Sebagaimana maklum, dalam madzhab Syafi ’i jumlah jamaah dalam shalat Jumat harus mencapai 40 orang lakilaki yang bermukim tetap (mustawthin) di sebuah perkampungan (abniya’) dan semuanya mukallaf. Kententuan ini terkadang sulit dipenuhi di sebagian daerah, karena di antara warganya banyak yang merantau, sehingga ketika pelaksanaan shalat Jumat dilakukan jamaah kurang dari 40 orang. Apakah masih berkewajiban melaksanakan shalat Jumat, ketika warga desa kurang dari 40 orang?

Sebelumnya, kita runut dari sumber dalil, kenapa dalam madzhab Syafi ’i mensyaratkan harus 40 orang? Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadis riwayat Imam al-Baihaqi, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shalat Jumat di Madinah dengan jumlah peserta 40 orang.

Imam Syafi ’i, sebagaimana dikutip oleh al-Baihaqi dalam Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsar, juga menyebutkan bahwa penduduk antara Syam dan Mekah tidak mendirikan shalat Jumat kecuali ketika laki-lakinya sudah mencapai 40 orang. Dikutip pula, dalam surat Umar bin Abdul Aziz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menyebut, “Jika penduduk kota sudah mencapai 40 orang maka dirikan shalat Jum’at.” Hanya bedanya, apakah 40 orang ini termasuk imam atau tidak.

Dalam pandangan Syafi ’iyah, tidak hanya harus berjumlah 40 orang yang menjadi syarat dalam pelaksanaan shalat Jumat, tapi ada ketentuan bahwa keempat puluh orang ini harus sudah berada di tempat sejak khutbah pertama berlangsung. Jika satu saja keluar, maka syarat sah pelaksanaan shalat Jumat tidak terpenuhi, sebab didengarnya khutbah oleh minimal 40 orang adalah bagian dari rukun shalat jumat dalam pandangan mereka.

Selebihnya, 40 jamaah jumat ini juga harus memenuhi beberapa syarat dan ketentuan pelaksanaan shalat Jumat, yang juga diharuskan dalam shalat fardhu yang lain. Artinya, semuanya terbilang sah, semisal sudah mukallaf dan syarat serta rukun shalat sah sesuai ketentuan dalam shalat seperti biasanya. Jika syarat ini tidak terpenuhi maka pelaksanaan shalat Jumat tidak sah, dan diubah menjadi shalat Zhuhur.

Namun kemudian, juga ditemukan beberapa dalil yang mengarah pada jumlah selain 40, bahkan ada yang menyebut angka di atas itu, yaitu 50 orang. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ad-Daruquthni (Sunan 2: 111) yang menyebutkan, “Diwajibkan Jum’at pada lima puluh orang dan tidak diwajibkan jika kurang dari itu.”

Hanya kemudian, banyak menilainya lemah. Hal inilah yang kemudian melahirkan perbedaan pandang di tengah ulama, soal berapa jumlah pasti keabsahan shalat Jumat dilaksanakan. Sebagaimana dikutip oleh penulis kitab Bughiyah al-Mustarsyidin perincian Ibn Hajar al-‘Asqalani yang menyebut 15 ulama mengenai bilangan jamaah yang menjadi syarat shalat Jumat. Berikut 15 pendapat tersebut:

Terdapat beberapa alasan dari beberapa pandangan di atas. Pertama, shalat Jumat tidak jauh berbeda dengan shalat berjamaah lainnya, sehingga boleh dilaksanakan oleh dua orang. Bedanya, dalam pelaksanaan shalat Jumat ada khuthbah sebelum shalat. Ini merupakan pandangan dari kalangan madzhab Zhahiri dan an-Nakha’i. Ada juga yang menilai karena ada khuthbah maka minimal 3 orang jamaah Jumat, sebagaimana pandangan Imam al-Auza’i dan Abu Yusuf.

Berjumlah 40 orang dalam dalam shalat Jumat ini juga bukan pandangan sepakat dari Syafi ’iyah. Sebagian ulama Syafi iyah ada yang sejalan dengan pandangan al-Laits, ats-Tsauri, yang menyatakan bahwa shalat Jumat bisa didirikan oleh sejumlah 4 orang. Al-Muzanni dan beberapa ulama dari Syafi ’iyah memiliki pandangan sedemikian. Ini memang pendapat pertama dari Imam Syafi ’i sendiri. Bahkan, as-Suyuthi sendiri menyatakan pendapat ini lebih unggul dari pendapat kedua, dan beliau memilih pendapat yang menyatakan cukup 4 orang ini.

Dalam hal ini, Imam as-Suyuthi dan beberapa ulama kalangan Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam pelaksanaan shalat Jumat ini tidak ditemukan dalil konkret dalam hitungan khusus. Jika sudah demikian, sementara umat telah ijma’ bahwa shalat Jumat adalah bagian dari Fardhu ‘Ain, maka secara lahir mestinya ketika di suatu perkampungan kurang dari 40 orang dan tidak mungkin pergi ke tempat yang sempurna pelaksaannya, tentunya shalat Jumat harus dilaksanakan, dengan mengikuti pendapat pertama, yaitu boleh dilaksanakan oleh 4 orang.

Hal inilah yang dipilih dan diamalkan oleh al-‘Allamah Ahmad bin Zaid al-Habsyi. Hanya saja, umpama shalat Jumat dilaksanakan pada akhir waktu jamaah Jumat bisa mencapai 40 orang maka wajib mengakhirkan shalat. Akhir waktu maksudnya yang sekiranya cukup untuk khuthbah dan shalat.

Dengan demikian, jumlah 40 orang dalam hitungan jamaah Jumat tidak menjadi konsensus ulama. Ini menjadi alternatif pendapat ketika kondisi suatu daerah yang memang kekurangan jamaah yang memenuhi syarat pelaksanaan. Terlebih lagi, dalam pandangan salah satu ulama Syafi’iiyah yang mencukupkan pelaksanaan shalat Jumat oleh 4 orang, sehingga tidak terjebak talfiq dalam bermadzhab. Meski ada pandangan ketika syarat dan ketentuan shalat Jumat tidak terpenuhi, menganjurkan shalat Zhuhur setelahnya dalam rangka kehati-hatian (ikhtiyath). Wallahu a’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri