ISLAM adalah agama terbesar kedua di India, setelah Hindu. Umat Islam berjumlah sekitar 13,4% dari total penduduk negeri ini (atau 160,9 juta menurut estimasi tahun 2009). Dengan jumlah ini, India merupakan negeri dengan populasi Muslim terbesar ketiga di dunia setelah Indonesia dan Pakistan. Meski jumlahnya besar, tapi umat Islam adalah minoritas di negeri Bollywood, yang total penduduknya mencapai 1,385 miliar jiwa.
Di kawasan anak benua India yang mencakup India, Pakistan, dan Bangladesh, jumlah umat Islam menyentuh angka 500 juta, menjadikannya kawasan dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Proses Islamisasi India terjadi dalam tiga tahap: pertama dibawa orang Arab pada abad ke-8 M; kedua disebarkan orang Turk pada abad ke- 12 M; dan gelombang ketiga dibawa orang Afghanistan pada abad ke-16 M.
Islamisasi India jauh lebih akhir di banding kawasan Pakistan yang sudah disentuh oleh misi pembebasan pasukan Bashrah pada masa Khalifah Utsman yang mencapai Mukran bagian timur (sekarang Balochistan, Pakistan bagian barat), atau pun kawasan Sindu (Pakistan bagian timur) yang sudah ditaklukkan pada masa Daulah Umayyah berkat jasa gubernur Muhamad bin Qasim ats-Tsaqafi.
Selain teori mengenai tiga tahap masuknya Islam ke India, ada versi lain yang menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke India pada masa Rasulullah. Teori ini semakin populer karena didukung data-data lain yang mengklaim ada beberapa shahabat Nabi yang berasal dari India. Namun setelah ditelusuri, klaim tersebut sangat lemah dan ditolak oleh para sejarawan.
Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa para pedagang Muslim sangat mungkin sudah menjangkau anak benua India pada masa hidup Rasulullah. Sebab, sebelum Islam datang, para pedagang Arab dan India telah lama berkongsi. Pendapat ini diungkapkan H.M. Elliot dan John Dowson dalam buku The History of India, as Told by Its Own Historians (terbit pertama 1867). Menurut keduanya, kapal pertama yang yang mengangkut para penjelajah dan pedagang Muslim sudah tiba di pantai India pada tahun 630 M. Setidaknya ada tiga tokoh yang sering diklaim sebagai shahabat Nabi. Berikut kami sajikan ulasannya.
|BACA JUGA : SYEKH IHSAN JAMPES : ALGHAZALI KECIL NUSANTARA
Pertama, Baba Ratan al-Hindi, seorang pedagang dari Batinda, Punjab. Tokoh yang meninggal tahun 632 H ini memang mengaku sendiri sebagai shahabat Nabi. Pengakuannya lantas direspon oleh beberapa ulama. Sebagian ulama membongkar kebohongan-kebohongan yang dilontarkan oleh Ratan melalu karya tulis.Syamsuddin adz-Dzahabi termasuk yang paling getol mengkritik Ratan. Dalam Mizanul-I’tidah beliau berkata, “Ratan al-Hindi. Tahukah engkau siapa itu Ratan? Si tua Dajjal, tidak diragukan lagi. Muncul setelah tahun 600 H lalu mengaku-ngaku sebagai shahabat, padahal para shahabat tidak pernah berbohong. Dia telah lancang kepada Allah dan rasulnya. Aku menyusun satu jilid buku, khusus untuk mengulas tentang dia.”
Kedua, Raja Sarbatak. Cerita tentang tokoh ini berasal dari Ishaq bin Ibrahim atThusi (564-655 H) dan dicantumkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah dan Ibnul Atsir dalam Usdul Ghabah. Ishaq bin Ibrahim bertemu dengan Sarbatak di Kannauj, provinsi Uttar Pradesh. Kepada Ishaq, Sarbatak mengaku telah berusia 725 tahun. Sarbatak menyatakan masuk Islam atas ajakan Usamah bin Zaid dan Shuhaib bin Sinan yang diutus oleh Rasulullah kepadanya.
Pengakuan Sarbatak meragukan dalam banyak hal. Di antaranya, delegasi Rasulullah kepada raja-raja di luar Hijaz (tahun 7 sampai 10 H) paling jauh hanya ke imperium Persia yang lokasinya di Irak. Tidak ada catatan mengenai delegasi yang diutus ke arah timur melintasi Irak, yaitu Faris (Iran bagian barat), Khurasan, Pakistan, apalagi sampai ke India. Di samping itu, Shuhaib bin Sinan termasuk shahabat yang senantiasa menyertai Rasulullah dalam seluruh peristiwa penting (syahida al-masyahid kullaha). Jika benar Shuhaib pernah diutus ke India, kemungkinan besar ada peristiwa penting yang beliau lewatkan. Dalam Tajridu Asma’ish-Shahabah, adz-Dzahabi menyatakan, “Kisah ini merupakan kebohongan nyata.”
Ketiga, Chakrawati Farmas atau Cheraman Perumal, seorang raja kerajaan Chera di Kerala, pesisir barat daya semenanjung India. Beberapa sumber klasik menyatakan bahwa salah seorang raja di India menyaksikan mukjizat terbelahnya bulan. Hal ini kemudian mendorongnya untuk berkunjung ke Madinah dan masuk Islam di hadapan Rasulullah. Selain itu, sang raja menghadiahkan jahe kepada Baginda Rasul, yang kemudian dibagi-bagikan kepada para shahabat. Di antara data-data di atas, hanya satu yang memiliki sumber otentik, yaitu tentang jahe sebagai kiriman hadiah dari raja India, bukan hadiah yang dibawa dalam acara kunjungan. Riwayatnya ditulis oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak alash-Shahihain.
|BACA JUGA : RAHASIA BERDOA PADA ALLAH
Meski demikian, riwayat ini munkar karena beberapa perawinya sangat dhaif menurut para kritikus hadis. Salah satu perawinya, yaitu Amr bin Hakkam didhaifkan oleh Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari, dan Ibnu Adi. Kalau pun benar ada seorang raja yang mengirimkan hadiah jahe ke Yatsrib, hal itu tidak memastikan keislaman raja tersebut, apalagi menetapkan statusnya sebagai shahabat.
Cerita mengenai Chakrawati tidak berhenti sampai di situ. Masih menurut kisah yang berasal dari sumber-sumber klasik India, sang raja lalu pulang ke Kerala dan mengajak serta 20 orang shahabat Nabi untuk kepentingan dakwah. Salah satunya bernama Malik bin Dinar. Dalam pejalanan pulang, sang raja meninggal dan dikuburkan di Oman. Sebelum wafat, dia menulis surat untuk raja raja di Malabar, menyeru agar mereka menerima 20 shahabat dari Madinah dan membantu mereka membangun masjid di Kodungallur dan tempat-tempat lain.
Maka dibangunlah sebuah masjid yang diklaim sebagai masjid tertua di India. Konon masjid itu dibangun tahun 629 H atau 3 tahun sebelum Rasulullah wafat. Tidak hanya itu, masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Cheraman Juma di Kodungallur, distrik Thrissur, negara bagian Kerala itu diyakini sebagai masjid kedua di dunia yang mengadakan shalat Jumat, setelah Masjid Nabawi di Madinah. Satu klaim yang sangat sulit dipercaya.
Semua kisah mengenai masjid maupun rombongan shahabat sebagai juru dakwah di India tidak memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Eksistensi sosok Chakrawati Farmas atau Cheraman Perumal sendiri ditolak oleh banyak sejarawan. Salah satu sejarawan Kerala, Prof. A. Sreedhara Menon menyimpulkan bahwa sosok raja itu hanyalah mitos belaka. Sebaliknya, William Logan (1841-1914), seorang penulis Skotlandia dan pejabat Inggris pada masa pendudukan di India, percaya dengan kisah Cheraman, namun dia mengganti tahun kunjungan Cheraman ke Madinah, bukan tahun 625 M, melainkan 825 M. Artinya, Logan tetap menolak asumsi bahwa Cheraman adalah shahabat Nabi.
Adapun Malik bin Dinar, beliau masyhur dalam buku-buku thabaqat sebagai tabiin yang lahir pada pertengahan abad pertama dan wafat tahun 127 H. Jauh setelah masa kenabian. Wallahu a’lam.




