Beberapa waktu terakhir, kembali bergulir beberapa kasus yang diindikasikan menistakan agama Islam. Padahal, Islam adalah agama mayoritas masyarakat di negeri ini. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukan hanya sekali dua kali, kasus serupa bahkan sudah berulang beberapa kali dengan siklus yang hampir serupa; menista, lalu meminta maaf. Seakan kejadian sebelumnya tak pernah menjadi pelajaran berharga. Bagaimana sebenarnya hal ini bisa terjadi? Ikuti wawancara M. Muhsin bahri, Sekretaris Redaksi Sidogiri Media bersama Ustaz Abdul Somad Lc. MA.
Mengapa ada fenomena pembenturan antara Indonesia dan Islam, yang pada kelanjutannya melahirkan penistaan agama?
Kita harus seimbang dalam menilai. Mengapa? Karena di antara bangsa kita ini ada yang menilai bahwa Islam itu radikal. Seolah-olah kalau kita berislam, maka yang tidak Islam akan dibunuh dan dibantai. Maka lahirlah Islam phopia, yaitu kelompok yang takut kepada Islam. Sedangkan yang satu lagi terlalu takut dengan nasionalisme, sehingga menjadi Indonesia phobia. Keduanya ini sama sekali tidak benar.
Yang harus dilakukan, Ustaz?
Maka kita harus paham bahwa Indonesia ini didirikan oleh ulama. Ketika kita membicarakan Indonesia, Pancasila, di sana ada nilai-nilai Islam yang dimasukkan oleh para ulama berdasarkan al-Quran. Tidak heran ketika kita membaca pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, kita akan menemukan kata ‘Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa’. Maka ketika ada orang berteriak Allahu Akbar, dia tidak anti Indonesia. Dan ketika ada orang berteriak nasionalisme, dia tidak anti lâ ilâha illallâh. Sebagai jalan tengah, wa ja’alnâkum ummatan wasatan. Bahwa engkau saudara yang satu keyakinan, ya lâ ilâha illallâh. Tapi engkau tetanggaku yang non-Muslim, teman sekantorku yang tidak seakidah. Mungkin engkau memang bukan saudaraku sekeyakinan. Tapi engkau adalah saudaraku sebangsa. Islam tidak hanya mengajarkan ukhuwah islâmiyah (persaudaraan sesama Muslim), tapi juga ada ukhuwah wathaniyah (persaudaraan senegara) dan ukhuwah insâniyah (persaudaraan sesama manusia). Rasulullah mengajarkan, satajidûna rijâlan fish-shawâmik, nanti kalian akan menemukan beberapa pendeta di gereja. Jangan ganggu mereka. Jangan kalian bunuh anak kecil yang masih menyusui. Dan jangan bunuh orang yang sudah tua renta. Itu lah islam sebenarnya.
Baca Juga: Generasi Milenial, Generasi Yang Berilmu Dan Beramal
Ada kelompok yang berkata, Islam itu agama Allah, dan Allah tidak perlu dibela. Tanggapan Ustaz?
Memang banyak orang Liberal mengatakan, kita tidak perlu melakukan apa-apa ketika agama dianggap dinista, karena Allah adalah Maha Penolong, tidak perlu kalian yang menjadi penolong. Ingat! Jangan tertipu. Allah adalah Dzat Yang Maha Perkasa dan tidak perlu ditolong. Tapi mengapa kita marah ketika agama dinistakan? Kita memang lemah, sedangkan Allah adalah Maha Perkasa. Tapi dengan menolong agama Allah, berarti kita ingin menolong diri kita sendiri. Karena ini akan menjadi pertanggungjawaban kita nanti di sisi Allah. Apa yang engkau lakukan ketika agama dinista? Kita akan jawab bersama, kami yang lemah ini tetap berusaha membela agamamu ya Allah.
Ketika Nabi Musa melawan Firaun. Ketika Nabi Muhammad melawan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka sudah melewati peran mereka, sekarang adalah zaman kita, maka yang harus kita lakukan adalah melakukan peran kita seperti apa yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita. Orang yang diam ketika agama dinista, mereka adalah setan yang bisu. Maka janganlah menjadi setan bisu.
Baca juga: Santri Nasionalis Sejak Sebelum Kemerdekaan
Tindakan yang benar ketika agama ini dinistakan, Ustaz?
Kita hidup di negara hukum. Tentu kita tidak boleh main hakim sendiri terhadap orang-orang yang menistakan agama. Kita harus laporkan mereka sesuai prosedur hukum. Dan bagi pihak berwenang yang sudah menerima banyak laporan dari masyarakat, juga tidak boleh lambat dalam memprosesnya. Kita doakan semoga mereka yang cepat dalam memproses para penista agama ini diberikan umur yang panjang oleh Allah, diberikan khusnul khatimah oleh Allah. Mereka yang berkuasa hari ini akan meninggal. Mereka yang punya jabatan hari ini akan pensiun. Maka amal baik mereka sebelum mereka meninggalkan dunia dan jabatan ini, yaitu ketika mereka teguh memperjuangkan agama Allah.
Harapan ke depan, Ustadz?
Bagi yang punya kapasitas, perlu menyampaikan bagaimana ajaran Islam itu sebenarnya. Bisa jadi mereka yang menghina Islam adalah orang yang tidak mengerti ajaran islam. Mereka berfikir, masak anak yang masih belum bisa bicara sudah diajak adzan? Kita sampaikan bukan seperti itu, kita membacakan azan di telinga anak-anak kita yang masih kecil untuk mengingatkannya pada janji yang pernah diucapkan dulu. Bahwa tiada tuhan melainkan Allah. Sambil menangis diserukan azan di telinga sang anak, “Wahai anakku, ketika engkau pertama kali datang ke dunia, aku yang membisikkan suara azan ke telingamu. Maka ketika aku nanti akan meninggalkan dunia, kuharap engkau yang membisikkan kalimat tauhid ke telinga bapakmu.”
Bila sudah demikian, maka jangan pernah ada lagi penistaan agama. Rasulullah mengatakan, bahwa kita orang beriman itu seperti lebah. Kita tidak pernah menggangu orang lain. Tapi sekali ada yang menggangu kita, kemanapun dia lari, kita akan mengejarnya. Maka jangan pancing umat Islam dengan penistaan. Kami tidak akan menggangu kalian, tapi apabila kalian mengusik kami, maka jangan salahkan kami bila kami menyengat kalian.
M. Muhsin bahri/sidogiri




