“Dia adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah siang malam dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam belajar ilmu pasti seperti ilmu hitung, aljabar, perbandingan, tehnik, astronomi, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, dia dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu dengan otodidak.”

Syekh Umar Abdul Jabbar dalam karyanya, Siyar wat Tarâjim, hal. 38-39

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafii pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Beliau memiliki peranan penting di Makkah alMukarramah dan di sana menjadi guru para ulama Indonesia.

Banyak sekali murid beliau yang diajarkan fikih Syafii. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka, Syekh Muhammad Jamil Jambek (Bukittinggi), Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Bukittinggi), Syekh Khatib Ali (Padang), Syekh Mustafa Husein (Purba Baru, Mandailing) dan Syekh Hasan Maksum (Medan), Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari, Mufti Kerajaan Indragiri yang juga termasuk murid Syekh Ahmad Khatib.

KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan bin Abu Bakar, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga berguru dan banyak dipengaruhi oleh sikap ulama yang dikenal menguasai berbagai disiplin ilmu, di antaranya fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu geometri tersebut.

Masa-masa Belajar

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif alMinangkabawi. Lahir di Koto Tuo, Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzul Hijah 1276 H (1860 M) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadal Ula 1334 H (1916 M).

Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, mulai pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweekschool dan tamat tahun 1871 M. Selain belajar di sekolah yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syekh Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal al-Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ayahnya kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan al-Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Makkah, terutama yang mengajar di Masjid alHaram.

Di antara guru-guru Syekh Ahmad Khatib di Makkah adalah Sayid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha alMakki asy-Syafii (1259-1330 H), Sayid Bakri bin Muhammad Zainul Abidin Syatha Ad-Dimyathi al-Makki asySyafii (1266-1310 H) –Penulis I’anatuth Thalibin, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304 H) – Mufti Mazhab Syafii di Makkah, dan Muhammad Shalih alKurdi yang kemudian menjadi mertua beliau.

Syekh Ahmad Khatib dan Tarekat

Syekh Ahmad Khatib memang menulis kritik yang bersifat keras terhadap tarekat Naqsyabandiyah, paling tidak dalam tiga risalah. Risalah pertama berjudul Izhhâr Zaghlîl Kâdzibîn fi-Tasyabbuhihim bish-Shâdiqîn yang merupakan jawaban Syekh Ahmad Khatib terhadap pertanyaan Dr. Abdullah Ahmad (Pendiri Adabiyah School) mengenai beberapa amalan tarekat Naqsyabandiyah dan terbit tahun 1906. Risalah kedua, al-Ayâtul Bayyinât lil-Munshifîn fi-Izâlati Khurafât Ba’dhil Muta’asshibîn, merupakan bantahan terhadap risalah Irghâm Unûfil Muta’annitîn karya Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka yang mempertahankan tarekat Naqsyabandiyah. Dan risalah ketiga berjudul as-Saiful Battâr fi Mahqi Ba’dhi Kalimâti Ahlil Ightirâr yang merupakan bantahan terhadap surat Syekh Abdullah al-Khalidi Batusangkar. Ketiga risalah ini sering disebut sebagai penolakan keras Syekh Ahmad Khatib terhadap tarekat Naqsyabandiyah.

Bila dilihat lebih cermat, ternyata konten karangan Syekh Ahmad Khatib tidak mutlak menolak tarekat. Dalam risalah Izhhâr Zaghlîl Kâdzibîn, beliau hanya mengkritisi lima hal dalam tarekat Naqsyabandiyah, yaitu masalah Rabithah, Suluk 40 hari, Zikir Latha’if, makan daging, dan silsilah. Sedangkan pada mukaddimah risalahnya tersebut beliau menjelaskan syarat dan rukun tarekat yang dikutipnya dari Jami’ Ushulil Auliya’ karangan Syekh Ahmad al-Khumuskhanawi, tokoh tarekat Naqsyabandiyah di Timur Tengah.

Oleh sebab itu, dalam membantah Izhhâr Zaghlîl Kâdzibîn, Syekh Sa’ad al-Khalidi Mungka hanya menfokuskan diri mempertahankan amal Rabithah dalam karya bandingannya. Bahkan Syekh Sa’ad Mungka berterima kasih kepada Syekh Ahmad Khatib dengan menulis: “… maka hamba peroleh padanya beberapa pengajaran dan nasehat bagi ikhwan yang awam …. maka semuanya itu hamba terima dengan syukur.”

Penilaian lebih jelas diberikan oleh Syekh Muhammad Khatib Ali Padang, murid Syekh Ahmad Khatib sendiri. Dalam risalahnya yang berjudul Miftâhus Shâdiqiyyah fi-Ishthilâhin Naqsyabandiyah, dia menjelaskan bahwa kitab Izhhâr-nya Syekh Ahmad Khatib adalah kritik terhadap guruguru tarekat yang menyalahi prinsip bertarekat, bukan menolak tarekat. Hal itu diperkuat oleh keterangan Syekh Ahmad Khatib dalam kitabnya yang lain, seperti al-Fathul Mubîn, di mana beliau membuat satu bab khusus mengenai tasawuf dan tarekat. Dalam bab itu beliau menjelaskan tata cara talqin dan baiat dalam tarekat serta metode-metode zikir.

Anti Ibnu Taimiyah yang Anti Taklid

Syekh Ahmad Khatib, selain menjadi imam dan khatib dalam mazhab Syafii, beliau juga mengajar salah satu halaqah di Masjidil Haram. Jabatan yang diembannya menunjukkan bahwa ia ialah tokoh ulama bermazhab Syafii sejati. Kitab yang diajarnya, I’ânatuth Thâlibîn yang dikarang gurunya Sayid Bakri Syatha, mencerminkan hal tersebut. Beliau dapat dikatakan berjasa memperkenalkan I’ânatuth Thâlibîn sebagai referensi mutakhir dalam Fiqh Syafiiyah kepada muridmuridnya yang berasal dari Nusantara sehingga kitab ini menjadi populer di berbagai Madrasah dan Pesantren.

Cerminan sikapnya yang kuat dalam Mazhab Syafii tercermin dalam risalahnya yang berjudul al-Khutthatul Mardhiyah. Risalah ini semacam bantahan dan teguran yang keras kepada muridnya, Syekh Abdul Karim Amrullah, yang terpengaruh dengan pemikirannya Ibnu Taymiyah dan Ibnul Qayyim. Haji Rasul adalah tokoh utama kalangan kaum muda yang secara terang-terangan membantah beberapa masalah furu’ Fiqh Syafiiyah dengan mengandalkan karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Syekh Ahmad Khatib dengan keras menyatakan bahwa bertaklid kepada salah satu empat Mazhab adalah jalan satu-satunya bagi seseorang yang tidak mampu berijtihad.

Dengan demikian, Syekh Ahmad Khatib tidak mengajarkan muridnya terlepas dari Mazhab Syafii, atau lainnya. Ketimpangan murid-muridnya yang tergolong Kaum Muda tak lebih dari akibat membaca kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

Muntahal Hadi/sidogiri