Adalah fitrah setiap manusia, lahir ke dunia disertai dengan sejuta keinginan dan harapan. Baik keinginan dan harapan itu berkaitan dengan urusan dunia ataupun urusan akhirat. Yang membedakan antara orang beriman dengan lainnya, adalah kepada siapa mereka menitipkan keinginan dan setiap harapan. Ada yang menitipkan keinginan dan harapannya kepada makhluk; baik usaha sendiri, orang lain, bahkan terkadang pada jin dan setan. Adapun orang beriman telah mengetahui jalan terbaik meminta agar setiap keinginan dan harapan terkabulkan.
Allah berfirman di dalam surah al-Baqarah ayat 186: “وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”
“Saat lisanmu digerakkan untuk meminta pada Allah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia hendak memberimu.”
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
Karenanya, tidak semua manusia ditakdirkan menggerakkan bibirnya untuk meminta kepada Allah. Banyak di antara mereka yang hatinya keras dan enggan untuk berdoa. Ada yang tidak keras hati tapi lupa untuk berdoa. Ada yang tidak lupa tapi tidak sempat untuk sekadar memanggil nama Allah. Ada yang sempat tapi tidak punya kemampuan untuk berdoa meski di dalam hati. Ada saja penghalang bagi orang-orang yang tidak dikehendaki oleh Allah, sehingga tidak ada rapal-rapal doa yang diterbangkan untuk mengetuk pintu langit.
Biasanya, orang-orang yang enggan berdoa kepada Allah ini tidak lepas karena dua alasan. Pertama, karena dia memang ingkar dan tidak percaya bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang mengabulkan semua hajat, keinginan, dan harapan hambanya. Kedua, karena dia lupa kepada Allah yang telah memberikan semua kenikmatan yang dirasakan. Dia terlalu nyaman dengan semua kenikmatan yang diperoleh, sehingga membuatnya alpa bahwa semua itu adalah anugerah Allah. Dia merasa bahwa semua yang dimiliki adalah hasil kerja keras sendiri, tanpa melibatkan Allah di dalamnya.
Untuk alasan yang kedua, biasanya dia akan kembali insaf apabila mendapatkan musibah besar dari Allah. Yang awalnya kaya, tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin. Atau yang awalnya sehat bugar tiba-tiba jatuh sakit dan tak berdaya. Dengan musibah semacam ini, biasanya seseorang yang lupa akan sadar dan kembali mendekat kepada Allah.
Adapun model yang pertama, yang memang ingkar kepada Allah, maka sulit untuk mengingatkan agar kembali pada jalan yang benar. Karena yang diingkari adalah Dzat yang menciptakan alam semesta. Kecuali Allah kembali membawanya pada pintu hidayah.
Dengan demikian, saat kita ditakdirkan oleh Allah untuk berdoa – terlepas doa kita khusyu’ atau tidak, ikhlas atau tidak – maka kita sudah mendapatkan satu anugerah besar; yaitu kita tidak termasuk orang yang ingkar kepada Allah atau orang yang lupa kepada-Nya. Karena ternyata kita masih mau menengadahkan kedua tangan, lalu meringkuk rendah di hadapan Dzat yang Maha Tinggi. Terlepas pula nanti doa kita akan diterima oleh Allah atau tidak.
Maka sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah, bahwa ketika lisan sudah digerakkan oleh Allah untuk berdoa, maka di sana ada indikasi kuat bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada kita, menerima permintaan kita, dan mengabulkan doa-doa kita. Hal ini selaras dengan janji Allah di dalam surah al-Ghafir ayat 60: “وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku mengabulkan bagimu.”
Bila kita tahu bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Kuat, sedangkan kita adalah makhluk yang maha lemah dan terbatas, mengapa kita masih tenang ketika meninggalkan doa kepada Allah. Padahal ancaman dan makar Allah bisa datang di mana saja dan kapan saja.
Maka belajarlah berdoa kepada Allah dengan cara yang anggun. Salah satunya sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Ghunyatul Thalibin, bahwa ada 4 etika ketika seorang hamba berdoa kepada Allah. Pertama, dengan membentangkan kedua telapak tangan pada saat berdoa, seperti orang yang sedang memohon atau meminta. Kedua, mengawali doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat pada Rasulullah. Ketiga, menyampaikan keinginan dan harapan kita dengan khusyu’ dan tawadhu’. Keempat, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Dengan tatakrama yang baik, insyaallah doa-doa kita tidak akan menguap begitu saja. Allah telah menyiapkan jawaban terindah dalam setiap doa kita. Jawaban itu akan datang pada saat terbaik dan dalam kondisi terbaik pula. Tinggal kita perlu tetap bersabar dalam berdoa dan sabar dalam menunggu jawaban. Insyaallah, semua akan indah pada waktunya. Amin…




