Lahir dengan nama Muhammad Shaleh bin Umar sekitar tahun 1235 H/ 1820 M di Kedung Cumpleng (Jepara) dan wafat pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M di Kampung Mlayu Darat, pesisir pantai Semarang. Penyematan nama “Darat” di dapat setelah berkeluarga dan menetap di kampung Darat. Saat ini kampung Darat masuk wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

Keluarga Kiai Shaleh Darat pindah ke Semarang karena panggilan tugas. Ayah beliau, Kiai Umar asal Mayong (Jepara) adalah ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro (w. 1855 M). Kiai Umar diamanahi mengamankan basis perjuangan di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa, meski tidak banyak data sejarah yang menampilkan fakta demikian.

Posisi Kiai Shaleh Darat sebagai putra dari sahabat terpenting Pangeran Diponegoro—pemimpin perang terbesar dalam sejarah Pulau Jawa—membuatnya terbiasa bergaul dengan tokoh-tokoh pejuang sejak masa belia. Saat Perang Jawa meletus tahun 1825 M, Kiai Shaleh Darat masih berusia 5 tahun. Paling tidak, pengalaman inilah yang awal mula membangun karakter pejuang dalam diri beliau dikemudian hari.

Muda Bersemangat Kiai Shaleh Darat merupakan santri cerdas dengan kemauan yang tinggi. Setelah mendapat pengajaran al-Quran dan ilmu-ilmu dasar dari ayah beliau sendiri, Muhammad Shaleh muda dikirim ke pesantren-pesantren untuk tafaqquh fid-dîn kepada beberapa ulama besar di Jawa Tengah. Hebatnya, di usia antara 5-15 tahun atau sebelum ke Makkah, beliau sudah terbiasa mengkaji kitab-kitab besar.

Sanad keilmuan Kiai Shaleh Darat tertulis dalam karangannya, Mursyîdul-Wajîz fi ‘Ilmil-Qur’ân al-‘Azîz. Dalam pengantar (muqaddimah) kitab, beliau menyebut pernah belajar ilmu alat (Nahwu-Sharraf) pada KH Ishaq Damaran; ilmu falak pada KH Abdillah Muhammad al-Hadi bin Baquni; mengaji Fathul-Qarîb, Fathul-Wahhâb, MinhâjulQawîm dan Syarhul-Khathîb pada KH Muhammad Syahid; Sittîna Mas’alah pada KH Abdul Ghani Bima; Jauharut-Tauhîd dan Minhâjul-‘Âbidîn pada Sayid Ahmad Bafaqih Ba’alawi; Tafsîrul-Jalâlain pada KHR Muhammad Shaleh bin Asnawi Kudus.

Semangat keilmuan Kiai Shaleh Darat makin terpacu tatkala diajak berhijrah ke Makkah (sekitar tahun 1835 M) oleh sang ayah. Yang tercatat, beliau pernah mengaji Ummul-Barâhîn pada Syekh Muhammad al-Muqri; Syarhul-Khathîb dan Alfiyah Ibnu Mâlik pada Syekh Sulaiman Hasbullah; Syarhul-Hikam pada Syekh Nahrawi al-Mishri; Ihyâ Ulûmiddîn pada Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Sayid Shaleh az-Zawawi; Fathul-Wahhâb pada Syekh Umar bin Barakat asySyami; Syarhut-Tahrîr pada Syekh Yusuf Sumbulawi al-Mishri.

Di Haramain, Kiai Shaleh Darat bermukim hingga tahun 1880 M, artinya kurang lebih 40 tahun beliau berada disana. Selain dengan ulama Arab, beliau juga akrab dengan ulama sesama Pulau Jawa, seperti Syekh Nawawi al-Banteni (w. 1897 M); Syekh Mahfudz at-Turmusi (w. 1920 M); Syekh Muhammad Amrullah, kakek Prof Dr Hamka (w. 1909 M); dan Syaichuna Muhammad Chalil bin Abdul Lathif, Bangkalan (w. 1923 M).

Dakwah Brilian

Satu mentode dakwah paling brilian yang diterapkan Kiai Shaleh Darat pasca kepulangannya ke tanah air ialah menulis beberapa risalah ilmu menggunakan aksara Arab Pegon. Sebenarnya, ada alasan kuat mengapa beliau menerapkan strategi dakwah bil-qalam bercorak demikian. Diantaranya, untuk memudahkan pembelajaran pada masyarakat awam yang lumrahnya tidak bisa membaca aksara Arab.

Intervensi Pemerintah Belanda pada masa itu juga keterlaluan. Pemerintah melarang keras penerjamahan alQuran ke dalam aksara Jawa dan Latin, sehingga menyulitkan pribumi Muslim belajar memaham agamanya sendiri. Dengan strategi penulisan ala Arab Pegon—yang bukan aksara Jawa atau Latin—Kiai Shaleh Darat tidak perlu khawatir diinterogasi pemerintah dalam menyebarkan ilmunya.

Kiai Shaleh Darat kemudian mempelopori tafsir al-Quran edisi Arab Pegon. Karya pertamanya berjudul Faidhur-Rahmân fi Tarjamati Tafsîri Kalâmil-Maliki ad-Dayyân (dari Surah al-Fatihah sampai Surah an-Nisa’). Dalam penulisan kitab ini, beliau merujuk pada Tafsîrul-Jalâlain, Tafsîrul-Kabîr, LubâbutTa’wîl hingga tafsir-nya Imam al-Ghazali. Dan masih banyak lagi karya-karya lainnya.

Konon, RA Kartini begitu senang belajar Islam dan menuliskan buah pemikirannya dalam buku fenomenal Habis Terang Terbitlah Terang (versi Belanda: Door Duisternis Tot Licht) karena terinspirasi oleh QS al-Baqarah [2]: 257, setelah intens mengkaji kitab tafsir karangan Kiai Shaleh Darat yang dihadiahkan saat resepsi pernikahannya.

Kiprah dan Pengabdian

Dakwah Kiai Shaleh Darat tidak hanya terpusat di Desa Darat, tapi merata ke seluruh wilayah Semarang. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, yang kebanyakan merupakan kediaman murid-murid beliau sendiri. Alasan inilah mengapa sosok Kiai Shaleh Darat begitu terkenal di wilayah pesisir utara Pulau Jawa.

Satu hal lagi yang luput dari pantauan para sejarawan, bahwa pesantren Kiai Shaleh Darat kala itu menjadi tempat transit para pelajar yang hendak melanjutkan studi pendidikannya ke Haramain. Selain juga untuk mengasah kemampuan berbahasa Arab dan pemahaman ilmu, sehingga sudah tertempa sejak sebelum berangkat.

KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Dahlan Termas (adik kandung Syekh Mahfudz at-Turmusi), KH Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) dan KH Nahrawi Dalhar (Watucongol, Muntilan) adalah sebagian di antara nama-nama ulama besar yang berhasil di gembleng oleh tangan barakah Kiai Shaleh Darat sebelum diberangkatkan ke tanah suci.