Puasa Ramadan adalah bagian dari ajaran pokok (rukun) dalam Islam. Ketika seseorang mengikrarkan diri sebagai Muslim dengan membaca dua kalimat syahadat, tentunya dia juga siap mengerjakan apa yang terangkai dalam rukun Islam selanjutnya, termasuk shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadan.

Akan tetapi, ada beberapa persoalan ketika ibadah puasa sulit dilaksanakan karena terbentur dengan kondisi dan keadaan, sebagaimana profesi sopir yang pastinya selalu melakukan perjalanan. Termasuk juga para petani yang harus memanen tanamannya di musim panen bertepatan dengan bulan P Ramadan. Bagaimana fikih memandang hal ini?

Sebagai sebuah ibadah yang diperintahkan, puasa tidak begitu kaku dalam pelaksanaanya. Terbukti dalam kondisi tertentu yang memungkinkan untuk tidak mengerjakannya, syariat memberikan peluang untuk tidak berpuasa, seperti dalam kondisi sakit dan bepergian. Rukhshah atau dispensasi bisa berlaku pada kondisi demikian karena ketika terjadi kesulitan sebuah syariah dipermudah untuk menjalankannya.

Sebagaimana maklum, safar atau bepergian adalah di antara kondisi untuk diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Rukhshah (dispensasi syara’) berlaku pada musafir, karena kondisi ini memiliki resiko berupa kesulitan (masyaqqah) yang tentunya berpuasa akan menambah kesulitan. Akan tetapi, hal yang menjadi dilema adalah bagi sopir bus antar kabupaten atau propinsi yang memang kehidupannya di perjalanan. Apakah dia bisa mengambil dispensasi syara’ dengan tidak berpuasa mengingat dengan profesinya ia akan terus bepergian setiap harinya?

Pada dasarnya, ketika tidak merasa kesulitan (masyaqqah) dengan berpuasa, berpuasa bagi orang yang melakukan safar lebih baik daripada tidak berpuasa. Sebab, dengan berpuasa baginya akan membebaskan dari kewajiban untuk mengganti (qadha’) puasa. Tentu, meng-qadha’ akan terasa berat dilakukan, kecuali bagi orang yang kuat keimanannya. Meskipun demikian, rukhshah tetap boleh diambil sehingga boleh tidak berpuasa.

Namun, jika memang andaikan merasa kesulitan dengan berpuasa, semisal sakit berat yang sulit ditahan, tidak berpuasa tentu lebih baik. Bahkan, jika kemudian dengan berpuasa akan merusak fungsi anggota tubuh, tidak berpuasa menjadi wajib dan justru berpuasa tergolong tindakan dosa atau maksiat, meski terbilang sah dan cukup sebagai kewajiban ketika berpuasa.

Hukum asal dalam masalah bepergian memang demikian. Akan tetapi, berkaitan dengan sopir bus yang selalu bepergian ini, menurut pendapat yang mu’tamad (kuat) tidak diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Alasannya, karena dengan tidak berpuasa akan menyebabkan kekosongan puasa dengan meninggalkan puasa selama-lamanya, kecuali memang ada niat untuk mengganti (qadha’) puasa. Berbeda dengan pendapat Ibn Hajar yang menyatakan boleh membatalkan puasa secara mutlak selama dalam bepergian. Artinya, selama masih kategori dalam perjalanan sopir bus boleh tidak puasa.

Senada dengan sopir bus dalam hal merasa kesulitan dalam menjalankan puasa adalah petani yang waktu panennya bersamaan dengan bulan puasa. Dalam kondisi tertentu, dalam pertanian memang mengharuskan segera dipanen. Semisal padi yang terkena banjir yang jika dibiarkan dalam dalam waktu lama akan menyebabkan banyak kerugian. Menjadi dilema ketika hal itu terjadi pada bulan puasa. Puasa sambil memanen akan merasa masyaqqah tentunya.
Hukum dasar bagi petani, tidak boleh meninggalkan puasa. Akan tetapi, jika memenuhi syarat berikut, mereka boleh tidak berpuasa:

1) Kondisi tidak memungkinkan untuk menunda pemanenan hingga bulan Syawal, selepas Ramadan. Justru ketika ditunda akan merusak hasil panen, atau bisa merusak harga karena hasil kualitasnya buruk.

2) Sulit untuk memanen waktu malam hari, atau waktu tidak cukup jika hanya memanen pada malam hari yang kemudian menundanya akan menyebabkan kerusakan atau dapat mengurangi harga hasil panen, meskipun tidak sampai rugi.

3) Mengalami masyaqqah jika memanen sambil puasa yang umumnya sulit ditahan. Batasan masyaqqah, kesulitan sampai pada taraf diperbolehkan melakukan tayamum atau diperbolehkan duduk dalam melakukan shalat fardhu. Hal ini berbeda dengan pendapat Ibn Hajar yang tidak memberikan batasan.

4) Pada malam harinya ia tetap niat melakukan puasa besok siangnya, termasuk berpuasa pada pagi harinya. Artinya, ia tidak boleh membatalkan puasanya sejak fajar hingga ia betulbetul mengalami udzur (alasan) untuk tidak melanjutkan puasanya.

5) Saat membatalkan puasa pada siang hari, petani wajib niat mengambil rukhshah (kemurahan) tidak berpuasa. Hal ini untuk membedakan antara yang tidak berpuasa yang diperbolehkan dengan lainnya. Kondisi ini sama dengan orang yang tidak berpuasa karena sakit. Saat ini ia tidak berpuasa karena sakitnya, ia wajib niat untuk mengambil rukhshah atau kemurahan syara’ yang diberikan.

6) Tidak bertujuan bahwa rasa payah dan kesulitan saat pemanenan sebagai langkah untuk mendapat rukhshah. Jika kepayahan bekerja menjadi tujuan untuk mendapat kemurahan tidak berpuasa maka tidak boleh meninggalkan puasa. Hal ini sama dengan orang yang melakukan safar. Jika dengan safar bertujuan agar mendapat kemurahan tidak berpuasa maka tidak boleh meninggalkan puasa.

Keenam catatan ini adalah untuk mendapatkan rukhshah atau keringanan untuk tidak berpuasa. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Meninggalkan puasa ketika salah satu syarat tidak terpenuhi, tidak berpuasa adalah doa. Terlebih tidak memiliki alasan sama sekali.

Hukum yang sama dengan petani berlaku pada pekerja berat dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra, seperti kuli bangunan. Baginya, hukum asal tetap tidak diperbolehkan meninggalkan puasa. Akan tetapi, ketika dengan puasa akan mengalami kondisi kesulitan (masyaqqah), juga diperkenankan untuk meninggalkan puasa dengan beberapa syarat sebagaimana bagi para petani. Tentunya, kondisi pekerjaan juga mempengaruhi, sebagaimana catatan di atas.

Dalam hal ini, baik pemanenan hasil cocok tanam atau pekerjaan berat yang membutuhkan tenaga ekstra, tidak harus berupa pekerjaan sendiri. Kemurahan untuk tidak berpuasa tetap didapat, meski sebenarnya untuk pekerjaan dimaksud bisa diganti oleh orang lain atau bukan milik dirinya yang harus dikerjakan.

Dengan demikian, puasa Ramadan menjadi ibadah yang tetap wajib dijalankan, ketika tidak dalam kondisi udzur atau punya alasan. Udzur dimaksud tentunya yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan syara’, bukan dengan standar nafsu yang memang ingin tidak berpuasa. Ketika meninggalkan puasa karena udzur, meng-qadha’ sejumlah puasa yang ditinggalkan tetap menjadi sebuah keharusan seusai bulan Ramadan. Terlebih bagi yang tidak punya alasan untuk tidak berpuasa.

Akhiran, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah dan menjadi catatan amal baik kita. Amin.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri