Selama ini, Islam selalu berhasil mengentaskan keterpurukan emosional, bahkan pada titik terburuk sekalipun. Dengan kekayaan ilmunya, banyak sekali terapi positif yang bisa diterapkan secara baik, itupun jika Anda mau merujuk literatur-literatur Islam klasik. Berikut ini beberapa terapi psikologis dengan metode perenungan ayat-ayat suci al-Quran yang sudah terbukti ampuh selama berabad-abad.

Emosional

Emosi adalah kepanikan pada otak secara spontan dan merembet pada perasaan. Kondisi emosional yang sulit dikendalikan biasanya memaksa fisik melakukan pelampiasan. Mulut mudah mencaci-maki atau berkata kotor, fisik mudah melakukan tindakan destruktif. Orang marah tapi tidak bisa melampiaskan emosinya, akan mudah stres atau menjadi gila.

Emosi bisa timbul akibat factor eksternal yang dipicu problem dengan orang lain, atau faktor internal disebabkan perasaan negatif dalam hati. Untuk solusi yang kedua Anda bisa mengatasinya dengan berwudhu’ lalu Shalat Sunnah, sembari introspeksi diri dengan banyak berdzikir. Sedang untuk faktor pertama, renungi firman Allah QS Fushshilat [41]:34,

ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَة كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيم

 “Tolaklah (hal negatif) dengan cara lebih baik. Jika diantara kamu dan orang itu bermusuhan, maka (kondisikan) seolah-olah ia menjadi teman yang sangat setia.”

Frustasi

Frustrasi dalam bahasa Arab “al-Ya’su”, menjadi penyakit paling menakutkan untuk kapasitas masa modern saat ini. Mayoritas pelaku aksi bunuh diri di negara-negara maju dipicu oleh faktor yang satu ini. Kemunculan frustasi biasanya dialami seorang yang sering berhadapan dengan problem akut, atau persoalan hidup yang bertolak belakang dengan keinginannya.

Frustasi sangat dicela agama, karena menjadikan statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri maupun orang lain. Dalam al-Qur’an bahkan ada larangan berputus asa (QS Yusuf [12]:87). Cobalah disadari solusi berikut, bahwa hidup yang Anda jalani saat ini adalah takdir terbaik dari Allah, QS al-Baqarah [2]:216,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

  “َBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Was-Was

Penyakit was-was merupakan akibat dari bisikan hati karena anganangan duniawi yang didasarkan pada hawa nafsu. Was-was juga merupakan penyakit yang muncul akibat gangguan setan yang membuat korbannya raguragu mengambil keputusan untuk planning hidup. Dalam penangannya, terapi Islam berbeda dengan yang ditempuh psikolog modern. Sebab Islam memandang sumber utama waswas adalah setan, tapi tidak demikian dengan psikologi modern saat ini.

Maka solusi untuk mengatasinya ialah dengan memperkuat keyakinan (imân) pada takdir Allah dan berpuas diri (qanâ’ah) atas segala karunia nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Bangun kepercayaan diri dan buang jauh-jauh keraguan Anda. Setiap langkah yang Anda lakukan, dalam kondisi apapun itu, pasti bersama kehendak baik Allah. Baca QS atTaubah [9]:51,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

 “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa (sesuatu) kami, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Pikiran Berat

Terlalu banyak mengurusi persoalan rumit biasanya menyebabkan kelupaan, makanya ada anjuran untuk tidak terlalu memforsir diri. Sisihkan sebagian waktu untuk merehat (refreshing) pikiran Anda. Daya tangkap tidak selamanya menjamin kemampuan ingatan, sebab secara internal ada faktor-faktor yang dapat menghalangi mengingat sesuatu.

Informasi dan kegiatan yang menumpuk kadang membuat Anda semakin sulit mengingat materi-materi yang dipelajari. Hal ini berbeda dengan daya ingat pada anak-anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail peristiwa pada masa lalu. Kondisi terpuruk yang terus-menerus demikian tidak baik bagi kelangsungan hidup. Dalami QS ath-Thalâq [65]:3,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ

 “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia yang akan mencukupkan (keperluan)-nya.” Dalam hal ini, al-Quran mengajukan solusi. Tinggal bagaimana cara Anda menerapkannya dalam kehidupan nyata. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. Wallâhu A’lam bish-Shawâb