Etika yang apik belum tentu mengantarkan si empunya pada cara pandang yang benar dan sesuai dengan nilai etika itu sendiri. Sebab kemapanan cara pandang tidak hanya disetir oleh etika luhur, bahkan tradisi yang berkembang di daerahnya juga memengaruhi benar dan tidaknya cara pandang seseorang.

Setidaknya demikian itu terlihat jelas dari bagaimana orang Arab Jahiliyah memandang eksistensi perempuan. Keluhuran etika orang Arab Jahiliyah dengan sifat dermawan, setia kawan, peduli sesama dan keluguan mereka ternyata belum mampu mengantarkannya untuk menghargai dan menjunjung harkat dan martabat perempuan. Yang ada malah mereka menganggap perempuan sebagai penyebab kemiskinan karena karakter lembut perempuan yang dianggap tidak dapat menghasilkan uang, sandang dan pangan.

Kalau kita tarik ini semua pada jaman now, fakta yang seperti itu tidak melulu karena kaum laki-lakinya berantakan dalam pola fikirnya. Bahkan di sisi lain pihak perempuan juga harus terus menempa diri dan intropeksi, sudahkah ia beretika luhur dan benar-benar mengekspresikan nilai etika itu sendiri? Sebab bagaimanapun juga, kadang sikap para laki-laki yang mendiskreditkan perempuan karena memang kaum hawa-lah yang bertingkah amoral dan tidak mengejawantahkan nilai etika yang luhur tadi.

Oleh karena itu, mestinya kaum perempuan benar-benar mengaplikasikan etika luhur dan menanam nilai etika dalam dirinya. Ambil contoh, ia tidak melakukan perbuatan yang dianggap risih dan mengganggu ketenangan orang lain dengan berbagai perspektif masyarakat setempat. Namun yang terpenting di sini, mereka harus mengindahkan aturan syariah agar tidak ternodai harkat dan martabatnya.

Melihat itu semua, sangat penting di sini penulis tawarkan buku yang bertajuk, Mas’uliyatul-Mar’ah al-Muslimah guna menginformasikan beberapa etika yang harus diperhatikan oleh kaum hawa. Apalagi, tidak sedikit kaum hawa yang tidak mengerti, apa yang musti mereka lakukan dan apa yang harus mereka hindari.

Secara umum, buku setebal 88 halaman ini mengupas etika yang mestinya dilakukan oleh perempuan dan yang wajib mereka jauhi. Semisal, hidup glamor merupakan cara hidup yang kurang baik bagi kaum hawa, baik secara psikis maupun kesucian diri. Bukankah tindakan asusila yang dilakukan kaum laki-laki salah satu faktornya karena kaum hawa yang tebar pesona, sehingga hal itu memantik keinginan para hidung belang untuk bertingkah usil?

Hukum pacaran dan hal terkait juga dikupas di sini meski dengan porsi pembahasan yang sedikit. Tetapi setidaknya sudah cukup karena pembahasannya yang disisipi dengan dampak yang akan mengemuka, baik yang kembali kepada diri mereka atau kepada masyarakat secara umum.

Ruang lingkup dan peran perempuan dalam kancah kehidupan juga dibahas dalam karya Abdullah bin Jârillah bin Ibrahim ini. Pada titik pembahasan ini yang hendak beliau tekankan, bagaimana kaum hawa itu tidak melampaui batas dari sebatas mengupayakan sesuatu sekiranya dekat dengan Sang Pencipta serta bagaimana mereka mengukuhkan keluarga dengan belaian kasih sayang dan sikap lembutnya.

Sedangkan metode penyajian buku Mas’uliyatul-Mar’ah al-Muslimah ini cukup sistematis. Sebagai pemula buku ini menyuguhkan penjelasan bagaimana nasib perempuan ketika mengabaikan kewajiban dan tidak mengindahkan aturan syariah. Selanjutnya, buku ini membeber beberapa kewajiban dan larangan bagi kaum hawa sekaligus mengupas dampak negatif dan positifnya.

Untuk memperapik sajiannya, dalam buku ini juga dicantumkan beberapa manfaat dari melakukan kewajiban mereka dalam kancah kehidupan. Diakui atau tidak, banyak kaum hawa yang tidak mengerti manfaat dari melakukan kewajiban mereka. Oleh karena itu, hal semacam ini juga perlu diungkap agar mereka tahu dan melakukannya.

Baca juga: Sajian Penggoda Iman

Cara hidup berumah tangga tidak luput dari pembahasan buku ini. Semisal, apa saja kewajiban istri kepada suaminya, kewajiban suami kepada istrinya, perempuan berkarir dan hal terkait dengan kekeluargaan yang lain. Yang jelas, buku setebal 88 halaman ini juga cocok untuk dijadikan bekal kaum hawa dalam menapaki hidup berkeluarga dan permasalahannya. Selamat membaca!

Peresensi: Achmad Sudaisi