Di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, sekitar 10 km dari Kota Kediri, lahirlah tokoh alim produktif yang mendunia. Beliau bernama Ihsan, yang kemudian masyhur dengan panggilan Syekh Ihsan Jampes. Pria kelahiran Jampes, 1901 ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh sufi, tetapi juga mahir di berbagai disiplin ilmu agama, semisal, fikih, hadis, tasawuf, tafsir dan astronomi. 

Kealiman Syekh Ihsan Jampes tak terlepas dari faktor genetikal yang ia warisi. Ia terlahir dari darah ulama. Sejak kecil ia tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH. Dahlan bin Saleh dan ibundanya Nyai Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren  Jampes Kediri. Kakeknya adalah KH. Saleh, tokoh asal Bogor, Jawa Barat, yang kemudian hijrah ke Kediri Jatim lalu menghabiskan masa mudanya menimba ilmu dan memimpin pesantren di sana. 

Syekh Ihsan Jampes masih keturunan sultan di daerah Kuningan Jawa Barat yang menyambung ke Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati Cirebon, satu di antara sekian banyak anggota Dewan Dakwah Walisongo. Sementara, ibunya adalah anak dari tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senopati, Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16. 

Seperti biasanya, masa pendidikan Ihsan Jampes dimulai dari pesantren-pesantren baik di Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Di Jawa Timur beliau berguru kepada KH. Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari Jombang, dan kiai tersohor lainnya. Sedangkan di Jawa Tengah, Ihsan Jampes menempa ilmu kepada KH. Khozin Bendo (Pare), KH. Idris Jamsaren (Solo) dan Mbah Sholeh Darat yang pernah menjadi guru RA. Kartini.

Sejak usia belia, Syekh Ihsan Jampes sudah terkenal produktif menulis karya-karya berbahasa Arab. Karya-karya beliau didominasi disiplin ilmu tasawuf dan akhlak. Di bidang astronomi, ia menulis Tashrîhul-Ibârât penjabaran Kitab Natîjatul-Miqât karangan KH. Ahmad Dahlan, Semarang. Beliau juga mengarang Manâhijul-Imdâd, sebuah kitab komentar atas Kitab Irsyâdul-‘Ibâd Ilâ Sabîlir-Rasyâd karya Imam Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, ulama Syafi’iyah asal Malibar, India. 

Baca Juga: Dr. Said Ramadhan Al-Buthi; Lentera Umat Islam Dari Bumi Syam

Sedangkan karya beliau yang viral di dunia Islam umumnya dan di masyarakat pesantren khususnya adalah Irsyâdul-Ikhwân Libayâni Syurbil-Qahwah wa ad-Dukhân, kitab khusus yang menjelaskan hukum minum kopi dan merokok, beserta manfaat yang terkandung dalam biji kopi. Beliau menulis kitab ini karena kegemarannya minum kopi dan merokok ketika masih remaja. Bagi perokok dan penikmat kopi tidak ada salahnya sambil menyeduh kopi membaca karya ekslusif ini.

Mengenai manfaat kopi, beliau menulis dalam kitab tersebut dalam bentuk nadzam:

عليك بأكل البُنِّ فى كلّ ساعة * ففى البنِّ للأكل خمس فوائد 
نشاط و تهضيم و تخليل بلغَم * تطَيُّب اَنْفاس و عون لقاصد

“Minumlah kopi setiap waktu, sebab bagi peminumnya ada lima faidah di dalamnya,

yakni membakar semangat, melancarkan pencernaan, menghilangkan dahak,
membersihkan pernafasan, dan membantu mencapai tujuan”.

Kitab Irsyâdul-Ikhwân tersebut berisi 180 bait nadzâm disertai syarah (komentar) atasnya. Sedikit cerita, bahwa Syekh Ihsan mengarang kitab ini berawal dari ketika beliau menghadiri suatu acara yang dihadiri beberapa ulama. Ada salah satu kiai protes kepada Syekh Ihsan karena beliau merokok, beliau hanya menanggapinya dengan tenang, woles dan mesem. Sepulang dari acara, Syekh Ihsan langsung mengarang kitab Irsyâdul-Ikhwân tersebut. Tindakan beliau ini menarik dan bisa ditiru. 

Artinya, Syekh Ihsan sudah jauh memakai dialektika ala intelektual sebelum banyak ada mahasiswa di Indonesia yang memakainya. Beliau tak menanggapinya di tempat kejadian, tetapi menanggapinya dengan cara mengarang sebuah karya. Ajib.

Sedangkan karya monumental yang membuat nama beliau melambung hingga ke manca negara adalah Kitab Sirâjut-Thâlibîn. Kitab tasawuf ini berisikan komentar atas traktat yang berjuluk Argumentasi Islam, Imam al-Ghazali, pentolan sufi terkemuka abad pertengahan. Karya Magnum Opus beliau yang disusun pada 1933 ini tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga banyak diminati di Afrika bahkan Eropa. Sebagian perguruan tinggi Islam mancanegara bahkan menjadikannya sebagai rujukan resmi. Kitab ini, misalnya, dijadikan kajian oleh mahasiswa pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

Baca Juga: Kiai Shaleh Darat As-Samarani, Guru Agung Ulama Jawa


Konon, popularitas kitab tersebut pun sampai di telinga penguasa Mesir ketika itu, Raja Faruq. Karena itu, pada 1934 sang raja mengirim utusan ke Dusun Jampes untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan Jampes bersedia diperbantukan mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, permintaan tersebut urung diterima lantaran kecintaan sang syekh kepada tanah kelahirannya. Ia ingin mengabdikan diri kepada warga desanya melalui pendidikan. Dedikasinya memajukan pendidikan Islam di wilayahnya itu tak lagi diragukan.

Pada 1942 pendidikan Islam di lingkungan Ponpes Jampes itu diberi nama Mafatihul Huda yang lebih dikenal dengan MMH (Madrasah Mafatihul Huda). Di bawah kepemimpinannya, ponpes ini menjadi destinasi belajar santri dari berbagai pelosok Tanah Air dan semakin berkembang.

Yang lebih menakjubkan lagi, beliau menyelesaikan kitab syarah setebal 1000 halaman ini dalam kurun waktu kurang lebih delapan bulan di kediaman beliau, Jampes, seperti penuturan beliau dalam kitab tersebut.

وكانت مدة تهذيبه مع شواغل الدهر وإبلائه ثمانية أشهر إلا أياما، آخرها في نهار الثلاثاء التاسع والعشرين من شعبان المكرم الذي هو من شهور سنة إحدى وخمسين بعد الثلثمائة والألف من هجرة من له تمام العز والشرف. وذلك بمنزلي في محلة جمفس ببلد كديري من بلاد جاوة

“Adapun masa penulisan kitab ini adalah delapan bulan kurang beberapa hari. Diselesaikan pada siang hari Selasa, tanggal 29 bulan Sya’ban tahun 1351 Hijriah. Selesai di rumahku di Desa Jampes, Kediri, salah satu daerah di Jawa”.

Karena kepakaran dan kealiman beliau inilah yang kemudian dinyatakan dengan bukti konkret karya-karya agung, terlebih komentar atas kitab karya al-Ghazali maka tak heran, Mbah Maemon Zubair menjuluki beliau dengan julakan al-Ghazali Shagir (Al-Ghazali kecil).

Afifuddin/sidogiri

Spread the love