menampilkan pertanyaan sebagai “inti kejanggalan” dari pihak lawan, namun tidak semua pertanyaan tersebut ternyata muncul dari mereka yang benar-benar ingin mengkritisi al-Quran.

Karya ini lebih mirip buku tips dari penulis, sebagai strategi membantah lawan jika seandainya pertanyaanpertanyaan itu muncul ke permukaan. Buku ini menjawab kebatilan-kebatilan yang berusaha di angkat oleh pihak yang ingin melucuti supremasi al-Quran. Nyatanya, justru dengan ulah mereka itulah keberadaan al-Quran sebagai mukjizat agung kian melambung dan mengudara. Selamat membaca!